Marry me, Brother

Marry me, Brother
Memaksa menikah



"Tolong beri aku kesempatan untuk bertanggung jawab. Aku tidak bisa melanjutkan kehidupanku jika kamu menolak itikad baik dariku. Sejak kecil aku sudah di didik menjadi pria yang bertanggung jawab, jadi aku mohon biarkan aku menikahimu!"


Dita tercenung di tempatnya, ia masih tidak menyangka jika Dokter Aditya bersungguh-sungguh ingin mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. "Tapi dok, bagaimana dengan keluarga anda, maksud saya kedua orang tua anda?" tanya Dita ragu-ragu, sebelum ia mengambil keputusan untuk menerima Dokter Aditya bukankah dia harus tau tentang keluarga orang kaya itu, bagaimana jika kedua orang tua Dokter Aditya menolaknya.


"Mereka pasti akan merestui pernikahan kita," balas Dokter Aditya yakin.


"Dok, kita adalah dua manusia dari kalangan sang sangat jauh berbeda. Semua orang tau siapa anda, Dokter Spesialis Radiologi yang hebat dan lagi anda juga putra dari pemilik Rumah Sakit. Apa kata orang nanti jika anda menikahi perawat tak berkompeten dan miskin seperti saya?"


Dokter Aditya terenyuh dibuatnya, pria itu lalu meraih kedua tangan Dita dan memegangnya. "Orang tuaku bukan orang yang seperti itu. Bagi mereka, asal aku bahagia maka mereka juga akan bahagia," ucap Dotker Aditya pelan.


"Bagaimana jika anda tidak bahagia setelah menikah dengan saya. Kita sama-sama tau, hati kita di miliki oleh orang lain. Bagaimana kita akan menikah jika kita saja tidak saling mencintai?" Dita kembali mengungkapkan keraguannya. Apalagi saat mandi tadi ia mengingat pengakuan Dokter Aditya perihal rasa sukanya kepada Indhi.


"Lalu bagaimana jika kamu hamil dan kita tidak menikah? Meskipun kita tidak saling mencintai, setidaknya jika ada bayi yang ada di antara kita akan mendapatkan kasih sayang dari kita jika kita menikah."


"Hamil? Bagaimana mungkin?" kata Dita seraya menatap pria yang terus meyakinkannya untuk menikah.


"Kita sama-sama sudah dewasa. Aku ragu jika semalam kita hanya melakukannya sekali, dan lagi aku juga mengeluarkannya di dalam," ungkap Dokter Aditya penuh sesal. Bagaimana tidak, semalam ia telah menghancurkan hidup seorang gadis, padahal ibunya selalu mengajarinya untuk menghormati sesama apalagi seorang perempuan. "Kita bisa menikah secara diam-diam, hanya keluarga dan teman terdekat saja yang tau. Kita juga bisa merahasiakannya saat di Rumah Sakit," imbuhnya memberi saran.


"Beri saya waktu dok," Dita melepaskan tangan Dokter Aditya, gadis itu lalu memunguti satu persatu pakaian dalamnya yang tercecer. "Em, anu, dimana baju saya?" tanyanya sambil menahan malu.


Dotker Aditya melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan mengambil baju Dita yang berada di sofa, pria itu lalu kembali ke kamar dan memberikan pakaian tersebut kepada pemiliknya. "Ini. Pakailah! Setelah itu aku akan mengantarmu pulang!"


Dita meraih pakaiannya dan kembali masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam sana, ia mencoba mengingat-ingat apa yang sudah terjadi semalam sehingga ia berakhir bercinta dengan Dokter Aditya.


"Apa yang terjadi setelah Dokter Aditya mengaku suka sama Indhi?" gumamnya frustrasi, namun dengan cepat ia memakai bajunya karena ia harus segera pulang, keluarganya pasti khawatir karena semalam ia tidak pulang dan tidak memberi kabar.


Setelah berpakaian rapi, Dita keluar dari kamar mandi dan menghampiri Dokter Aditya yang juga sudah rapi. "Kapan dia mandi dan bersiap?" ucapnya dalam hati.


"Kamu mau sarapan dulu?" tanya Dokter Aditya setelah melihat Dita rapi dengan pakaiannya.


"Tidak, terima kasih. Saya harus pulang," Dita melewati dokter tampan itu begitu saja, gadis itu melangkahkan kakinya keluar dari apartemen mewah yang menjadi saksi bisu atas hilangnya kesucian yang di jaganya selama ini. Meski merasakan nyeri yang teramat sangat, gadis itu berjalan dengan begitu cepat meninggalkan tempat yang seharusnya tak pernah ia datangi.


Sementara itu, Dokter Aditya berlari mengikuti langkah Dita, pria itu kembali merasa bersalah salah melihat gaya berjalan Dita yang sedikit aneh, dan sudah dapat di pastikan jika semua itu adalah ulahnya. "Dita, tunggu!" panggilnya dengan keras, dan untuk pertama kalinya ia menyebutkan nama gadis yang kerap di panggilnya nona perawat itu.


