Marry me, Brother

Marry me, Brother
Belas kasih



Pagi yang kacau,Ega menghempaskan bokongnya ke atas kursi kerjanya, di pijatnya kedua sisi pelipis akibat kepalanya yang berdenyut. Berkali-kali pria itu membuang nafas kasar, mengingat kejadian beberapa menit lalu saat ia dan Dita menjadi bahan tontonan, sudah dapat Ega pastikan setelah ini gosip antara ia dan Dita akan segera tersebar seantero Rumah Sakit.


Tok...tok..tok


Seseorang mengetuk pintu, saat pemilik ruanga belum mengizinkan tamunya masuk, pintu sudah lebih dulu terbuka. Ega mengangkat kepalanya dan lagi-lagi membuang nafas kasar saat melihat sahabatnya menerobos masuk ke dalam ruangannya.


"Aku belum mengizinkanmu masuk," gerutu Ega pada sahabatnya.


"Urgent!" jawab Dokter Aditya dengan cepat, pria itu lalu menarik kursi yang ada di hadapan Ega dan duduk di sana. "Lihat ini," Dokter Aditya memberikan ponselnya kepada Ega.


Ega mengamati ponsel tersebut dengan seksama, sesekali ia menggeser layar dan ekspresi wajahnya semakin muram. "Siapa yang menyebarkan ini?" tanya Ega dengan rahang mengeras.


"Kata perawat yang memberi info kepadaku, katanya foto kalian tersebar di grub chat perawat Rumah Sakit ini," jawab Dokter Aditya sambil merebut kembali ponselnya, gawai pintar yang bisa di tekuk itu harus ia selamatkan sebelum Ega melemparkannya.


"Dit, bisa tolong bantu aku lagi?" pinta Ega dengan sungguh-sungguh.


"A-apa?" Dokter Aditya menjawabnya dengan gamang, sejauh mereka berteman belum pernah sedikitpun Ega meminta bantuannya dengan wajah seserius itu.


"Tolong hapus semua foto-foto itu, aku tidak ingin istriku melihatnya Dit."


"Akan aku coba, tapi aku tidak yakin bisa menghapus semuanya," ujar Dokter Aditya ragu.


"Setidaknya jangan biarkan mereka membicarakan foto ini lagi!"


"Oke. Sekarang aku harus pergi dan akan menyelesaikan masalah ini secepat mungkin," setelah berpamitan, dokter tampan itu keluar dari ruangan sahabatnya. Bukannya langsung kembali ke ruangannya, Dokter Aditya justru menemui perawat yang bertugas di polinya.


"Pagi dok," sapa perawat yang sedang berjaga dengan ramah.


"Pagi sus," balas Dokter Aditya tak kalah ramah, pria itu mendekati sang perawat yang berada di balik meja kerjanya.


"Sus, boleh aku minta bantuan?" tanya Dokter Aditya sambil tersenyum, baginya senyum indah miliknya adalah susuk pemikat lawan jenis, padahal ia memang sudah tampan sejak lahir.


"Boleh dok, apa yang bisa saya bantu?" jawab perawat itu dengan sopan.


"Kamu punya grub chat perawat Rumah Sakit ini?"


"Punya dok, ada apa ya?"


"Mana, aku ingin melihatnya!" pinta Dokter Aditya yang terdengar seperti pemaksaan.


"Dasar tukang gosip," gumamnya setelah membaca percakapan yang sebagian besar tentang gosip terbaru dan terpanas di Rumah Sakit.


Dokter Aditya tak sabar ingin menegur para perawat tersebut, ia lalu menekan dan menahan tombol berbentuk mikrofon, pria itu siap mengirim voice note kepada penghuni grub chat tersebut.


"Selamat pagi. Saya Dokter Aditya Syahputra dari Poli Radiologi, bersama dengan pesan suara yang saya kirimkan pagi ini, saya ingin menyampaikan kepada siapa saja yang masih menyebarkan foto tentang Dokter Kevin dan Suster Dita maka akan di pecat saat itu juga," ucap Dokter Aditya mengirim pesan suara yang sudah di rekamnya.


