Marry me, Brother

Marry me, Brother
Hari Pernikahan



Beberapa hari kemudian, tibalah waktu yang tunggu, yaitu pernikahan Dita dan Dokter Aditya. Sebuah pernikahan sederhana yang hanya di hadiri kerabat dekat dan teman kedua mempelai.


Pernikahan di adakan di sebuah tempat ibadah yang tak jauh dari kediaman keluarga mempelai wanita. Terlihat Dokter Aditya sudah bersiap di altar pernikahannya. Pria yang biasanya selalu terlihat tenang itu, kini wajahnya nampak sedikit pucat dengan tubuh yang hampir seluruhnya bergetar hebat.


Krieett...


Pintu ruangan terbuka, jantung Dokter Aditya berpacu dengan hebatnya. Pria itu meremas buku-buku jarinya, keringat dingin mulai menetes di pelipis pria itu.


Tak lama, Dita masuk ke dalam ruangan tersebut dan menghampiri calon suami yang sudah menunggunya di altar pernikahan mereka. Dokter Aditya tak bisa berkata-kata saat melihat penampilan calon istrinya, ia tak menyangka Dita akan berubah menjadi gadis yang sangat cantik dalam balutan kebaya broken white lengkap dengan veil yang menutup rambutnya.


Kini kedua mempelai saling berhadapan, keduanya saling menatap dan diam-diam saling mengagumi.


"Kalian sudah siap?" tanya sang pemuka agama yang akan memimpin acara sakral yaitu pengucapan janji suci keduanya.


Kedua mempelai mengangguk bersamaan, setelah itu pemuka agama tersebut merapalkan doa-doa sebelum acara suci tersebut di mulai.


Dan setelah proses yang cukup panjang, Dita dan Dokter Aditya akhirnya resmi menjadi sepasang suami istri. Keduanya mengucapkan sumpah pernikahan secara hikmat dan penuh haru.


Dokter Aditya maju satu langkah sehingga jarak mereka semakin dekat, pria itu sempat ragu saat akan mencium Dita sebagai tanda jika gadis itu sudah resmi menjadi istrinya.


"Maaf," bisiknya pelan sebelum sebuah kecupan mendarat di bibir Dita, sebuah kecupan singkat nan hangat yang pertama kali mereka lakukan dalam keadaan sadar dan dalam status yang berbeda, mereka kini telah resmi menjadi sepasang suami istri.


Setelah acara pemberkatan selesai, anggota keluarga serta teman-teman terdekat mulai mengucapkan selamat untuk kedua pasangan tersebut. Nampak kedua orang tua Dita dan adik-adiknya menangis haru sambil memeluk gadis cantik yang sudah resmi menjadi seorang istri.


Kini giliran Arum dan Dion yang akan mengucapkan selamat untuk Dita, gadis tomboy itu terlihat menangis namun senyumnya begitu lebar. "Ah astaga, dan benar saja aku yang paling terakhir menikah," ucap Arum kembali mengenang masa lalu, masa di mana mereka bertiga berkesimpulan jika kelak Arum lah yang akan terakhir menikah karena terlalu sibuk mengejar Dion. "Selamat untukmu, semoga menjadi keluarga yang di berkahi oleh cinta," imbuhnya di iringi oleh doa tulus, kedua gadis itu lalu saling memeluk.


Kini tiba giliran Indhi dan Ega yang akan memberikan ucapan selamat, Ega menyalami Dita dan hanya mengucapkan sebuah kalimat yang cukup singkat. "Selamat berbahagia," ucapnya sambil menyalami Dita, pria itu lalu menghampiri sahabatnya dan kedua pria itu saling berpelukan. "Semoga selalu bahagia. Dan ingat,pernikahan itu suci, cukup sekali seumur hidup," pesan Ega sambil menepuk bahu sahabatnya.


"Terima kasih Vin, aku akan selalu mengingat pesanmu," jawab pengantin pria dengan sebuh senyum yang sukar di artikan.


Di sisi lain, Indhi berdiri sambil menatap Dita yang tak henti-hentinya menitikan air mata, di sekanya wajah cantik sang sahabat. "Berhentilah menangis, riasanmu bisa luntur," ucap Indhi mencoba menenangkan Dita, namun gadis itu tak bisa menahan air matanya, rasa sesal, malu, marah pada diri sendiri masih membelenggu hatinya.


"Te-terima kasih," ujar Dita dengan suara tersedu. "Terima kasih karena tetap mau menjadi sahabatku," imbuhnya dengan linangan air mata yang semakin deras.


"Tidak perlu berterima kasih, kita sahabat dan selamanya akan tetap seperti itu. Aku mohon lupakan rasa bersalahmu. Cukup ingat itu sebagai pelajaran hidup yang berharga. Aku mohon bebaskan hatimu dari rasa bersalah dan berbahagialah," balas Indhi dengan bijak, wanita itu lalu memeluk tubu Dita yang masih bergetar karena menangis sesegukan.


Sementara kedua pria yang berdiri di samping mereka, menatap kedua sahabat itu dengan sendu. Keduanya sama-sama mengagumi sikap Indhi yang sangat bijak.


