
Sindrom patah hati atau yang dikenal dengan istilah Takotsubo cardiomyopathy merupakan gangguan fungsi jantung yang terjadi sementara akibat stres dan emosi yang ekstrem. Stres dapat menyebabkan pelepasan hormon adrenalin. Dalam jumlah besar, misalnya pada keadaan stres berat, hormon ini dapat mempercepat detak jantung dan mengurangi efektivitas pompa jantung. Kondisi ini akan menyebabkan kelainan otot jantung yang akan memicu munculnya gejala sindrom patah hati seperti nyeri dada dan sesak nafas.
Hal tersebut kini tengah di alami oleh Arum, gadis tomboy itu merasa dadanya di penuhi oleh beban yang sangat berat, terasa sangat sesak dan menyakitkan. Semenjak kejadian malam itu, Arum memutuskan mengambil cuti karena ia merasa tidak akan fokus bekerja selama masa berkabungnya atas gugurnya cinta yang selama ini dipujanya. Gadis itu lebih memilih mengurung diri di kamar dan mencoba menyembuhkan hatinya sendiri meskipun mustahil.
"Arum keluar!" teriak sebuah suara di balik pintu kamar yang telah tertutup berhari-hari itu, gadis itu tak keluar sama sekali sekedar untuk makan.
"Buka atau om dobrak pintunya!" ancamnya lagi namun tak sediki pun mendapat respon dari gadis yang masih duduk di atas sofa sambil memeluk kakinya sendiri.
Dubrakk..
Tak lebih dari satu menit dari ancaman yang Fajar ucapnya, pria yang sebentar lagi menjadi seorang ayah itu benar-benar mendobrak pintu kamar keponakannya. Arum hanya melirik sekilas saat pintu kamarnya terbuka secara paksa, gadis itu lalu kembali merenungi nasib percintaannya yang begitu sial.
"Gadis gila, gadis tidak waras! Bisa-bisanya mengunci diri di kamar seperti anak kecil. Kau tau, mamamu hampir membunuhku jika aku tidak berhasil membuka pintu ini," Fajar berapi-api, karena sejak kemarin kakak perempuannya meneror habis dirinya untuk membujuk Arum keluat kamar.
Arum hanya diam tak menanggapi ocehan om-nya, gadis itu benar-benar tidak baik-baik saja.
"Apa sekarang kau juga tuli, jawab aku!" teriak Fajar karena tak mendapat respon dari keponakannya. Sejak masih sekolah dulu, hanya Fajarlah yang paling Arum takuti, mereka tumbuh dan hidup bersama dalam satu atap.Selain itu ,bagi Arum pamannya itu sudah seperti ayahnya sendiri. Kedua orang tuanya terlalu sibuk bekerja sehingga hanya Fajar yang memperhatikan tumbuh kembang gadis tomboy itu.
Fajar mendekati keponakannya, pria itu begitu terkejut melihat wajah sembab serta mata bengkak milik keponakannya, amarahnya yang berapi-api kini mulai padam.
"Apa yang terjadi? Siapa yang membuatmu menangis seperti ini?" cecar Fajar begitu ia duduk di samping keponakannya.
"Pasti si brengsek itu," tebak Fajar tak terima, ia lalu meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Kesini, cepat!"
Setengah jam kemudian, Dion tiba di rumah Arum, pria itu segera di arahkan oleh asisten rumah tangga menuju kamar Arum. Di dalam kamar, Dion sedikit terkejut melihat penampilan Arum yang tidak seperti biasanya, rambutnya berantakan serta wajahnya layu dengan mata bengkak sebesar bauh jambu, belum lagi wajah Fajar yang terlihat menahan amarah membuat Dion bertanya-tanya.
"Ada apa Jar?" tanya Dion dengan sedikit gugup.
"Ada apa? Kamu lihat dia?" Fajar menunjuk keponakannya yang tak berekspresi. "Tiga hari dia mengurung diri di kamar, seperti orang bodoh tidak mau makan dan melakukan aktivitas. Bukankah terakhir kali dia bertemu denganmu? Apa yang kamu lakukan kepada ponakanku?" cecar Fajar dengan mata memerah.
