
"Baiklah kalau begitu kita tidur bersama saja mas," ujar Dita dengan kesal, hanya masalah tidur saja harus berdebat.
"Haa?" Dokter Aditya belum percaya dengan yang baru saja di dengarnya.
"Kasurnya juga luas, cukup untuk kita tidur bersama," sambung Dita lagi.
"Kamu yakin?"tanya Dokter Aditya memastikan.
"Hem. Lagi pula kita sudah menikah. Kita juga sudah sepakat untuk tidak bercerai. Apa salahnya kita membangun pernikahan tanpa cinta ini dari nol bersama-sama."
"Kamu tidak takut aku akan menyentuhmu?" Dokter Aditya menatap gadis yang sedang menatapnya itu.
"Kenapa aku harus takut pada suamiku sendiri," bohong Dita dengan wajah bersemu merah, padahal ia juga takut jika saat ini Dokter Aditya akan meminta haknya.
"Baiklah kalau begitu. Kita akan tidur bersama," finall Dokter Aditya sambil tersenyum kikuk.
Kedua orang itu lalu memposisikan tubuhnya di atas tempat tidur. keduanya sama-sama terlentang dan menatap langit-langit kamar yang sudah redup karena lampu sudah di matikan..Dita memegang erat selimut yang membungkus tubuhnya, sementara Dokter Aditya sedang berusaha menenangkan jantungnya yang sedang berdisko ria.
"Kita dapat cuti tiga hari. Apa kamu ingin pergi ke suatu tempat?" tanya Dokter Aditya di tengah keheningan mereka, pria itu menoleh dan saat bersamaan Dita pun menoleh sehingga manik mata mereka bertemu dan mengunci untuk beberapa saat.
Dita membuang wajahnya, ia kembali menatap langit-langit. "Entahlah, sepertinya tidak mas," jawabnya pelan.
"Coba pikirkan lagi. Mungkin ada tempat yang ingin kamu kunjungi."
"Aku akan mengatakannya jika aku sudah menemukan tempat yang ingin aku kunjungi."
Keduanya lalu diam dan larut dalam pikiran masing-masing.
"Kamu sudah tidur?" Dokter Aditya kembali membuka suaranya.
"Belum," sahut Dita dengan segera.
"Dit," panggil Dokter Aditya gugup.
"Ya mas."
"Apa kamu menyesal menikah denganku?"
Dita menoleh begitu mendengar pertanyaan suaminya. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Dita balik bertanya.
"Sejak awal aku memaksamu untuk menerima pernikahan ini, aku takut kamu menyesalinya."
Dita merubah posisinya, gadis itu memiringkan tubuhnya menghadap sang suami sehingga ia bisa melihat dengan jelas wajah oriental milik suaminya. "Aku sempat ragu. Mengingat hubungan kita yang tak pernah akur. Tapi hari ini aku bersyukur karena Tuhan menjodohkan kita. Mungkin belum ada cinta di antara kita sekarang, tapi aku tidak menyesali pernikahan ini. Apa kamu menyesal?"
Kini giliran Dokter Aditya yang memiringkan tubuhnya sehingga mereka saling berhadapan. "Aku juga sempat ragu, apalagi hubungan kita memang tak pernah akur. Tapi aku memiliki sebuah komitmen, apapun yang sudah ku sentuh maka itu akan menjadi milikmu. Maaf karena aku sudah mengambil sesuatu yang berharga dalam hidupmu," ucapnya di selingi sesal.
"Tidak perlu minta maaf mas, kita melakukannya bersama meski dalam posisi tidak sadar," timpal Dita mencoba menghilangkan rasa bersalah suaminya.
"Hem. Sudah malam. Sebaiknya kita tidur, kamu pasti lelah," Dokter Aditya tersenyum hangat, senyum yang baru di lihat Dita pada malam pernikahan mereka. Sebelumnya Dokter Aditya memang banyak tersenyum namun tak setulus senyumannya malam ini.
"Selamat tidur mas," ucap Dita lembut.
"Hem," sahut Dokter Aditya dengan gumaman, kedua insan itu lalu terlelap dan menjelajahi mimpi masing-masing, melupakan malam yang seharusnya menjadi momen penting dalam hidup merela.
Malam berganti pagi, matahari mulai memancarkan cahayanya. Dita membuka matanya perlahan, gadis itu tersenyum melihat wajah suaminya yang begitu teduh saat tertidur. Dengan hati-hati, Dita menyibak selimut dan turun dari tempat tidur. Gadis itu pergi ke kamar mandi untuk melakukan ritual paginya.
Setengah jam kemudian, Dita keluar dari kamar mandi, ia mengenakan bathrobe dan handuk kecil yang menggulung rambut basahnya. Gadis itu pergi ke walk in closet yang berada di sisi lain kamar mereka, ia membuka kopernya dan mulai memilih baju yang akan di pakainya. Selama tinggal di apartemen tersebut Dita memang belum memasukan bajunya ke dalam lemari pakaian.
