Marry me, Brother

Marry me, Brother
Pembunuh



Tidak ada yang pasti di dunia ini, bahkan langit cerah bisa berubah menjadi mendung dan bahkan turun hujan. Sama halnya dengan apa yang di alami Ega, setelah bersuka cita dengan istrinya, setibanya di Rumah Sakit pria itu mendadak murka setelah mendengar gosip miring tentang istrinya. Saat melewati koridor, Ega tak sengaja mendengar beberapa perawat tengah bergosip, awalnya Ega tak tertarik, namun setelah nama Indhi di sebut, pria itu mengurungkan langkahnya dan mendengarkan diam-diam di balik tembok.


“Eh, tau Dokter Indhi nggak?” ucap salah seorang perawat.


“Dokter Umum itu kan, adiknya Dokter Kevin dari Departemen Bedah?” perawat yang lain menimpali.


“Iya. Katanya mereka menikah loh.”


“Menikah? Bukannya mereka saudara?”


“Mereka bukan saudara kandung.”


“Eh, bukannya Dokter Indhi itu menikah sama Dokter Ilham ya, malaikat dari Bedah Saraf.”


“Pernikahan mereka batal, katanya sih Dokter Indhi yang mutusin karena ketauan selingkuh sama Dokter Kevin."


"Kok gitu sih?"


"Dari yang aku denger sih, Dokter Indhi emang udah suka sama kakaknya sejak lama, dia bahkan sampai menggoda Dokter Kevin dengan tubuhnya, Dokter Ilham cuma di jadiin pelarian aja sih!"


"Ih, nggak nyangka aku ya, padahal kelihatannya orangnya alim."


"Justru yang alim malah suka bikin kejutan."


Perawat itu lalu tertawa bersama tanpa menyadari jika Ega mendengarkan semua gosip murahan yang mereka bicarakan, dengan perasaan jengkel Ega kembali ke ruangannya, pria itu duduk menangkan diri karena ia harus melakukan operasi dalam beberapa menit ke depan. Ega lalu meraih ponselnya dan menghubungi istirnya, tak lama panggilan telefon mereka tersambung.


"Hallo kak, kakak sudah sampai?" tanya Indhi di seberang sana.


"Hem, baru saja. Kamu lagi apa?" jawab Ega.


"Tiduran di kamar. Tumben kakak telfon?"


"Aku kangen."


"Baru saja ketemu masa udah kangen."


Terdengar ketukan pintu di tengah panggilan mereka, Ega menarik nafas berat karena harus mengakhiri telefonnya. "Aku ada operasi dan sedikit gugup, jadi aku ingin mendengar suaramu, aku tutup telfonnya ya, i love you wife," ucap Ega sebelum mengakhiri panggilannya.


"Masuk," seru Ega pada seseorang yang mengetuk pintu, saat pintu terbuka seorang perawat masuk dan menghampiri Ega.


"Maaf dok, pasien yang akan di operasi pagi ini terpaksa di undur karena kadar gulanya sangat tinggi," jelas sang perawat.


"Tolong hubungi Dokter Spesialis Dalam, diskusikan mengenai kadar gulanya dan minta dosis yang tepat untuk insulin, pasien harus di operasi pagi ini, jika tidak saya khawatir kondisinya akan semakin memburuk."


"Baik dok," perawat itupun keluar dari ruangan Ega.


Ega memijat pelipisnya, kepalanya terasa berat, namun bukan karena tekanan pekerjaannya melainkan gosip yang tersebar mengenai istrinya, ia khawatir jika besok Indhi bekerja dan gosip itu akan mengganggu Indhi.


***


Di tempat lain, tepatnya di sebuah kantor polisi, Bella dan ibunya sedang tertawa bersama setelah mendengar jika gosip yang di sebarkan oleh Bella telah menjadi topik hangat di kalangan dokter dan perawat. Gadis itu tak segan-segan memfitnah kakak tirinya demi membalas dendam, matanya telah tertutup akibat pengaruh sang ibu.