Dokter Aditya semakin mempercepat jalannya, hingga di depan pintu lift dia berhasil mencekal pergelangan tangan milik Dita. Karena tak tega melihat langkah Dita yang terlihat kesakitan, pria itu lalu mengangkat tubuh Dita dan menggendongnya ala pengantin.


Dita yang merasakan tubuhnya melayang lalu mencoba untuk berontak. "Dok, apa yang anda lakukan? Lepaskan saya!" teriaknya seraya memukul dada Dokter Aditya.


Ting...


Pintu lift tertutup dan segera meluncur turun ke lantai dasar. Dokter Aditya hanya pasrah menerima amukan Dita hingga gadis itu menyerah dan mau tidak mau mengalungkan kedua tangan di lehernya. Sekilas Dokter Aditya tersenyum samar saat Dita pasrah di dalam gendongannya.


"Turunkan aku dok, aku malu," ujarnya dengan suara tidak terlalu jelas.


Dokter Aditya tak mengindahkan ucapan Dita, pria itu melangkahkan kakinya menuju mobil yang sudah di siapkan oleh sopir pribadinya. Dengan hati-hati, pria itu mendudukkan Dita di kursi mobil dan memasangkan sabuk pengaman.


"Duduk dan jangan pergi kemanapun. Aku mau membeli sarapan sebentar!" ucapnya memerintah, dan herannya Dita hanya mengangguk patuh. "Gadis baik," ujarnya lagi lalu meninggalkan mobil dan pergi entah kenapa.


Sepeninggal Dokter Aditya, Dita mengamati isi mobil mewah yang di tumpanginya. Sesaat ia berpikir untuk turun dan pergi, namun suara tegas Dokter Aditya kembali membuat nyalinya menciut. "Kenapa aku patuh sekali dengannya?" gumamnya pelan.


Hingga tak berangsur lama, Dita melihat Dokter Aditya berlari kecil menuju mobilnya. Pria itu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi. "Makan ini, kamu pasti lapar," Dokter Aditya memberikan sebuah bungkusan kepada Dita, gadis itu hanya mengamati tangan Dokter Aditya yang menggantung di udara. "Ambil ini, tanganku pegal kan!" serunya karena Dita hanya diam dan melamun.


"Eh. Terima kasih," Dita menerima bungkusan tersebut dan membukanya. Sebuah roti isi membuat perut Dita kembali berbunyi namun gadis itu ragu untuk memakannya.


"Makanlah, aku tidak meracuninya!"


"Terima kasih," Dita meraih roti itu dan menggigitnya, saking laparnya ia sampai tidak sadar jika ada noda saos yang menempel di sudut bibirnya.


Dokter Aditya yang menyadari hal itupun segera meraih tisu dan menyeka sudut bibir Dita dan membuat gadis itu kaget. "Makan saja seperti anak kecil, dasar ceroboh," ucapnya pelan.


"Saya memang ceroboh, tidak berkompeten, saya juga seorang pelakor. Jadi pikirkan lagi niat anda untuk menikahi saya!" hardik Dita dan terdengar seperti sindiran bagi Dokter Aditya, pasalnya pria itu selalu mengolol Dita dengan sebutan yang memang kurang pantas di dengar.


"Apa kamu sangat menyukai Kevin?" tanya Dokter Aditya, pria itu sengaja mengalihkan topik pembicaraan mereka.


"Hem," gumam Dita seraya menguyah makanan.


"Itukah alasan kamu ingin merebutnya dari Indhi?"


Dita menelas makanannya dengan kasar, gadis itu lalu menoleh ke arah Dokter Aditya sehingga mereka saling berhadapan dan manik mata mereka saling mengunci. "Saya juga tidak tau. Awalnya saya kira cukup mencintai kak Ega dalam diam. Namun dengan bodohnya saya terpengaruh oleh Bella. Bukan niat saya untuk membela diri, anda juga berhak untuk tidak mempercayai saya. tapi sungguh saya tidak pernah berniat merebut kak Ega sampai saya bertemu Bella. Saya benar-benar bodoh," ungkap Dita dengan jujur, entah mengapa ia tak ingin Dokter Aditya menyebutnya pelakor lagi, hingga tak ia sadari air matanya kembali menetes di wajahnya.


"Maaf karena aku selalu berkata kasar padamu," ucap Dokter Aditya seraya menyeka air mata Dita. "Jangan menangis, aku tidak suka melihat wanita menangis!"


"Semua yang anda katakan itu benar dok. Saya memang seorang pelakor, perawat abal-abal dan sahabat yang picik," imbuh Dita dan semakin membuat Dokter Aditya merasa bersalah.


"Maaf."


Hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulut Dokter Aditya, pasalnya ia memang kerap mengatai Dita dengan sebutan kasar, namun itu semua ia lakukan karena sejak awal ia tau jika Dita menyukai Ega, dan hal itu mungkin saja bisa melukai Indhi. Intinya dia melakukan itu hanya untuk melindungi Indhi.


Cinta memang sangat membingungkan!


BERSAMBUNG...