Dita yang mengira jika suaminya masih tidur dengan santai melepaskan bathrobenya, tubuh gadis itu kini benar-benar polos tanpa sehelai benang pun. Sementara Dokter Aditya yang sudah bangun mengikuti Dita ke walk in closet, niat awalnya hanya ingin memberi tahu Dita jika istrinya itu bisa memakai lemari pakaian yang ada di dalam sana, namun malah pemamdangan erotis ia ia saksikan.
Dari arah belakang Dokter Aditya bisa melihat bokong sintal milik istrinya, dengan pinggang yang begitu ramping membuat Dita terlihat sangat sexy. Pemandangan tersebut tentu saja membuat sesuatu yang tidur di balik celana sang dokter mulai menggeliat tak karuan, suhu tubuhnya juga mulai naik dengan nafas yang mulai tak beraturan.
"M-mas," pekiknya tertahan, ia langsung menyambar bathrobe dan memakainya kembali menutupi tubuh polos yang sempat di lihat suaminya.
"Kamu butuh sesuatu?" tanya Dita dengan gugup, namun pertanyaannya tak di respon oleh sang suami.
"Mas!"
"Eh, maaf aku tidak bermaksud lancang. Aku hanya ingin menyuruhmu untuk menata semua baju-bajumu di lemari yang itu," Dokter Aditya berusaha menghilangkan pikiran kotornya, pria itu lalu menunjuk lemari baju yang akan di pakai oleh Dita.
"Terima kasih," ucap Dita.
"Ya. Aku permisi."
Dokter Aditya segera keluar dari ruangan itu, ia berbegas pergi ke kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya yang memanas akibat hormon kedewasaannya yang melonjak.
Sementara itu Dita bergegas memakai bajunya, rasanya malu sekali saat suaminya melihat tubuh polosnya. Dita lalu pergi ke dapur dan berniat untuk membuat sarapan, namun setibanya di dapur ia tak menemukan apapun selain susu di dalam kulkas.
"Aku lupa belanja," ucapnya kesal.
Karena bingung harus melakukan apa, akhirnya Dita kembali ke kamar, ia akan meminta izin kepada suaminya untuk pergi belanja.
Cukup lama Dita menunggu suaminya di dalam kamar, hingga pintu kamar mandi terbuka menampilkan Dokter Aditya dengan wajah yang sangat segar. Rambutnya yang basah membuat pria itu nampak semakin tampan.
"Mas," panggil Dita saat Dokter Aditya akan masuk ke walk in closet.
"Ya, kamu butuh sesuatu?" jawab sang dokter.
"Aku mau minta izin ke kamu. Apa boleh aku belanja dan mengisi kulkas dengan bahan makanan,"tanya Dita sedikit ragu.
"Tentu saja boleh. Apertemen ini kan milikmu, kamu bebas membeli apapun yang kamu butuhkan," balas Dokter Aditya dengan santai.
"Milikku?" ulang Dita.
"Ya, aku menghadiahkan apartemen ini untukmu."
"Kamu berlebihan, aku tidak butuh apartemen ini."
"Apanya yang berlebihan. Aku hanya ingin memberikan hadiah untuk istriku. Oh ya tunggu sebentar," Dokter Aditya melangkahkan kakinya menuju nakas yang ada di sebelah tempat tidur, pria itu lalu membuka laci dan mengambil dompet yang ada di dalam sana. Ia lalu mengeluarkan sebuah kartu dan memberikan kartu itu kepada Dita.
"Mulai sekarang kartu ini milikmu. Gunakan untuk kebutuhanmu dan juga kebutuhan rumah tangga kita."
Dita tak bergeming, ia masih diam di tempat dan membiarkan tangan suaminya menggantung di udara seraya mengapit kartu sakti di antara jari-jarinya.
"Ambil," serunya lagi karena Dita tak segera menerima kartu tersebut.
"Tapi mas," ucap Dita tak enak hati, ia merasa tak pantas menerima semua kemewahan yang di berikan suaminya kepadanya.
"Tidak tapi-tapi. Ini adalah kewajibanku sebagai seorang suami. Oh ya, apa kamu keberatan jika membuatkan aku sarapan setiap pagi?"
"Tentu saja tidak. Aku akan memasak setiap hari," sahut Dita dengan cepat, setidaknya ada hal yang bisa ia lakukan untuk suaminya.
"Kalau begitu ambil ini, setelah itu kita belanja kebutuhan dapur."
Meski sedikit ragu, namun akhirnya Dita menerima kartu tak terbatas yang di berikan suaminya.
"Terima kasih."
BERSAMBUNG...