Marry me, Brother

Marry me, Brother
Identitas sebenarnya



"Papah baik." jawab tuan Hendarwan pelan. "Vin, ada hal yang ingin papah katakan padamu."


"Katakan pah?" ucap Ega.


"Mah, tolong bangunkan Adit dan Dita," pinta tuan Hendarwan kepada istrinya, wanita itu mengangguk lalu menghampiri anak dan menantunya yang masih tidur.


"Dit, bangun," ujar mama Mayang seraya mengguncang tubuh Dokter Aditya.


Dokter Aditya membuka matanya karena kaget. "Kenapa mah?" tanyanya seraya megusap kedua matanya.


"Papah mau bicara. Bangunkan juga istrimu.!"


Semua orang kini sudah mengitari tempat tidur tuan Hendarwan, namun hanya Ega yang menjadi fokus pria yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur. Mereka bertanya-tanya, hal penting apa yang akan di sampaikan oleh tuan Hendarwan sehingga mengumpulkan mereka semua.


"Vin, apa kamu mengenal seseorang bernama Sherly?" tanya tuan Hendarwan membuka pembicaraannya.


Ega menelan salivanya dengan kasar, pria itu kembali mengingat wanita yang sudah menelantarkannya. "Kenapa papah menanyakan hal itu?"


"Apa kamu mengenalnya?" ulang tuan Hendarwan.


"Ya," jawab Ega singkat.


"Papah tau ini mungkin sulit untukmu, tapi papah harus mengatakannya sebelum terlambat," ujar tuan Hendarwan dan membuat semua orang bertanya-tanya.


"Apa yang sebenarnya akan papah katakan?" desak Dokter Aditya yang sejak tadi hampir mati berdiri saking penasarannya.


"Vin, maaf karena papah baru berani mengatakannya sekarang. Sebenarnya, Sherly adalah adik kandung papah, satu-satunya adik yang papah punya," ungkap tuan Hendarwan, pengakuannya tersebut tentu tak langsung di percayai oleh Ega.


"Haha, bercanda papah tidaklah lucu," sangkal Ega dengan cepat.


"Tapi papah mu serius Vin," sahut mama Mayang yang sejak tadi memilih diam.


"Mah, ini sama sekali tidak lucu," tegas Ega penuh penekanan, pria itu menatap wanita yang sudah di anggapnya sebagai keluarga.


"Jadi maksud kalian, Ega adalah keponakan kalian?" tanya bu Tika tak percaya.


"Benar bu," jawab mama Mayang.


"Sebentar, sebentar. Apa maksudnya semua ini?" sela Dokter Aditya yang tak tau apapun.


Tuan Hendarwan menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar, tatapannya fokus pada langit-langit kamar perawatannya.


"Berpuluh-puluh tahun yang lalu, Sherly adalah gadis yang sangat baik dan sangat pintar, dia bahkan mengikuti jejakku untuk belajar kedokteran. Sampai di saat Sherly mengenal seorang pria dan dia mulai jatuh cinta. Namun sayangnya cinta buta Sherly membuat gadis itu berubah. Nilai akademiknya semakin menurun dan Sherly berani membantah orang tua kami. Hingga sebulan sebelum kelulusannya, Sherly membawa pria itu ke rumah kami dan mengatakan jika dia tengah mengandung," tuan Hendarwan menjeda kalimatnya, pria itu menatap Ega dengan mata berkaca-kaca.


"Lalu apa yang terjadi?" tanya Indhi penasaran.


"Sepuluh tahun kemudian, ayahku meninggal dan ibuku sangat ingin bertemu dengan Sherly dan bocah laki-laki yang ia yakini sebagai cucunya. Berbagai cara telah kami lakukan untuk mencari keberadaan Sherly, namun saat kami menemukannya Sherly bukan lagi adikku yang aku kenal. Dia sudah menikah dengan pria lain. Saat aku menanyakan keberadaan putranya, Sherly mengatakan jika dia telah membuang putranya."


