
"Ini foto rekayasa kak!" ucap Arum seraya menunjuk salah satu foto yang ada di tangannya.
"Ya aku tau Rum, karena aku tidak pernah sedekat itu dengan Dita. Dan untuk foto yang ini," Ega menunjuk foto saat Dita memeluknya dari belakang. "Kejadian ini terjadi saat aku menyuruh Dita untuk berhenti menggangguku tapi dia malah menatang akan bersaing dengan Indhi," jelas Ega.
"Gadis berbisa itu benar-benar sudah meracuni Dita," desis Arum kesal.
"Gadis berbisa?" ulang Ega penasaran.
"Si Bella!" jawab Arum.
"Sialnya Indhi sudah melihat foto ini dan dia tidak ingin melihatku Rum!" Ega menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar, ia tak menyangka hubungan rahasianya dengan Dita di masa lalu menjadi bumerang untuk hubungannya dengan Indhi. Salahkan Ega karena tidak jujur pada istrinya, meski demi alasan menjaga perasaan Indhi, namun tetap saja kebohongan tidaklah baik dalam sebuah hubungan.
"Kakak tenang dulu, beri Indhi waktu untuk menenangkan diri. Aku akan berbicara dengan Indhi besok. Lebih baik kakak sekarang pulang dan istirahat."
"Terima kasih Rum, aku pamit!"
Setelah pulang dari rumah Arum, Ega memutuskan untuk kembali ke Rumah Sakit, meski Indhi belum mau bertemu dengannya setidaknya dia ada di sana, di dekat istri tercintanya. Ega duduk di lantai di depan ruang perawatan istrinya, pria itu menyandarkan kepalanya di tembok dengan kedua tangan saling menyilang di depan dada, matanya kini terpejam namun tak ada sedikitpun niat untuk tidur. Pikiran Ega berpencar jauh, membayangkan kemungkinan terburuk Indhi akan meninggalkannya.
Ceklek.
Pintu terbuka, bu Tika sedikit kaget melihat Ega yang sedang duduk di lantai dengan mata terpejam. Meski kesal saat melihat foto-foto Ega bersama Dita, namun bu Tika tetaplah seorang ibu, tiga puluh dua tahun mengenal Ega bukanlah waktu yang singkat, ia menyesal karena sempat menyalahkan Ega tanpa mendengar penjelasan dari putra sekaligus menantunya.
"Ega," bisik bu Tika karena khawatir Indhi akan mendengarnya.
Ega membuka matanya, ia lalu berdiri mensejajari ibunya. "Kenapa ibu belum tidur?" tanya Ega pelan.
"Ibu belum mengantuk. Kenapa kamu tidak pulang?"
"Aku ingin menjaga Indhi bu," jawab Ega sedih.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa foto-foto itu bisa sampai di tangan Indhi?" tanya bu Tika, wanita itu harus bersikap bijak, tak boleh menghakimi seseorang tanpa mendengar penjelasan dari orang tersebut.
"Semua ini ulah Bella bu, gadis itu ingin membalas dendam kepada Indhi. Padahal selama ini kitalah yang menjadi korban kejahatan ibunya," jelas Ega seraya menatap ibunya.
"Bella?" ulang bu Tika. "Lalu kenapa Dita di bawa-bawa?" lanjutnya penasaran.
"Kami pernah memiliki hubungan beberapa tahun yang lalu bu, mungkin saja Bella mengetahuinya dan meracuni Dita untuk mendekatiku lagi."
"Jadi foto itu asli?" bu Tika memicingkan sebelah matanya, sekedar mencari apakah ada kehobongan di mata putranya.
"Tentu saja tidak bu, aku tidak pernah sedekat itu dengan Dita," sangkal Ega dengan segera.
"Ibu percaya padamu. Sekarang kita hanya perlu meyakinkan Indhi bahwa semua foto itu palsu. Ibu akan bicara padanya nanti."
"Terima kasih bu," Ega lalu memeluk ibunya, setidaknya ia masih memiliki bu Tika yang selalu mempercayainya, kini ia hanya perlu membuat Indhi percaya lagi kepadanya.
"Lebih baik kamu pulang, kamu bisa sakit kalau duduk di lantai," ujar bu Tika setelah melepaskan pelukannya.
"Aku ingin menemani istriku."
"Ya sudah, terserah kamu saja!"
"Aku akan datang lagi. Jaga dirimu dan bayi kita," gumamnya pelan, dengan langkah berat ia meninggalkan ruang tersebut.
