
Dua hari semenjak Indhi di rawat di Rumah Sakit, selama di rawat ia tak mengabari kedua sahabatnya karena takut mengganggu waktu mereka. Hari ini Indhi sudah di perbolehkan pulang, meski mual dan muntahnya semakin sering datang.
Indhi pulang bersama ibunya, karena khawatir Ega memutuskan untuk kembali pindah ke rumah ibunya, dengan begitu ada bu Tika dan bu Sumi yang menjaganya saat Ega sedang bekerja.
Setibanya di rumah, bi Sumi menyambut kedatangan Indhi dengan wajah yang nampak begitu bahagia.
"Selamat ya non, bibi ikut bahagia. Semoga saja bibi masih di beri umur panjang agar bisa merawat anak-anak non Indhi," ucap bi Sumi penuh haru.
"Terima kasih bi. Bibi harus selalu sehat agar bisa merawat cucu bibi nantinya," sahut Indhi dengan senyum termanisnya, ia lalu memeluk bi Sumi yang sudah di anggapnya sebagai keluarga.
"Dengerin kata Indhi tuh bi. Bibi harus selalu sehat, kalau nggak ada bibi, aku pasti sangat kesepian," sahut bu Tika.
"Iya bu, saya pasti akan sehat selalu dan menemani kalian."
Ketiga wanita itu pun merasakan kebahagiaan yang begitu nyata. Keduanya lalu mengantarkan Indhi ke kamarnya, setelah itu mereka membiarkan wanita yang tengah hamil muda itu beristirahat.
Di dapur, bu Tika dan bi Sumi sedang mencatat beberapa menu makanan yang baik untuk ibu hamil.
"Ingat bi, mulai sekarang kalau numis bawang-bawangan jangan sampai aromanya masuk ke dalam kamar Indhi," pesan bu Tika setelah wanita itu mencatat beberapa menu yang cocok untuk ibu hamil.
"Apa masaknya di halama belakang aja ya bu. Ada kompor yang gak kepake, nanti bibi pasang di belakang," usul bi Sumi, sangat mustahil jika ia harus memasak tanpa aroma harum yang menyebar ke segala penjuru ruangan.
"Ide bagus bu.".
Waktu makan malam telah tiba, Indhi benar-benar tidak bisa menelan makanannya, sepertinya kehamilan sekaranv terasa berat untuknya, meski demikian Indhi tidak akan mengeluh dan menjalaninya penuh syukur.
Hampir tengah malam Ega baru sampai di rumah ibunya, pria itu memijat lehernya yang terasa pegal karena seharian ini waktunya di habiskan di dalam ruang operasi.
"Ibu belum tidur?" tanya Ega saat ia mendapati bu Tika masih berada di ruang keluarga.
Bu Tika lalu beridiri mensejajari putranya. "Indhi sama sekali tidak bisa makan, kalau begini terus dia pasti tidak bisa pergi bekerja. Ibu khawatir Indhi akan sedih," jelas bu Tika dengan wajah khawatir.
"Ibu tenang saja. Aku sudah membicarakan masalah ini dengan tuan Hendarwan, beliau tidak keberatan jika Indhi sering cuti nantinya," papar Ega dengah wajah tenang.
"Kenapa mereka sangat baik kepada keluarga kita Ga?" tanya bu Tika penasaran, pasalnya kebaikan si pemilik Rumah Sakit di anggap terlalu berlebihan mengingat jika Adit dan Ega hanya berteman saja.
"Beliau sudah menganggap Indhi seperti putrinya sendiri bi, nyonya Mayang juga sering menemui Indhi, mereka menyayangi Indhi karena Indhi wanita yang sangat baik."
"Sampaikan rasa terima kasih ibu kepada mereka ya. Sekarang kamu ke kamar dan istirahat."
"Ya bu, kapan-kapan Ega sampaikan. Ega ke kamar dulu ya bu."
Setelah pemit kepada ibunya, Ega segera masuk ke dalam kamar. Pria itu berjalan dengan sangat pelan agar tidak membangunkan istrinya.
Setelah selesai membersihkan diri, Ega berjalan menuju tempat tidurnya, ia lalu duduk di sisi ranjang dengan tubuh menghadap istrinya. "Kamu pasti sangat lelah. Bertahanlah sayang, semuanya akan segera baik-baik saja," lirih Ega dengan mata berkaca-kaca, pasalnya selama dua hari Indhi susah untuk makan, lihat saja pipinya sangat tirus sekarang.
