Marry me, Brother

Marry me, Brother
Keguguran



Leon F Seltzer PhD, pakar psikologi amarah dan trauma dari Amerika Serikat mengatakan rasa marah merupakan bentuk reaksi pertahanan terakhir ketika seseorang tidak bisa lagi berpikir jernih. Biasanya marah terjadi ketika lawan bicara memberikan stimulus negatif berupa provokasi, komentar negatif ataupun tindakan fisik.


"Cih," Ega meludah di depan Dokter Ilham. "Kamu pikir kami semua tidak tau siapa kamu sebenarnya? Kamu pikir Indhi bodoh sehingga mau menikahi anak dari wanita jahat yang sudah menghancurkan hidupnya? Kamu pikir kami tidak tau siapa Mariam? Wanita kejam yang telah merebut suami orang dan membunuh orang yang tak berdosa?" seru Ega dengan mata memerah, amarahnya tak bisa di bendung lagi, pria itu benar-benar akan menggila.


Dokter Ilham tak bisa menutupi keterkejutannya. Ketakutannya selama ini terjadi sudah. Bukan Indhi mengkhianatinya, tapi karena wanita itu sudah tau identitasnya yang sesungguhnya. Salahkan Dokter Ilham yang tak berusaha mencari kebenaran tentang keputusan Indhi yang memilih meninggalkannya.


"Se-sejak kapan kalian tau?" tanya Dokter Ilham dengan bibir bergetar.


"Sejak Indhi memutuskan membatalkan pernikahannya denganmu," jawab Ega ketus.


"Kenapa Indhi tidak memberi tahuku jika dia tau tentang semuanya?"


"Apa gunanya? Bagi kami berurusan dengan anak pembunuh seperti kalian tidaklah penting. Cukup mengulur waktu, lepaskan tangan kotor adikmu, biarkan aku menyeretnya ke penjara!" tukas Ega dengan suara menggelegar.


Perlahan Dokter Ilham melepaskan tangannya hingga mendapat tatapan memohon dari sang adik, sungguh Dokter Ilham tak memiliki wajah lagi untuk bertemu dengan Indhi dan keluarganya. Benar kata Ega, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, ia dan adiknya bahkan tak berhak lagi untuk hidup tenang ataupun bahagia.


"Kak, tolong aku," rengek Bella memohon pada kakaknya.


"Bawa dia dan masukkan ke dalam penjara!" tegas Dokter Ilham seraya menatap nanar adiknya.


"Ayah kecewa padamu. Ayah bahkan sudah menerimamu seperti putri sendiri, tapi perbuatanmu benar-benar memalukan Bella," sela pria tua yang sejak tadi menonton keributan tersebut.


"Bella hanya ingin membalas Indhi karena sudah meninggalkan kak Ilham, Bella ingin wanita ******* itu menangis seperti kak Ilham," teriak Bella membela diri.


Plak...


Sebuah tamparan mendarat di pipi Bella. "Beraninya kamu memanggil istriku ******* sementara kamu sendiri adalah anak seorang gun*dik," hina Ega yang telah kehilangan kesabarannya, pria yang biasanya selalu menjaga kata-katanya kini tak bisa mengontrol apapun yang keluar dari mulutnya.


"Jangan pernah menghina ibuku," teriak Bella tak terima.


"Faktanya ibumu memang seorang gun*dik, seorang pelakor yang rela meninggalkan suami serta anaknya demi mengambil sesuatu yang bukan miliknya! Berbahagialah karena aku akan mengirimmu pada ibumu, aku harap kalian membusuk di penjara!"


Ega kembali menyeret tangan Bella meski gadis itu terus memberontak,saat Ega sedang membuka pintu mobil tiba-tiba Bella menggigit tangannya sehingga gadis itu bisa melepaskan diri. Ega yang tengah di kuasai amarah mengejar Bella seperti orang yang sedang kesetanan. Tak butuh waktu lama Ega berhasil menangkap Bella lagi, kali ini ia menyeret gadis itu dengan kasar.


"Kau melakukan hal ini hanya demi wanita ******* yang tak mencintaimu sedikitpun?" ucap Bella dengan angkuhnya, ia tau ia tak bisa lari lagi, untuk itu ia ingin menyakiti Ega sebelum berakhir di penjara.