"Aku," Dion nampak ragu, jika dia menceritakan yang sebebarnya sudah dapat di pastikan ia akan babak belur hari itu juga.
"Dia menyentuhku om," Sahut Arum dengan wajah datar dan tanpa menoleh sedikitpun ke arah kedua pria itu.
"Apa?" pekik Fajar dan Dion bersamaan, keduanya terkejut dengan ekspresi wajah yang berbeda. Fajar terlihat semakin emosi sementara Dion tak menyangka jika Arum akan mengatakan hal semacam itu.
"Breng*sek! Katamu dia sudah seperti keponakanmu sendiri," Teriak Fajar di barengi sebuah tinju yang mendarat di wajah sahabatnya. Dion yang tak siap dengan pukulan itupun jatuh tersungkur ke lantai.
Arum beranjak dari duduknya, gadis itu melangkahkan kakinya menghampiri kedua pria yang tengah bersitegang itu. Tatapan gadis itu lurus menghadap Dion, dari sorot matanya nampak begitu ketara jika gadis itu sangat terluka.
"Rum," Dion merasa sangat bersalah, wajah ceria itu kini tak nampak lagi, mata berbinar ketika bertemu dengannya kini tertutup linangan air mata.
"Pergi! Jangan pernah perlihatkan wajahmu di depanku lagi!" usir Arum masih dengan wajah datarnya.
"Aku akan pergi tapi setelah kemu menjelaskan semuanya kepada Fajar, aku tidak menyentuhmu seperti yang dia bayangkan."
"Dia menciumku dan bilang mencintaiku, tapi setelah itu dia bilang semuanya hanya kesalahan," jelas Arum sambil menatap Dion dengan nanar.
"Apa?" Fajar tak lagi bisa menahan amarahnya, ia kembali menarik kerah Dion dan memukuli sahabatnya hingga tak berdaya.
Sementara Arum hanya diam menonton pertikaian itu, tak sedikitpun ia berniat menahan Fajar untuk tidak memukuli Dion.
"Breng*sek! Kau tau kan bagaimana dia sangat menyukaimu?" seru Fajar sambil menindih tubuh Dion yang berada di bawahnya. "Berani-beraninya kamu mempermainkannya!" imbuhnya lagi dan pukulannya hampir mendarat di wajah Dion lagi.
"Aku tidak mempermainkannya, aku hanya takut denganmu," ucap Dion jujur pada akhirnya.
"Takut denganku?" Ulang Fajar penuh penekanan.
"Aku takut kamu akan menganggapku hanya bermain-main dengannya."
"Jadi kau benar-benar menyukainya?"
"Aku sangat menyukainya." Jawab Dion lantang.
"Dasar badjingan, kenapa tidak bilang sejak awal. Kenapa kamu harus membuat keponakanku mengemis cintamu." Fajar berdiri dan membantu Dion untuk bangun, pria itu lalu menoleh ke arah keponakannya.
"Kau dengar kan, dia sangat menyukaimu," papar Fajar.
Namun kedua pria itu di buat bingung dengan ekspresi wajah Arum yang begitu datar, seharusnya kini Arum sedang berteriak histeris karena cintanya terbalaskan sudah, namun gadis itu justru bersikap sebaliknya.
"Keluar dan jangan pernah kemari lagi!" usir Arum lagi, setelahnya ia kembali ke tempat tidur dan bersembunyi di bawah selimut tebal miliknya
Penyesalan memang selalu datang di akhir, begitupun dengan Dion yang menyesali sikapnya yang tidak berani mengungkapkan perasaannya. Melihat kebencian di wajah Arum membuatnya begitu sedih. Saat di usir oleh Arum pria itu akhirnya menyadari jika selama ini Arum pasti sangat terluka saat ia menolak dan mengusirnya.
BERSAMBUNG...