Ancaman calon rich uncle tersebut tentu saja langsung di respon oleh perawat yang ada di dalam grub chat.


"Baik Dokter Aditya, kami akan segera menghapusnya, tolong jangan pecat kami!"


Dokter Aditya tersenyum bangga saat membaca balasan dari beberapa perawat yang ketar-ketir di buatnya, dokter yang kini berusia tiga puluh sembilan tahun itu menyugar rambutnya ke belakang dengan penuh percaya diri.


"Jangan panggil aku Aditya kalau menangani hal sepele seperti ini saja tidak bisa," batinnya menyombongkan diri.


Setelah menyelesaikan masalah pergosipan, Dokter Aditya mengembalikan ponsel yang di pinjamnya. "Thanks," ucapnya seraya mengedipkan sebelah matanya. Perawat tersebut menerima ponselnya dengan jantung yang hampir melompat keluar, astaga Dokter Aditya sangat tampan, kaya lagi, benar-benar pria idaman, batinnya sambil membayangkan menjadi kekasih dokter rich itu.


Dokter Aditya berencana kembali ke ruangannya, pria itu berjalan dengan dua tangan masuk ke dalam saku celananya, langkahnya yang ringan di iringi siulan dari bibir yang berwarna pink alami, benar-benar sosok yang sangat di gandrungi para wanita, namun entah karena apa, di usianya yang tak muda lagi Dokter Aditya masih memilih untuk melajang.


Langkah ringannya terhenti seketika saat berpapasan dengan Dita, perawat yang amat sangat di bencinya kini. "Hallo nona perawat, upss atau lebih tepatnya nona pelakor?" sindir Dokter Aditya sambil tersenyum.


Dita menghentikan langkahnya, gadis itu menatap tajam ke arah Dokter Aditya. "Pelakor?" ulangnya dengan wajah kesal.


"Right. PE-LA-KOR," Dokter Aditya mengeja setiap kata yang di ucapkannya. "Sepertinya di dunia ini sudah tidak ada pria lain, sampai-sampai nona pelakor berusaha merebut suami sahabat sendiri," Dokter Aditya kembali memberikan sindiran pedas pada Dita, jika Dita seorang pria tentu saja Dokter Aditya lebih memilih mengajaknya berduel satu lawan satu.


"Dia yang sudah merebut apa yang seharusnya milik saya," bantah Dita tak terima, sikap lembutnya benar-benar telah teracuni bisa yang Bella berikan padanya.


"Milik anda? Hahaha," Dokter Aditya tertawa namun hanya di buat-buat, setelah tawanya hilang pria itu membalas tatapan Dita dengan sinis. "Sejak awal anda tidak memiliki apapun nona, bahkan seragam yang anda pakai ini adalah hasil kebaikan Indhi, anda pikir anda bisa bekerja di Rumah Sakit ini dengan semudah itu?"


"Apa?" Dita melotot di buatnya, kalimat terakhir yang Dokter Aditya ucapkan benar-benar membuatnya terkejut.


"Harusnya anda malu, orang yang anda anggap sebagai perebut milik anda justru orang yang sangat berjasa dalam hidup anda, jika bukan karena Indhi yang meminta bantuan kepada saya, anda tidak akan pernah bekerja di Rumah Sakit ini. Pikirkan lagi jika apakah anda masih ingin mengkhianatinya?"


Setelah mengucapkan kalimat itu, Dokter Aditya kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Dita yang masih terpaku di tempatnya. Gadis itu masih belum percaya dengan ucapan anak pemilik Rumah Sakit tempatnya bekerja itu. Jika semua benar, jadi selama ini dia bisa bekerja hanya karena belas kasih dari Indhi.


"Tidak mungkin!"


BERSAMBUNG...