
Setelah berjuang melahirkan kedua bayinya, kini Indhi tengah beristirahat guna memulihkan tenaganya. Wanita itu masih terbaring di atas tempat tidur dan di temani oleh suami serta ibunya.
"Dimana bayi kita kak?" tanya Indhi dengan suara lemah,namun terpancar kebahagiaan di wajah lelahnya.
"Mereka ada di ruangan bayi," jawab Ega lembut, pria itu kembali mengecup kening istrinya penuh kasih sayang. "Istirahatlah agar tenagamu cepat pulih, setelah itu kita temui bayi-bayi kita."
Indhi mengangguk pelan, wanita itu tak sabar ingin segera bertemu dengan bayinya, namun karena tubuhnya masih terasa lemah, Indhi memutuskan menunggu hingga ia memiliki tenaga untuk menggendong kedua buah hatinya.
Sementara di tempat lain, Dita dan Dokter Aditya baru saja menyelesaikan sesi percintaan mereka, semenjak Dita hamil hubungan keduanya semakin dekat, apalagi semenjak mereka mengumumkan hubungan mereka, keduanya tak lagi canggung untuk bermesraan.
"Kapan perkiraan lahirnya?" tanya Dokter Aditya seraya mengusap perut Dita yang sudah besar.
"Dua hari lagi," jawab Dita sambil tersenyum.
"Artinya aku masih punya dua hari sebelum puasa panjang," ucap Dokter Aditya dengan mata mengerling.
Dita mencubit pinggang suaminya yang terkesan jahil. "Dasar mesum kamu mas."
"Mesum sama istri sendiri gak papa kan?"
"Iya sih."
Dita lalu bangun karena merasa ingin buang air kecil,namun sang suami menahan tangannya karena masih ingin memeluknya.
"Aku mau pipis mas," Dita berusaha melepaskan tangan suaminya.
Dokter Aditya terpaksa melepaskan tangan Dita, pria itu mengamati pergerakan istrinya yang terlihat aneh. "Kamu baik-baik saja kan Dit?" tanya Dokter Aditya khawatir.
"Perutku kram mas," Dita memilih duduk di sofa yang berada di dekat pintu kamar mandi, saat ia duduk ia terkejut karena merasakan ada sesuatu yang kelur dari pangkal pahanya. "Mas aku ngompol," gumam Dita seraya meraba pahanya yang basah. "Mas, sepertinya ketubannya pecah."
"Apa?" Dokter Aditya terkejut, pria itu segera berpakaian dan berlari menghampiri istrinya. Dokter Aditya menyentuh cairan yang ada di lantai dan mengendusnya. "Kita ke rumah sakit sekarang. Kamu masih bisa jalan kan?" tanyanya dan hanya di angguki oleh Dita.
Dengan sangat hati-hati Dokter Aditya menuntun Dita ke ruang tamu, untung saja Dokter Aditya sudah menyiapkan kursi roda semenjak usia kehamilan Dita menginjak sembilan bulan. Setelah Dita duduk di kursi roda, Dokter Aditya mendorong kursi roda tersebut menuju basement apartemen mereka.
"Kamu belum mules?" tanya Dokter Aditya panik.
"Belum mas, aku takut!"
"Kamu harus tenang, aku yakin kamu dan bayi kita akan baik-baik saja!"
Sepuluh menit kemudian mereka tiba di rumah sakit, Dokter Aditya segera menjelaskan kondisi Dita. Setelah beberapa saat di periksa, dokter memutuskan untuk melakukan operasi caesar karena air ketubannya hampir mengering.
"Lakukan apapun dok, tolong selamatkan istri dan anak saya!" tegas Dokter Aditya dengan mata berkaca-kaca.
"Dit kamu kuat kamu pasti bisa," ucapnya menguatkan sang istri sebelum di bawa ke ruang operasi.
Dokter Aditya sudah berada di dalam ruang operasi untuk menemani Dita setelah mendapat izin dari Dokter Kandungan yang akan mengoperasi istrinya. Pria itu menegang menyaksikan Dita menahan sakit saat jarum anestesi menusuk kulit punggung bagian bawah atau daerah epidural.
Ketegangan semakin Dokter Aditya rasakan saat pria itu menyaksikan dengan jelas ketika Dokter mulai membedah perut istrinya, karena tak tahan dan tidak tega menyaksikan hal tersebut, Dokter Aditya kembali duduk di sebelah Dita.
Oek...oek...
Setelah hampir setengah jam lamanya akhirnya dokter berhasil mengeluarkan bayi mungil itu dari perut Dita.
"Selamat dok, bayi anda laki-laki," ucap Dokter Kandungan yang mengoperasi Dita.
"Terima kasih Dit, terima kasih banyak karena telah melahirkan putra kita dengan selamat. Aku mencintaimu Dit."
Dita tak mampu menahan air matanya, iamerasa bahagia karena putranya telah lahir, namun ada hal lain yang membuatnya merasa lebih bahagia, yaitu saat suaminya akhirnya menyatakan cinta kepadanya, ucapan singkat yang sudah ia tunggu berbulan-bulan lamanya.
"Aku juga mencintaimu mas."
"Aku tau, terima kasih sayang," ucap Dokter Aditya seraya mencium kening istrinya.
BERSAMBUNG...