
Jam menunjukkan pukul tiga dini hari saat Ega mulai menggerakkan jari-jarinya, dan perlahan matanya mulai terbuka, Ega mengerjapkan matanya berkali-kali saat cahaya lampu menembus pupilnya, saat matanya sudah bisa menyesuaikan cahaya lampu, ia mulai mencari keberadaan istrinya.
"Indhi," ucapnya sekuat tenaga, namun hanya gumaman yang keluar dari mulutnya.
"Sayang," panggilnya lagi.
Sementara itu, bi Sumi yang sempat terlelap langsung membuka matanya saat sayup-sayup mendengar sebuah suara.
"Mas Ega, mas sudah bangun?" pekik bi Sumi, rasa kantuknya seketika hilang saat melihat Ega membuka matanya.
"Bi, dimana Indhi?" tanya Ega dengan suara serak.
"Non sedang tidur mas, apa mau bibi bangunin?"
"Tidak usah bi, biarkan saja dia istirahat."
Bi Sumi mengangguk, ia tidak jadi membangunkan Indhi namun ia langsung menekan nurse call dan tak lama setelah itu seorang perawat masuk ke dalam ruangan Ega.
"Anda sudah bangun pak?" tanya perawat itu seraya memeriksa kondisi Ega, mulai dari mengecek tensi darah, saturasi oksigen serta tanda-tanda vital lainnya. "Apa ada keluhan pak?" tanya perawat itu setelah memastikan kondisi Ega stabil.
"Kenapa tangan kiri saya di gips?" Ega melirik tangan kirinya yang di balut gips.
"Tangan kiri anda mengalami patah tulang pak," jelas perawat tersebut.
Ega menghembuskan nafas berat, sebagai seorang ahli bedah, tentu saja kondisi tangannya yang patah membuat Ega khawatir, bagaimana jika ia tak bisa memegang pisau bedah lagi, lalu apa artinya seorang ahli bedah jika tidak bisa melakukan operasi lagi.
"Kondisi anda sudah stabil, kalau begitu saya permisi dulu. Segera hubungi kami jika anda memiliki keluhan."
"Terima kasih sus," ucap bi Sumi.
"Sama-sama," perawat itu lalu keluar dari ruangan Ega.
"Mas Ega butuh sesuatu?" tanya bi Sumi yang sejak tadi melihat kesedihan di wajah Ega.
"Tidak bi, terima kasih. Lebih baik bibi istirahat, Ega juga mau tidur lagi," ucap Ega pelan, lagi-lagi pria itu menghembuskan nafas berat dan matanya kembali menutup, saat ini yang Ega butuhkan adalah istirahat, setelah kondisi tubuhnya membaik ia akan memikirkan cara agar tangannya bisa pulih seperti sedia kala.
Namun hingga matahari menampakan diri Ega masih terjaga, ia tak bisa tidur karena terus memikirkan kondisi tangannya. Hingga ia mendengar pergerakan dari istrinya, Ega berpura-pura menutup matanya kembali.
Di sisi lain, Indhi terbangun karena ia merasa haus. Setelah minum, wanita hamil itu menghampiri suaminya yang masih terbaring di atas tempat tidur. Indhi melirik bi Sumi yang tertidur sambil duduk, kemudian Indhi mendekatkan wajahnya ke wajah sang suami.
"Sayang, kenapa belum bangun. Cepat bangun, jangan membuatku takut," ucap Indhi tepat di telinga suaminya.
"Kalau kamu bangun, aku janji akan melakukan semua hal yang kamu inginkan. Aku tidak jadi kuliah di luar negeri kalau kamu menginginkan hal itu, atau aku akan mengambil cuti selama aku hamil seperti yang kamu inginkan sebelumnya," sambung Indhi panjang lebar.
"I love you hubby, cepat bangun karena aku sangat merindukanmu!"
Indhi tak bisa menahan air matanya, buliran bening kembali lolos tanpa seizinnya, wanita hamil itu terisak di dekat telinga sang suami.
"Aku juga sangat mencintaimu sayang."
Indhi langsung mengangkat kepalanya, wanita itu menatap wajah suaminya dengan tajam, berkali-kali Indhi menyapu kedua matanya, berharap apa yang di lihatnya bukan hanya halusinasi.
"Aku sudah bangun, jadi berhentilah menangis!" ujar Ega, seutas senyum terbit di bibir pucatnya.
Hiks....
Bukannya diam, Indhi justru semakin terisak, bahkan tangisannya mampu membangunkan bi Sumi dan juga bu Tika yang sedang terlelap.
