Marry me, Brother

Marry me, Brother
Rencana honeymoon



"Kamu serius?" tanya Dokter Aditya dengan gugup. Bayangkan saja, setiap malam ia harus menahan hasratnya setiap kali mereka tidur bersama dan kali ini istrinya menawarkan sesuatu yang sangat di inginkannya itu. Tentu saja Dokter Aditya menerimanya dengan senang hati. Apalagi mereka sudah halal untuk melakukan hubungan suami istri.


"Hem. Aku yakin," putus Dita dengan mantap.


Dokter Aditya menelan salivanya dengan kasar, dengan jantung yang memompa begitu cepat, pria itu memberanikan diri untuk menyentuh wajah istrinya. Dokter Aditya menangkup wajah Dita dengan kedua tangannya, perlahan wajahnya semakin dekat, hembusan nafanya yang hangat sontak membuat Dita meremang.


Setelah yakin tak ada penolakan dari istrinya, Dokter Aditya mulai membenamkan bibirnya ke dalam bibir Dita. Mereka memulainya dengan ciuman yang lembut, namun perlahan ciuaman tersebut mulai menuntut.


Masih dengan bibir yang saling bertaut, Dokter Aditya berhasil melepaskan dress panjang yang di pakai oleh Dita, kini tubuh Dita hanya terbungkus dua helai kain tipis yang menutup kedua asetnya.


Dokter Aditya melepaskan ciumannya, pria itu lalu mengangkat tubuh Dita dan membaringkannya di atas tempat tidur. Dokter Aditya kembali menelan salivanya saat ia mengamati tubuh sang istri yang hampir polos, tubuh yang sangat di inginkannya saat ini juga.


"Kamu tidak akan menyesal?" pertanyaan itu kembali keluar dari mulut Dokter Aditya, bukan tanpa alasan,ia hanya takut Dita akan menyesalinya nanti.


"Tidak," jawab Dita dengan cepat.


Dokter Aditya tersenyum, ia tak ingin membuang terlalu banyak waktu. Setelah menanggalkan seluruh pakaiannya, kedua insan itu mulai merengkuh nikmatnya surga dunia. Suara erotis serta lenguhan panjang memenuhi kamar hotel tersebut. Keringat yang membasahi tubuh mereka sebagai tanda permainan mereka begitu panas dan menggairahkan.


"Terima kasih," ucap Dokter Aditya seraya mengecup kening istrinya, pria itu lalu merebahkan tubuhnya di sebelah Dita, keduanya kini berada di bawah selimut yang sama dengan tubuh yang masih sama-sama polos.


"Sama-sama mas," jawab Dita malu-malu, ia kembali membayangkan percintaan panas mereka.


"Apa aku boleh memintanya lagi saat aku sedang menginginkannya?"


"Hem. Tentu saja, aku milikmu sekarang."


Entah apa yang terjadi, Dokter Aditya sangat bahagia saat mendengar ucapan Dita. Pria itu kembali merengkuh tubuh Dita ke dalam pekukannya.


"Dit, maaf sebelumnya. Tapi aku harus pulang. Aku harus mempelajari operasi untuk besok," ucap Dokter Aditya setelah sekian lama diam.


"Kalau begitu kita pulang bersama. Aku akan menamimu di apartemen," jawab Dita, keinginannya untuk menginap di hotel mewah sudah tidak ada lagi, ia hanya mau menghabiskan waktunya bersama sang suami.


"Katanya kamu mau menginap?" Dokter Aditya melepaskan pelukannya, ia menatap Dita dengan alis mengkerut.


"Eh, itu. Apa namanya. Tiba-tiba aku ingin pulang saja," kilah Dita dengan gugup, namun hal tersebut malah membuat Dokter Aditya tertawa.


"Jadi kamu ingin bulan madu di hotel yang mewah," ujar Dokter Aditya menggoda istrinya.


"Bukan, bukan begitu."


"Benarkah? Kamu yakin mas?" Seketika mata Dita berbinar mendengar kata bulan madu, padahal sebelumnya ia menolak ajakan suaminya saat di ajak bulan madu.


"Hem, sangat yakin. Kemana kamu ingin pergi?"


"Swiss. Apa boleh pergi kesana?" Dita menatap wajah suaminya dengan tatapan memohon, entah sejak kapan ia sangat ingin pergi ke negara itu.


"Tentu saja, tapi ada syaratnya."


"Apa syaratnya."


"Kita harus melakukan lagi supaya kamu cepat hamil."


"Tapi tadi su..."


Dita tak melanjutkan kalimatnya karena bibirnya sudah di sumpal oleh bibir sang suami, keduanya kembali melakukan pemanasan sebelum akhirnya mereka kembali melakukan penyatuan. Dokter Aditya tak henti-hentinya mengerang di atas tubuh istrinya, ternyata bercinta dalan keadaan sadar sangatlah memabukkan. Mungkin saja, setelah malam ini ia akan kecanduan.


Masih di hotel yang sama namun dengan pasangan yang berbeda. Setelah pesta berakhir, pasangan pengantin baru tersebut sudah berada di kamar mereka.


Kamar mewah tersebut sudah di hias dengan sedemikian rupa, taburan bunga mawar berbentuk hati menghiasi ranjang berukuran king size, tak lupa dua buah handuk yang sudah di sulap menjadi sepasang angsa turun menghiasi tempat tidur mereka.


"Kak, kamu menyiapkan semua ini?" tanya Arum tak percaya, pasalnya Dion bukan pria romantis yang akan melakukan hal tersebut.


"Aku meminta bantuan pada pihak hotel dan Indhi yang menyarankan untuk menghias kamar pengantin kita," jawab Dion pelan. "Kamu suka?"


Arum tersenyum dengan sangat lebar. "Sangat suka, terima kasih kak," sahut Arum, ia lalu mencium bibir sang suami karena saking senangnya.


"Aku mau mandi dulu kak," pamit Arum setelah mencium suaminya, gadis itu berlari masuk ke dalam kamar mandi.


"Bernafaslah Dion," batin Dion yang sejak tadi menahan nafas, ciuman Arum sampai membuatnya lupa bernafas.


Setelah hampir setengah jam, Arum keluar dari kamar mandi, gadis itu mengrnakan piyama panjang dengan rambut basah yang tergulung handuk kecil. Arum lalu menghampiri Dion yang masih duduk di tepi tempat tidur.


"Mandi dulu kak, setelah itu istirahat. Kakak pasti capek," ucap Arum.


Dion hanya menggangguk, ia lalu berdiri dan meninggalkan istrinya. "Istirahat? Enak saja. Aku akan membuatmu menjerit sepanjang malam."


Bersambung...