"Pencarian kami terus berlanjut dan kini kami mencari bocah laki-laki yang di telantarkan oleh Sherly. Kabar bahagia datang saat kami menemukan keberadaan bocah itu, namun saat kami datang dan ingin menjemputnya, kami merasa malu dan tidak pantas, sementara bocah laki-laki itu nampak begitu bahagia bersama keluarga barunya."


"Jadi sejak awal aku memang tidak di inginkan," ucap Ega pilu, meski bibirnya tersenyum namun hatinya hancur, masa lalu yang perlahan bisa ia lupakan harus kembali di korek yang menyisakan luka baru di hatinya.


"Maafkan papah Vin, papah tidak berdaya waktu itu. Papah tidak memiliki kekuasaan untuk melawan ayah papah. Papah sangat menyesalinya karena membuatmu terlantar."


Ega tersenyum, namun senyumannya penuh kepedihan. "Lalu kenapa anda menceritakannya sekarang? Kenapa anda tidak menyimpan rahasia ini untuk


selamanya? Kenapa anda harus menceritakan masa lalu yang sekuat tenaga aku lupakan?" Teriak Ega dengan rahang mengatup, urat-urat di lehernya cukup menjadi bukti jika pria itu tengah menahan amarahnya.


"Karena papah ingin meninggal dengan tenang. Papah juga ingin mengembalikan hak mu sebagai cucu keluarga Syahputra," jawab tuan Hendarwan.


"Maafkan saya tuan, tapi perlu anda ingat saya bukan bagian dari keluarga kalian!"


"Vin, kami tau kami sangat bersalah. Namun papah mu berusaha menebus semua kesalahannya dengan mendukungmu menjadi dokter yang hebat seperti sekarang ini," ungkap mama Mayang yang justru membuat Ega kebingungan.


"Mendukung? Apa maksudnya dengan mendukung saya?" tanya Ega dengan mata berkilat amarah.


"Papah diam-diam bekerja sama dengan pihak kampus untuk memberimu beasiswa sampai kamu lulus dan menjadi dokter. Lalu papah juga diam-diam merekomendasikanmu untuk mendapatkan beasiswa di luar negeri sehingga kamu menjadi Dokter Bedah yang hebat seperti sekarang ini?" jelas mama Mayang.


Seolah di taburi garam di atas lukanya yang belum mengering, begitulah yang Ega rasakan saat ini. Kerja kerasnya selama ini di anggapnya sia-sia setelah mendengar ungkapan mama Mayang.


"Jadi kalian maksud aku tidak akan menjadi seorang dokter jika bukan dari belas kasih kalian," tutur Ega dengan tangan mengepal.


"Bukan begitu maksud mama Vin,' sangkal mama Mayang dengan cepat.


"Jadi kalian ingin ganti rugi karena kalian berhasil menjadikan putraku sebagai seorang dokter? Katakan, berapa yang kalian habiskan untuk mendukung pendidikan putraku?" tantang bu Tika dengan geram.


"Bukan begitu maksud kami bu, saya hanya ingin menceritakannya sebelum terlambat," jawab tuan Hendarwan dengan wajah pias.


"Sayang, ibu, bawa aku keluar dari ruangan ini!" Ega menatap tuan Hendarwan beserta istrinya dan juga putra mereka. "Dan untuk kalian semua, saya tidak butuh dukungan apapun dari kalian. Anggap saja saya telah mati saat saya berusia 8 tahun."


Indhi mendorong kursi roda suaminya dan meninggalkan ruangan itu dengan cepat. Setibanya di dalam kamar perawatannya, Ega segera naik ke atas tempat tidur, ia lalu memejamkan matanya seolah-olah ia sedang tidur.


"Beri dia waktu nak," ucap bu Tika seraya memeluk tubuh putrinya


"Tapi aku sangat khawatir bu," sahut Indhi dengan wajah panik.


"Kamu sangat mengenal Ega, kamu tau jika suamimu adalah orang yang bijak. Mari tunggu sampai amarahnya mereda, setelah itu baru kita ajak bicara."


BERSAMBUNG...