"Aku bilang jangan panggil istriku dengan sebutan itu," hilang sudah kesabaran Ega, pria itu mencekik leher Bella dan membenturkan tubuh Bella ke samping mobilnya. Cekikan Ega semakin dalam hingga membuat Bella gelagapan karena kehabisan oksigen.


Beruntungnya Dion tiba di waktu yang tepat, pria itu keluar dari mobilnya dan berlari menghampiri Ega. "Mas, kamu bisa membunuhnya dan masuk penjara," tegur Dion seraya menarik tangan Ega agar melepaskan leher Bella.


"Biarkan polisi yang menghukumnya mas, Indhi pasti sedih melihatmu gegabah seperti ini!"


"Indhi," ucap Ega bersamaan dengan mengendurnya cekikan yang hampir membunuh Bella, gadis itu terbatuk-batuk dan meraup oksigen sebanyak-banyaknya.


Bersamaan dengan itu, Arum tiba di rumah Dokter Ilham, ia segera menghampiri Ega dan memeluknya, setelah melihat leher Bella yang memerah, Arum tau jika Ega pasti telah mencekiknya. "Tenangkan dirimu kak, akan ku pastikan dia mendekam di penjara. Lebih baik kakak kembali ke Rumah Sakit dan temani Indhi, dia sangat membutuhkan kakak sekarang."


Mengingat wajah sedih istrinya, Ega segera sadar dari kegilaannya, pria itu menatap sendu Arum yang sudah di anggapnya sebagai adik. "Kakak serahkan dia padamu, pastikan dia di penjara."


"Serahkan semua padaku kak, aku akan mengurusnya," jawab Arum.


Setelah mempercayakan kasus Bella pada Arum, Ega segera kembali ke Rumah Sakit untuk menemui istrinya. Di sepanjang perjalanan pria itu hanya bisa menitikan air mata, seketika Ega menjadi pria yang lemah jika itu bersangkutan dengan Indhi, istri tercintanya.


Setelah memarkirkan mobilnya, Ega segera menuju ruang operasi tempat di mana Indhi akan melakukan proses Kuret, sebuah prosedur untuk mengeluarkan jaringan dari dalam rahim. Kuret biasanya diawali dengan dilatasi, yaitu tindakan untuk melebarkan leher rahim (serviks). Oleh karena itu, prosedur ini sering kali disebut dilatasi dan kuretase (dilation & curettage).


Setelah mendapatkan izin dari Dokter Nanda, dokter yang akan melakukan tindakan kuret, Ega kini berada di dalam ruang operasi menemani istrinya yang masih belum sadarkan diri, wanita malang itu masih terlelap dengan wajah yang begitu pucat.


Beberapa menit kemudian Dokter Nanda berhasil mengeluarkan semua jaringan yang tersisa di rahim Indhi, salah satunya adalah si janin yang sudah tak bisa di selamatkan. Ega kembali menangisi gumpalan darah yang berada di dalam wadah medis, pria itu berniat membawa pulang janin malang tersebut dan menguburnya.


Kini Indhi sudah di pindahkan ke ruang perawatan, sudah dua jam sejak proses pengangkatan janinnya di lakukan namun Indhi belum juga sadar. Ega duduk di samping Indhi sambil menggenggam tangannya, sementara bu Tika dan Dita duduk di sofa tanpa saling bertegur sapa.


Hingga sepuluh menit kemudian, Indhi mulai mengerjapkan matanya, wanita itu membuka kelopak matanya dengan perlahan dan orang pertama yang ia lihat adalah suaminya.


"Kak," ucap Indhi dengan suara begitu lemah.


"Sayang, kamu sudah bangun?" Ega langsung memeluk dan mencium kening istrinya sebagai bentuk kelegaan karena istrinya sudah sadar.


Sementara bu Tika dan Dita segera bangun dan berjalan ke sisi lain tempat tidur Indhi.


"Aku di Rumah Sakit lagi?" tanya Indhi lagi.


"Hem. Jangan banyak bicara dulu, kamu harus istirahat!"


"Kak, aku tadi pendarahan. Bagaimana dengan bayiku?"


BERSAMBUNG...