Marry me, Brother

Marry me, Brother
Memaafkan atau tetap membenci



Setelah kepergian bu Sherly dan Naura, Ega jadi uring-uringan tidak jelas. Untung saja sudah tidak ada pasien lagi sehingga Ega izin untuk pulang lebih awal.


Ega memutuskan untuk pulang ke rumah bu Tika, di saat merasa sedih karena ulah ibu kandungnya ia sangat membutuhkan bu Tika untuk menenangkan hatinya. Sepanjang perjalanan menuju rumah ibunya, Ega hanya bisa mengumpat dan memaki wanita yang sudah tega membuangnya di pinggir jalan. Sesekali Ega memukul setir untuk melampiaskan amarahnya.


Setengah jam kemudian, Ega sudah berada di depan rumah bu Tika, rumah yang menjadi saksi bagaimana bu Tika menerimanya sebagai seorang anak, rumah yang tak pernah berubah sejak ia mulai tinggal di rumah tersebut dengan identitas baru yang di berikan oleh bu Tika dan suaminya.


Di rumah itulah Ega tumbuh dan besar dengan kasih sayang yang di berikan oleh bu Tika, tak sedikitpun wanita itu membeda-bedakannya dengan Indhi saat bocah itu akhirnya lahir ke dunia.


Ega mengetuk pintu rumah, beberapa saat kemudian pintu rumah terbuka dan menampilkan sosok yang juga berjasa dalam hidupnya. Bi Sumi, wanita yang tak lagi muda itu tersenyum lebar begitu melihat kedatangan Ega. Bi Sumi lalu mempersilahkan Ega masuk.


"Mas Ega sehat kan?" tanya bi Sumi masih dengan senyum di wajahnya.


"Ega sehat bi, bagaimana dengan bibi?"


"Bibi juga sehat mas. Ibu ada di kamar, bibi panggilkan sebentar ya."


"Tidak usah bi, biar Ega yang ke kamar ibu."


Ega segera pergi ke kamar ibunya, pria itu lalu mengetuk pintu beberapa kali. Saat pintu terbuka, Ega segera menghambur ke dalam pelukan ibunya sehingga membuat bu Tika terheran-heran. Meski tak tau alasan putranya tiba-tiba datang dan memeluknya, namun bu Tika tetap membalas pelukan Ega dengan hangat.


"Bu," ujar Ega dengan suara sedih.


Bu Tika mengurai pekukan sang putra, wanita itu lalu menatap wajah Ega. "Ada apa, mana istrimu?" tanyanya khawatir, ia takut jika mereka sedang bertengkar. "Ayo masuk," bu Tika menarik tangan Ega pelan dan membawanya masuk ke dalam kamar. Sesampainya di dalam kamar, Ega dan bu Tika duduk di tepi ranjang.


"Kenapa wajahmu sedih. Apa kalian bertengkar?" tanya bu Tika khawatir.


Ega menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak bu, kami baik-baik saja. Indhi masih di Rumah Sakit," jawab Ega pelan.


"Lalu apa yang membuatmu sedih?" bu Tika menatap lembut wajah Ega.


"Wanita itu datang lagi bu. Wanita itu kembali mengganggu hidupku. Bahkan dia juga menemui Indhi," jelas Ega mengobati rasa penasaran bu Tika.


"Apa dia meminta Ega untuk kembali?" tanya bu Tika dengan tangan gemetar.


Ega merubah posisi duduknya sehingga ia bisa melihat bu Tika dengan jelas, pria itu lalu meraih tangan bu Tika yang terasa dingin dan bergetar. "Dia bilang ingin dekat dengan Ega. Tapi Ega tidak mau bu, Ega tidak melihat penyesalan di mata wanuta itu. Bagi Ega, ibulah satu-satunya ibu yang Ega punya."


"Tapi nak, dia ibu yang sudah melahirkanmu," bu Tika mencoba bersikap bijak, ia tak boleh egois dan mementingkan perasaan sendiri.


"Tapi dia juga yang sudah membuang Ega bu."


"Nak, ibu juga tidak rela jika ada yang mengambilmu dari ibu. Tapi ibu tidak ingin kamu terjebak di masa lalu. Ibu ingin kamu memaafkan wanita itu. Lepaskan amarahmu, lepaskan segala bentuk rasa sakit di masa lalu. Ibu ingin kamu bahagia tanpa di bayang-bayangi masa lalu yang menyakitkan."


Ega menunduk lesu, apa yang di katakan bu Tika benar adanya. Ia memang ingin hidup bahagia bersama Indhi tanpa bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan. Namun tidak semudah itu untuk melupakan rasa sakit yang di torehkan oleh ibu kandungnya. Teriakan histeris saat ia mencari ibunya masih terekam jelas di memorinya.


"Ega belum bisa menghilangkan rasa sakit ini bu," jujur Ega, tanpa ia sadari buliran bening menetes di pipinya.


"Perlahan nak. Lakukan perlahan. Kamu hanya perlu memaafkan dan melupakan masa lalu."


Air mata semakin deras membasahi wajah tampannya, Ega seperti berperang dengan pikirannya sendiri, jauh di dalam hatinya ia ingin hidup damai tanpa menyimpan dendam, namum kepingan memori di kepalanya membuat ia sukar melupakan masa lalu yang sangat menyedihkan.


Bu Tika hanya bisa memeluk Ega dan memberi dukungan, keputusan apapun yang akan Ega ambil nantinya, bu Tika pasti akan mendukungnya. Ia tak bisa memaksa Ega untuk memaafkan ibu kandungnya karena ia sendiri tidak tau seberapa parah luka yang di derita oleh putranya.


Setelah melepaskan semua kemarahan lewat air mata, Ega kembali memeluk bu Tika. Seolah pria itu seorang anak kecil yang baru saja bertengkar dengan teman-temannya. "Terima kasih bu, ibu selalu menjadi tempat ternyaman setelah Indhi."


"Jadi ibu bukan yang nomor satu?" kelakar bu Tika menggoda putranya.


"Indhi tetap nomor satu di hatiku," sahut Ega sambil tersenyum.


"Oh tidak, ibu kalah saing dari Indhi. Ibu tidak terima," kata bu Tika mendramatisir, wanita itu lalu tersenyum dan menepuk-nepuk punggung putranya. "Jangan menangis lagi, ibu tidak suka melihat kalian menangis. Bicarakan hal ini dengan istrimu, siapa tau dia bisa membantumu untuk mengambil keputusan. Ingat pesan ibu nak, sebenci dan semarah apapun kamu, wanita itu tetaplah ibumu, orang yang sudah melahirkanmu dengan mempertaruhkan nyawanya. Setidaknya ingat itu saat kamu akan memutuskan apakah kamu akan memaafkannya atau terus membencinya."


BERSAMBUNG...