"Lembutnya hatimu yang membuatku jatuh cinta padamu Ndi. Namun, aku harus mengubur dalam-dalam perasaan ini karena aku harus belajar menerima Dita," batin Dokter Aditya seraya menatap Dita dan juga Indhi yang masih berpelukan.


"Bagaimana aku tidak mencintaimu, sementara kamu adalah jelmaan bidadari dengan hati yang begitu lembut," Ega membatin, pria itu sangat bersyukur memiliki Indhi.


Kembali pada kedua sahabat yang masih saling memeluk.


"Sudah, jangan menangis. Ini adalah hari bahagiamu. Selamat untukmu dan aku berdoa semoga bahagia menyertai rumah tangga kalian," kata Indhi setelah mengurai pelukannya.


"Terima kasih banyak doanya Ndi," jawab Dita sambil tersenyum.


Kini Indhi berganti pada mempelai pria yang sudah di anggapnya sebagai kakak, wanita itu tersenyum saat kedua manik mereka saling bertemu. "Selamat menempuh hidup baru kak, semoga kalian selalu bahagia. Dan jangan sakiti Dita jika tidak ingin merasakan tinjuku," ucap Indhi masih dengan wajah tersenyum.


"Boleh aku memelukmu?" tanya Dokter Aditya yang sontak membuat Indhi dan Ega terkejut.


"Tidak boleh," sahut Ega dengan cepat.


"Pelit sekali, aku hanya ingin memeluk adikku," kilah Dokter Aditya, padahal ia hanya ingin memeluk Indhi untuk yang terakhir kalinya sebelum ia benar-benar menghapus nama Indhi dari hatinya. Sebelum pernikahan, Dokter Aditya sempat meminta izin kepada Dita untuk melakukan hal ini dan Dita mengizinkannya. Bagimanapun Dita juga merasakan sakitnya cinta tak sampai, untuk itu ia membiarkan sang suami melepaskan perasaannya kepada sahabatnya.


"Tentu saja boleh kak," sela Indhi, ia lalu melirik Dita. "Boleh aku pinjam suamimu sebentar kan?" tanyanya pada Dita yang kini resmi menjadi istri Dokter Aditya.


"Tentu saja, tapi hanya sebentar ya," jawab Dita sambil terkekeh.


Tanpa memperdulikan Ega, si mempelai pria segera memeluk tubuh Indhi, tubuh yang selalu ingin di peluknya sejak dulu. Dokter Aditya memeluk Indhi dengan erat, melampiaskan semua perasaan tak terpendamnya yang sudah ia simpan bertahun-tahun lamanya.


"Terima kasih cinta pertamaku. Aku akan melupakanmu sekarang," bersamaan dengan kalimat yang berbunyi di dalam hatinya, Dokter Aditya melepaskan pelukannya dan tersenyum saat melihat wajah Indhi yang menurutnya masih sangat cantik sama seperti saat ia bertemu beberapa tahun yang lalu.


"Jika bukan hari pernikahanmu aku pasti sudah memukulmu," protes Ega tak terima istrinya di peluk orang lain.


"Dasar pelit," ujar Dokter Aditya sambil terkekeh, padahal ia sedang menyembunyikan rasa sakit di hatinya.


"Ayo sayang, kita pulang sekarang," ajak Ega seraya menarik lembut tangan istrinya, ketiga orang yang ada di sana hanya terkekeh melihat sikap posesif Ega pada istrinya.


Acara pernikahan telah usai, semua tamu sudah pulang. Dokter Aditya dan Dita pun sudah berada di apartemen Dokter Aditya karena mulai sekarang mereka akan tinggal bersama di apartemen mewah itu.


Setelah membersihkan tubuh mereka, kini keduanya duduk di tepi tempat tidur.


"Mamah mungkin akan sering datang, jadi mau tidak mau kita harus tidur di kamar yang sama. Kamu bisa tidur di ranjang dan aku akan tidur di sofa," ucap Dokter Aditya memecahkan keheningan.


Dita menoleh ke arah suaminya, ia merasa tak enak hati jika Dokter Aditya harus tidur di sofa. "Biar saya saja yang tidur di sofa dok."


"Berhentilah memanggilku dengan sebutan itu. Mama bisa curiga. Dan jangan terlalu formal padaku. Kita sudah menikah, rasanya aneh kalau kamu masih memakai bahasa formal saat berbicara denganku!"


"Tapi..."


"Tidak ada tapi-tapian, kamu bisa memanggilku mas atau kakak terserah kamu saja asal jangan panggil aku Dokter Aditya," ucapnya memberi saran.


"Akan sa.. Akan aku coba mas," ucap Dita dengan gugup, begitupun dengan Dokter Aditya yang merasa grogi saat di panggil dengan sebutan mas.


"Dan untuk masalah tidur. Aku akan tidur di sofa," imbuh Dita lagi.


"Tidak, biar aku saja."


"Aku saja mas."


"Aku saja."


"Baiklah kalau begitu kita tidur bersama saja mas."


BERSAMBUNG...