Indhi menggeliat saat ia mendengar ucapan Ega, wanita itu lalu membuka matanya, dan hal pertama yang ia lakukan adalah tersenyum saat melihat wajah suaminya. "Kakak sudah pulang?" tanyanya dengan suara serak.
"Asal tidak makan maka aku akan baik-baik saja. Tapi kalau aku tidak makan bagimana nasib bayi-bayi kita. Mereka pasti kelaparan," jawab Indhi dengan wajah sedih.
"Apa kamu ingin makan sesuatu? Aku akan membelikannya jika kamu ingin makan?"
"Tidak kak, aku tidak menginginkan apapun," tolak Indhi karena ia memang tak bernafsu untuk makan.
"Bagaimana dengan susu?'' tawar Ega lagi tak menyerah.
Indhi menggeleng sebagai tanda penolakan. "Aku tidak suka susu kak, pasti aku akan langsung muntah."
Ega akhirnya mengalah, ia tak ingin melihat istrinya malam-malam muntah. "Nice dream sayang," bisik Ega seraya ke mengcup kenin iatrinya, pria itu lalu menyusul istrinya berlindung di bawah selimut.
Ega memeluk Indhi dari belakang karena Indhi tidur membelakanginya, tangannya yang kekar mengusap lembut perut Indhi. "Baik-baik di sana, jangan bikin mama kawalahan ya!" pesannya pada jabang bayi yang masih berada di dalam perut.
Sementara Indhi hanya tersenyum dan menggenggam tangan Ega yang berada di perutnya. "Iya ayah, kamu tidak akan nakal," sahut Indhi dengen suara yang di buat seperti anak kecil.
Sepasang suami istri itu lalu tertawa bersama, Indhi kemudian berbalik sehingga kini mereka saling berhadapan. Indhi mengendus tubuh suaminya, namun kali ini tak tak merasakan mual seperti beberapa hari yang lalu.
"Aku tidak pakai parfum," ucap Ega seolah tau pertanyaan Indhi yang tak terucap dari mulutnya. "Ibu yang memberi tahu, katanya kamu mual karena mencium bau parfumku?"
Indhi terkekeh, gadis itu lalu menyembunyikan wajahnya di dada sang suami, menghidup dalam-dalam aroma tubuh yang mebuatnya tenang. "Aku suka bau ketiak kakak," ujar Indhi yang sontak membuat Ega tertawa geli.
"Kalau begitu cium saja sesukamu," kekeh Ega seraya mengusap rambut istrinya.
Sekian lama mereka diam, menikmati pelukan yang hangat dan menenangkan, namun tiba-tiba Ega mengingat sesuatu. "Sayang, besok sidang putusan untuk kasus Bella kan?" tanya Ega memastikan.
"Iya kak. Aku berharap dia mendapatkan balasan yang setimpal," jawab Indhi penuh dendam.
"Ya aku juga berharap begitu. Baiklah sekarang waktunya tidur. Besok aku akan menemanimu ke pengadilan."
"Kakak tidak bekerja?"
"Bekerja, aku akan izin sebentar."
"Kakak sudah sering izin, apa tidak papa?" Indhi pun mulai mengkhawatirkan suaminya, semenjak Indhi keguguran entah berapa kali ia harus meminta cuti.
"Tidak papa, lagi pula tuan Hendarwan juga yang menyuruhku untuk selalu mendampingimu?" ujar Ega.
"Kenapa mereka sangat baik kepada kita ya kak?" pertanyaan Indhi persis sama dengan pertanyaan ibunya sebelumnya.
"Karena mereka juga membutuhkanku. Dimana lagi mereka menemukan Dokter Spesialis Bedah Vaskuler dan Endovaskuler yang berbakar seperti diriku. Sayang, asal kau tau, di Indonesia sendiri hanya ada dua puluh dokter Spesialis Bedah Vaskular dan aku salah satunya," ucap Egq yang malah terdengar menyombongkan diri, namun Indhi memang harus mengakuinya karena suaminya memang seorang ahli bedah yang handal dan cukup terkenal.
"Ya ya, kakak memang yang terbaik, aku sangat bangga menjadi istri kakak."
BERSAMBUNG...