
"Aku mau tidur," ujar Dita seraya memutar tubuhnya.
Pengaruh alkohol yang masih ada di tubuhnya membuat Dokter Aditya gelap mata, pria yang awalnya anti pati dengan gadis itupun kini mulai goyah imannya. Dalam hitungan kurang dari satu menit, pria itu sudah menjejali bibir Dita dengan bibirnya. Sama-sama masih dalam pengaruh alkohol membuat Dita sama sekali tak melawan, gadis itu beranggapan jika Ega yang tengah menciumnya sehingga ia membalasnya dengan ciuman yang lebih berani, bahkan kini kedua tangannya melingkar di leher Dokter Aditya.
Ciuman mereka terus berlanjut hingga keduanya berada di atas tempat tidur, Dokter Aditya mengungkung tubuh Dita yang hampir polos itu dan kembali menciumnya dengan sedikit kasar.
Hanya dalam satu tarikan, Dokter Adita berhasil menarik kedua penutup yang membungkus kedua aset milik Dita, pria itu membelalakan matanya melihat keindahan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tanpa ragu lagi, tangannya mulai memijat dua bola kenyal yang terlihat menantang itu. Suara kenikmatan yang Dita lenguhkan benar-benar membuat pria itu semakin terbakar.
Dalam sekali sentakan, Dokter Aditya berhasil mendapatkan sesuatu yang sangat berharga bagi seorang Dita, sebuah kesucian yang selama ini ia jaga terenggut oleh seorang dokter yang beberapa bulan terakhir menjadi musuh bebuyutannya.
Kedua anak manusia yang sedang melayang itu hanya bisa menikmati sebuah permainan haram yang tak seharusnya mereka lakukan. Keduanya saling mengecap, mencum*bu dan mende*sah menikmati ritme permainan yang semakin memanas.
Hingga lenguhan panjang keluar dari mulut Dokter Aditya menandakan permainan mereka telah usai, pria itu seketika ambruk di samping tubuh Dita dan memeluknya dengan erat hingga keduanya terlelap dalam keadaan saling memeluk.
Waktu terus berputar, malam kini berganti dengan pagi yang di iringi dengan nyanyian burung yang bersahut-sahutan. Kedua anak manusia yang masih terlelap mulai terusik dengan bunyi ponsel yang terus berdering. Sebuah tangan terulur mencari keberadaan ponsel yang terus berbunyi, namun tangannya tak meraih apapun hingga memaksanya untuk bangun.
Bukannya mendapati ponsel, pria itu begitu terkejut saat melihat seorang gadis tidur membelakanginya dengan punggung terbuka. Pria itu memijat pelipisnya dan mencoba mengingat-ingat apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Ini mimpi kan," gumamnya seraya menepuk kedua sisi wajahnya. "Astaga sakit, berarti ini bukan mimpi," imbuhnya dengan wajah terkejut.
"Excuse me, nona bangunlah!" Dokter Aditya menepuk lengan gadis yang sedang membelakanginya, entah apa yang terjadi semalam dan kini ia berniat untuk membicarakannya kepada gadis yang menurutnya orang asing itu. "Nona, bangun!" ulangnya lagi.
"Aku masih ngantuk," sahut gadis itu dengan suara serak, meski begitu gadis itu mulai membuka matanya. Berulang kali gadis itu mengerjapkan matanya saat melihat tempat yang sangat asing, belum lagi tubuhnya yang polos membuat gadis itu memberanikan diri mengintip ke dalam selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Dengan keberanian penuh, gadis itu berangsur bangun dan menarik selimut hingga menutupi dadanya, saat ia berbalik ia begitu terkejut melihat pria yang kini duduk di hadapannya.
"Kyaaaaa," teriak kedua anak manusia itu secara bersamaan. Kedua pupil mereka melebar sempurna saat melihat siapa yang menjadi teman tidur mereka.
"Dokter Aditya."
"Nona pelakor."
Ucap mereka secara bersamaan, tak lupa Dokter Aditya turut menarik selimut guna menutupi tubuh bagian bawahnya.