Indhi segera memeluk tubuh suaminya, ia menangis sejadi-jadinya di atas dada Ega. Sementara itu bu Tika yang terkejut segera menghampiri Indhi yang sedang memeluk suaminya.
"Apa yang terjadi, kenapa kamu menangis?" tanya bu Tika karena belum menyadari jika putranya sudah siuman.
"Mas Ega sudah bangun bu," bi Sumi menjawab rasa penasaran majikannya itu.
"Bener bi?" tanya bu Tika tak percaya.
"Oh ya Tuhan terima kasih banyak Kau telah mengembalikan putraku," ucap bu Tika penuh syukur.
"Sayang, tanganku sakit," pekik Ega, sesaat kemudian Indhi melepaskan pelukannya, lihatlah wajahnya berlinang air mata bahkan hidungnya mengeluarkan ingus.
"Maaf kak," sesalnya seraya menyeka air matanya.
"Hapus ingusmu sayang," ujar Ega menggoda istrinya.
Indhi tak berkomentar, wanita itu segera mengambil tisu dan menyeka hidungnya yang memang berair. "Sejak kapan kakak bangun?" tanya Indhi setelah ia tenang.
"Sekitar jam 3 pagi non," sahut bi Sumi.
"Apa? Kenapa bibi tidak membangunkanku?" protes Indhi dengan kesal.
"Mas Ega yang melarang bibi non, katanya kasihan non Indhi lagi istirahat," jawab bi Sumi mengulang perintah Ega saat pria itu baru saja bangun.
"Aku sangat takut kehilagan kakak," Indhi memeluk suaminya dengan hati-hati, rasa syukur dan kelegaan memenuhi hatinya.
"Aku akan selalu bersamamu," bisik Ega, tangan kanannya yang terulur mengusap kepala istrinya. "Oh ya, bagaimana kondisi tuan Hendarwan?" tanya Ega khawatir.
"Operasinya berjalan lancar, beliau ada di ruang perawatannya," jawab Indhi.
"Operasi?" ulang Ega terkejut.
"Ya, benturan keras di kepala membuat tuan Hendarwan mengalami pendarahan otak, untung saja dokter bisa menghentikan pendarahan di otaknya," jelas Indhi setelah ia melepaskan pekukannya.
"Sayang, bisa bantu aku menemui tuan Hendarwan?"
"Kakak yakin?"
"Ya, kondisiku baik-baik saja, kecuali tangan ini."
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengambil kursi roda terlebih dahulu," ucap Indhi, wanita hamil itu lalu keluar dari ruang rawat suaminya, sebenarnya bi Sumi sudah menawarkan diri untuk mengambilkan kursi roda namun Indhi menolaknya.
Sesaat kemudian, Indhi kembali masuk dan sambil mendorong kursi roda, dengan hati-hati Indhi membantu Ega turun dari tempat tidurnya dan mendudukannya di atas kursi roda.
"Ibu ikut ya," pinta bu Tika, ia juga ingin melihat kondisi tuan Hendarwan, biar bagaimapun ia banyak berutang budi kepada pria itu.
"Kita tinggal dulu ya bi" ucap Indhi, lalu ia mendorong kursi roda suaminya menuju ruangan tuan Hendarwan.
Indhi dan Ega serta bu Tika telah sampai di depan ruangan VVIP, sejak pagi tadi tuan Hendarwan sudah di pindahkan ke ruang rawat inap, setelah mengetuk pintu, Indhi masuk ke dalam ruangan tersebut. Nampak Dita yang tertidur di atas sofa dan berbantalkan paha Dokter Aditya , sementara mama Mayang sedang duduk di samping ranjang suaminya.
"Kevin," pekik mama Mayang, wanita itu lalu berdiri dan menghampiri Ega. "Bagaimana kondisi mu nak?" tanya mama Mayang.
"Kevin baik, bagaimana kondisi tuan Hendarwan?"
"Menurut dokter kondisinya sudah stabil," jawab mama Mayang penuh syukur.
"Syukurlah kalau begitu."
Di tengah perbincangan mereka, tuan Hendarwan terbangun dari tidurnya, ia mendengar dengan jelas suara Ega berada di ruangannya.
"Kevin," panggil nya dengan lemah.
Mama Mayang segera menghampiri suminya, begitupun dengan Ega.
"Papah baik-baik saja kan?" tanya Ega seraya menatap sendu pria yang terbaring di hadapannya.
"Papah?" batin Indhi, sejak kapan suaminya memanggil tuan Hendarwan dengan sebutan papah? meski Penasaran namun Indhi memilih diam.
"Papah baik." jawab tuan Hendarwan pelan. "Vin, ada hal yang ingin papah katakan padamu,"
BERSAMBUNG....