"Kamu memang hebat Bella," puji Mariam, wanita gila itu menyeringai sambil menatap anaknya penuh kebanggaan.


"Awalnya aku tidak ingin bertindak sejauh ini bu, tapi melihat kak Ilham menderita membuat Bella juga merasakan sakit, untuk itu Bella berjanji akan menghancurkan hidup wanita mur*ahan itu!" geram Bella dengan sorot mata di penuhi amarah.


"Bagus Bella, balas dendam kakakmu, balas dendam ibu juga pada mereka, jika bukan karena mereka hidup kita tidak akan seperti ini," Mariam terus saja mempengaruhi anaknya, wanita itu sama sekali belum berubah, padahal semua yang terjadi di dalam hidupnya adalah sebab dari perilaku buruknya di masa lalu. Jika dia tidak jatuh cinta pada suami orang dan memilih meninggalkan keluarganya mungkin saja kini Mariam tengah duduk santai sambil mengasuh cucunya, jika saja ia tak memendam dendam, wanita itu mungkin tidak akan menjadi seorang pembunuh dan harus terjebak di kantor polisi selamanya.


***


Hampir mendekati jam makan siang, Indhi bersemangat ingin menyusul suaminya ke Rumah Sakit dan membawakan makan siang untuknya, meskipun ia tidak memasaknya sendiri, tapi Indhi yakin jika suaminya akan sangat senang. Setelah membeli makan siang di salah satu restoran favorit sang suami, Indhi mengendarai mobilnya menuju Rumah Sakit, gadis itu tersenyum saat membayangkan ekspresi wajah suaminya.


Setengah jam berlalu, Indhi memarkirkan mobilnya dan segera masuk ke dalam Rumah Sakit, di area lobby ia tak sengaja bertemu dengan Bella, nampaknya gadis itu baru datang, Bella menyapa sok ramah, namun Indhi hanya melewatinya tanpa membalas sapaan dari adik tirinya.


Indhi pergi ke Departemen Bedah Umum, tepat dimana kantor suaminya berada, namun saat tiba di sana, salah seorang perawat memberi tahu jika Ega sedang melakukan operasi, setelah Indhi pergi, perawat itu mulai bergosip.


"Itu kan orangnya," ucap seorang perawat.


"Iya dia, nggak tau malu banget ya."


"Aku kasian banget sama Dokter Ilham, bisa-bisanya pria tampan dan pintar itu di campakkan."


"Jangan begitu, kita tidak tau masalah apa yang terjadi di antara mereka, jangan asal menuduh, kalian bisa kena pasal pencemaran nama baik loh," salah seorang perawat senior mencoba untuk bijak dalam menanggapi gosip yang tengah ramai di perbincangkan.


Indhi melangkahkan kakinya menuju ruang operasi, ia berniat menunggu kakaknya di depan ruangan itu, namun sebelum sampai di sana, Indhi mendengar keributan, gadis itu mempercepat langkahnya, ia begitu syok saat melihat suaminya tengah berlutut di hadapan seorang wanit paruh baya yang tengah memakinya.


"Dasar pembunuh!" ucap wanita itu seraya menunjuk kepala Ega


Melihat hal tersebut tentu saja membuat Indhi geram, seumur hidupnya baru kali ini ia melihat Ega di permalukan di depan umum, dengan cepat Indhi mengampiri suaminya.


"Ada apa ini? kenapa kakak berlutut?" tanya Indhi sambil menatap Ega dan wanita paruh baya itu secara bergantian, karena tak kunjung mendapat jawaban, Indhi berusaha untuk membangunkan suaminya.


"Kak bangun!" Seru Indhi seraya menarik tangan Ega namun pria itu justru menepis tangan Indhi.


"Sebenarnya apa yang terjadi bu, kenapa anda marah-marah dan memaki Dokter Kevin?" Indhi kembali mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Dia adalah pembunuh, dia seorang pembunuh," teriak wanita itu secara histeris, teriakannya mampu mengundang orang-orang berkerumun.


"Lihatlah kalian semua, dokter ini adalah seorang pembunuh!"


BERSAMBUNG...