
Malam sebelum berangkat ke luar kota, Indhi sedang membantu suaminya membereskan beberapa baju dan perlengkapan yang akan di bawa Ega. Entah sejak kapan ini di mulai, Indhi merasa jika akhir-akhir ini ia selalu ingin menempel dengan sang suami, kadang Indhi berfikir mungkinkah karena ia telah mencintai suaminya atau karena ia sudah terbiasa selalu dekat dengan Ega?
"Kak apa lagi yang di bawa?" tanya Indhi pada Ega yang masih sibuk dengan laptopnya.
"Semua yang aku sebut udah di masukin?" sahut Ega, pria itu menatap istrinya sejenak sebelum kembali menatap laptopnya.
"Udah."
"Terima kasih sayang."
Indhi tak merespon, ia lalu mengemas koper suaminya setelah semua yang di butuhkan oleh Ega masuk ke dalam koper. Indhi lalu menghampiri suaminya yang duduk di sofa.
"Kak," panggil Indhi dengan suara sedih.
"Kenapa?" Ega meletakkan laptopnya di meja, pria itu memiringkan tubuhnya sehingga bisa berhadapan dengan Indhi.
"Apa harus kakak yang berangkat seminar, memangnya tidak ada dokter lain yang bisa gantiin?" tanya Indhi.
"Tidak ada, semua dokter sibuk dan direktur ingin aku yang mewakili Rumah Sakit dalam seminar itu," jelas Ega dengan hati-hati, ia tau jika Indhi berharap ia tak berangkat ke luar kota. "Apa aku minta izin saja? Biar dokter lain yang menggantikannya?" imbuh Ega tak tega melihat wajah sedih istrinya.
"Jangan. Nanti pak direktur pasti marah." cegah Indhi dengan segera.
"Hanya tiga hari, aku akan langsung pulang segelah seminar selesai."
"Baiklah," Indhi akhirnya melepaskan suaminya untuk pergi ke luar kota meski sebenarnya hatinya sangat berat untuk melepaskan kepergian Ega.
"Sudah malam, ayo tidur."
Ega menuntun istrinya menuju ranjang, pria itu membantu istrinya untuk berbaring lalu menyelimuti tubuh sang istri, tak lupa Ega mengecup kening Indhi sebelum pria itu menyusul istrinya ke atas kasur.
Masih dalam mode tak rela di tinggal seminar selama tiga hari, Indhi menggeser tubuhnya dan memeluk pinggang Ega dengan erat, sementara wajahnya ia sembunyikan di dada Ega, wangi tubuh suaminya benar-benar membuatnya merasa tenang. Namun sesuatu yang tak di kehendaki justru terjadi, Indhi merasakan sesuatu yang aneh di tubuhnya, seketika darahnya terasa berdesir dan tubuhnya terasa panas. Wanita itu menggigit bibir bawahnya untuk menekan hormon dewasanya yang kini berada di ujung kepala.
"Kenapa aku ingin melakukannya? Tahan Indhi, tahan, kamu harus menahannya," batin Indhi seraya mengatur nafasnya yang berderu.
Namun nyatanya ucapan dan tindakannya tidak selaras, bibirnya terus berkomat-kamit agar bisa menahan diri namun sayangnya jemari lentiknya kini sudah berada di dalam kaos sang suami dan memberikan sentuhan eksotis di sana.
"Apa kamu ingin melakukannya?" tanya Ega setelah merasa mendapat kode dari istrinya.
Indhi tak menjawabnya dengan kata-kata, wajahnya yang bergerak mendekati wajah Ega sudah lebih cukup memberi tanda jika wanita itu menginginkan suaminya. Entah apa yang terjadi, malam ini Indhi begitu agresif, wanita itu melu*mat bibir suaminya dengan rakus, bahkan kini Indhi yang tengah memimpin permainan, entah sejak kapan Indhi sudah berada di atas tubuh suaminya. Bibirnya bergerak dengan liar menyapu rongga mulut suminya, puas dengan lilitan lidah, kini Indhi berganti menyapu leher hingga dada suaminya dengan lidah.
Tak sampai di sana, Indhi bahkan telah berhasil membebaskan pedang panjang milik suaminya, setelah itu gaya makan ice creampun tak bisa di hindari.
"Sayang jangan membuatku gila, aku ingin sekarang," oceh Ega saat Indhi masih asyik bermain dengan dua bola yang ada di bagian bawah tubuhnya.
Gerakan pinggang Indhi yang semakin cepat membuat Ega tak berdaya, ia tak menyangka istrinya begitu cepat belajar dalam memuaskannya, Indhi kini masih berjuang meraih rasa nikmat, menggerakan tubuhnya dengan liar di atas tubuh suaminya.
"Sayang aku ... Ahhh ..."
Lenguhan panjang mengiringi rasa nikmat yang menjalar di sekujur tubuh Indhi, setelah pelepasan pertamanya gadis itu terkulai lemah di atas tubuh sang suami, sementara pedang panjang yang masih menancap di intinya masih belum di puaskan.
Pedang panjannya yang semakin berdenyut membuat Ega mengambil alih permainan, ia memeluk istrinya lalu menukar posisi mereka, kini tubuh mungil Indhi berada di bawah kungkungan Ega. Tanpa menunggu lebih lama, Ega segera bergerak demi mencapai klimaksnya.
Suara des*ahan dari mulut kedua manusia itu saling bersahut-sahutan memenuhi kamar mereka, sepasang suami istri itu tengah merengkuh nikmatnya surga dunia. Hingga tiga puluh menit kemudian, lenguhan panjang mengakhiri adegan panas mereka.
"Terima kasih," ucap Ega seraya memeluk istrinya.Sementara Indhi kembali menyembunyikan wajahnya karena terlalu malu, bagaimana bisa ia yang meminta duluan, bukankah itu sangat memalukan?
"Katakan saja kalau kamu menginginkannya. Bercinta adalah kebutuhan batin setiap manusia, tidak perlu malu untuk mengatakannya. Toh aku suamimu, dengan senang hati aku akan membuatmu puas.".
"Aku malu," desis Indhi dari dalam pelukan suaminya.
"Untuk apa malu, aku kan suamimu!"
"Tetap saja aku malu kak."
"Kak lagi."protes Ega karena Indhi kembali memanggilnya kakak, padahal tadi Indhi sudah memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Kenapa?"tanya Indhi pura-pura bodoh.
"Aku suamimu sekarang, tidak bisakah kau ganti nama panggilanku?"
"Ganti apa? Mas atau abang?" ledek Indhi seraya menahan senyum.
"Panggil aku sayang, hubby atau dear mungkin, suamiku juga boleh," kata Ega memberi saran.
"Aneh ah. Kakak lebih pas," tolak Indhi.
"Coba dulu. Coba panggil aku sayang, ayolah aku ingin dengar," bujuk Ega tak menyerah.
"Nggak mau, wleee," Indhi meledek suaminya sambil menjulurkan lidah, namun tanpa Indhi sangak lidahnya justru menjadi sasaran empuk suaminya. Ciuamanpun tak terhindarkan, keduanya kembali mencumbu satu sama lain.
"Aku tidak akan berhenti sampai kamu memanggilku sayang," Ancam Ega yang kini sudah mengungkung tubuh istrinya, mereka berdua kembali mengulangi momen panas mereka dengan penuh gairah.
BERSAMBUNG...