Ega berjalan sambil memijat lehernya yang terasa pegal, namun langkahnya harus terhenti saat seseorang menghadangnya. Ega membuang nafas kasar, pria itu menggeser sedikit kakinya lalu kembali melangkah, ia sangat tidak ingin berurusan dengan Dita pagi ini. Namun lagi-lagi Ega di buat geram saat Dita ikut serta menggeser kakinya hingga menghalangi langkah Ega, pria itu menatap penuh kebencian pada gadis yang kini berdiri di hadapannya.
"Apa maumu?" Ketus Ega.
"Aku hanya mau memberikan ini," jawab Dita sambil menunjukkan kotak bekal yang sudah ia persiapkan.
"Sudah aku katakan, aku tidak membutuhkannya!" Geram Ega dengan rahang mengeras, sungguh emosinya sudah berada di ujung kepala, sekali lagi Dita bertindak bodoh mungkin saja Ega akan meledak dan tak bisa menahan emosinya.
"Aku juga sudah bilang tidak akan menyerah!" Dita masih pada keputusannya, racun yang di berikan Bella benar-benar membuatnya buta, dengan percaya diri ia berpikir akan mendapatkan Ega kembali. "Ambil ini, aku memasaknya dengan penuh cinta," Dita memaksa memberikan kotak bekal di tangan Ega.
Brakk...
Ega membanting kotak bekal itu dengan keras hingga isinya berhamburan di lantai Rumah Sakit, bunyi keras yang di buat oleh Ega tentu saja mengundang perhatian para perawat dan dokter yang ada di sekitar mereka, bahkan tak sedikit dari mereka merekam kejadian tersebut.
"Kenapa kakak jahat sekali," ucap Dita seraya menatap kotak bekalnya yang hancur berantakan.
"Berhenti menggangguku dan istriku!" bentak Ega dengan mata memerah, jari telunjuknya menunjuk tegas pada wajah Dita. "Sekali lagi kamu menggangguku dan istriku maka aku tidak segan-segan untuk menghancurkanmu!" Ega mengancam dengan rahang mengeras, emosinya sedang tidak stabis dan Dita justru menyulutnya. Setelah mengancam Dita, pria itu melangkahkan kakinya meninggalkan Dita, ia tak peduli lagi jika telah berbuat kasar pada perempuan.
Dita tak bergeming, ancaman Ega membuatnya ketakutan, sejauh ia mengenal Ega, baru kali ini Dita melihat Ega semarah itu, wajahnya yang tampan memerah dengan tonjolan otot di mana-mana, menandakan pria itu tengah menahan emosi.
Sementara itu, orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut mulai saling berbisik dan mencibir Dita.
"Eh bukannya Dokter Kevin itu suaminya Dokter Indhi?" tanya seorang perawat kepada perawat lainnya.
"Iya bener, dan Suster Dita kan sahabatnya Dokter Indhi. Kok tega banget sih nikung sahabat sendiri," jawab perawat satunya lagi.
"Makannya kita harus pintar-pintar milih teman, kadang orang terdekat kitalah yang berani menusuk dari belakang," sahut perawat yang pertama.
"Dari yang aku tau sih, Dokter Kevin lebih dulu pacaran sama Suster Dita. Kalian kan juga tau kalau Dokter Indhi itu pacaran sama Dokter Ilham dan hampir menikah. Tapi lihat hasil akhirnya, malah Dokter Indhi dan Dokter Kevin yang menikah. Sudah jelas kan siapa yang nikung siapa?"
Semua perawat itu menoleh ke arah sumber suara, mereka semua hanya diam mendengar penuturan Bella yang tentu saja manipulatif itu.
"Dari mana kamu tau semua itu Bella?" tanya salah seorang perawat.
"Kalian lupa kalau aku adiknya Dokter Ilham? Jelas saja aku tau semua kebusukan Dokter Indhi, dia meninggalkan kakakku dan menikah dengan Dokter Kevin yang jelas-jelas pacar dari sahabatnya, belum lagi Dokter Kevin kan kakak angkatnya," jawab Bella mendramatisir.
"Nggak nyangka kalau Dokter Indhi sejahat itu, dia merebut pacar sahabatnya sendiri ya."
"Ya ampun padahal kelihatannya alim banget ya."
"Justru yang alim itu suka menakutkan."
Setelah bergosip semua perawat tersebut bubar dan menyisakan Bella di tempat itu, Bella melipat tangannya dengan angkuh dan senyum licik terbit di sudut bibirnya. "Ini baru awal Indhi, aku akan menghancurkan kalian sama seperti kalian menghancurkan keluargaku!"
BERSAMBUNG...