"Entahlah, aku juga tidak mengingat apapun," sahut Dokter Aditya seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kita pasti hanya tidur bersama, ya hanya tidur bersama," sangkal Dita pada pemikirannya sendiri, gadis itu lalu beranjak turun dari tempat tidur dan berniat mancari pakaiannya. "Auw," pekiknya saat ia merasakan sesuatu yang menyakitkan di bawah sana.
"Kenapa, ada apa?" tamya Dotker Aditya panik. Kepanikannya semakin menjadi saat ia melihat bercak darah di atas tempat tidurnya. "Nona perawat, darah," ujarnya seraya menunjuk noda merah di atas tempat tidurnya.
Sebagai seorang wanita dewasa dan seorang perawat, melihat bercak darah hingga nyeri di area sensitifnya tentu saja menyadarkan Dita apa yang telah di alaminya bersama Dokter Aditya. "Dok, kita tidak melakukannya kan?" tanyanya mencoba menyangkal apa yang terjadi di antara mereka.
"Aku tidak tau, aku tidak mengingat apapun," sahut Dokter Aditya dengan wajah frustrasi.
Seketika Dita meluruhkan tubuhnya di lantai. Hidupnya seolah berakhir, dunianya terasa berhenti berputar. Masalahnya dangan Indhi saja belum ia selesaikan dan kini ia membuat masalah baru dengan anak pemilik Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Dokter Aditya yang panik segera memakai boxer yang di temukannya di lantai, dengan setengah telan*jang, pria itu mengahmpiri Dita yang masih menangis sambil memukuli dirinya sendiri. Dokter Aditya menahan tangan Dita saat gadis itu hendak memukul tubuhnya lagi. "Aku tidak tau apa yang terjadi, tapi jika benar kita melakukannya, aku akan bertanggung jawab," ungkapnya karena merasa sangat bersalah.
Dita mengangkat kepalanya, matanya yang berlinang air mata menatap tajam pria yang ada di depannya. "Tanggung jawab?" ulangnya penuh keraguan.
"Ya, aku akan menikahimu!" sahut Dokter Aditya tanpa ragu. Besar dan tumbuh dalam keluarga kaya raya dengan segala bentuk pembelajaran untuk mempertanggung jawabkan segala sesuatu yang di perbuatnya membuat Dokter Aditya tak bisa mangkir. Apalagi kini menyangkut harga diri seorang wanita yang sudah di rusaknya, meski ia tak mengingat dengan jelas apa yang sudah di lakukannya. "Jangan menangis dan jangan menyakiti dirimu sendiri. Aku janji aku akan bertanggung jawab," ucapnya lagi dengan suara yang lebih lembut, merasa prihatin dengan kondisi Dita membuat Dokter Aditya perlahan mulai memeluk gadis itu hingga tangisnya mereda.
Setelah merasa lebih tenang, Dita melepaskan pelukan Dokter Aditya dan menatapnya dengan serius. "Saya yakin ini kesalahan kita berdua. Anda tidak perlu bertanggung jawab atas kesalahan yang kita lakukan bersama. Kita sudah dewasa, anggap saja ini hanya sebuah kesalahan yang tidak di sengaja dan saya harap anda melupakan kejadian malam ini,"Dita memutuskan untuk mengatakan hal itu, mengingat hubungannya dengan Dokter Aditya yang tak pernah akur, serta kesenjangan sosial di antara mereka membuat Dita tak yakin jika ucapan Dokter Aditya serius.
Gadis itu lalu berdiri dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang terasa kotor. Di bawah guyuran air shower, gadis itu kembali memukuli tubuhnya sendiri. "Dasar menjijikan. Dasar bodoh!" makinya pada diri sendiri.
Setelah mandi, Dita keluar menggunakan bathrobe yang ada di kamar mandi, gadis itu keluar dan berniat mencari pakaiannya. Namun langkahnya justru di hadang oleh pria yang sudah mengambil kesuciannya.
"Tolong beri aku kesempatan untuk bertanggung jawab. Aku tidak bisa melanjutkan kehidupanku jika kamu menolak pertanggung jawaban dariku. Sejak kecil aku sudah di didik menjadi pria yang bertanggung jawab, jadi aku mohon biarkan aku menikahimu!"
BERSAMBUNG...