Marry me, Brother

Marry me, Brother
Rindu



Menurut sebuah penelitian yang ditulis Clarissa Silva, saat seseorang jatuh cinta, tubuhnya akan memproduksi berbagai macam hormon seperti Estrogen, Testoteron, Dopamin, Serotonin, dan Oksitosin.


Sebaliknya, saat seseorang merasakan rindu, produksi hormon-hormon tersebut akan berkurang. Saat hormon tersebut berkurang, maka hasrat ingin bertemu akan semakin meningkat.


Dilansir dari The Odyssey Online, hormon Dopamin yang berkaitan dengan rasa bahagia, sakit, dan hasrat untuk bersama dengan orang yang dicintai akan meningkat saat sedang merasakan rindu.


Hormon dopamin tersebut berkaitan dengan hormon Serotonin sebagai pengendali stres, nafsu makan, dan suasana hati. Ketika hormon-hormon tersebut berkurang akibat rasa rindu, maka akan muncul perasaan lain seperti kehilangan semangat karena harus terpisah jarak. Perpaduan hormon tersebut pun mempengaruhi hormon Oksitosin dan rasa ingin bertemu akan menjadi semakin menggebu-gebu. Saat rasa rindu berlebihan mulai dirasakan, hormon Serotonin akan mendominasi dan membuat rasa tidak bahagia serta stres karena memikirkan pasangan.


Dua hari sudah Indhi di rawat di Rumah Sakit, siang ini ia sudah di perbolehkan untuk pulang. Namun sepanjang hari ibu hamil itu terus uring-uringan karena ingin bertemu dengan suaminya. Egonya yang terlalu besar membuatnya enggan meminta Ega untuk datang, jelas-jelas kemarin dia yang meminta waktu untuk sendiri, pasti sangat memalukan jika meminta suaminya untuk datang.


Rindu. Ya rindu, hal itulah yang sedang Indhi rasakan saat ini, dua hari amatlah lama baginya tanpa kehadiran seorang Ega, rasanya hidupnya begitu hampa, hatinya bagaikan ruangan kosong yang hanya ada gema jika ia bersuara.


"Apa perlu ibu hubungi suamimu?" tanya bu Tika yang melihat Indhi gelisah sepanjang waktu.


"Tidak usah bu," jawab Indhi bohong, padahal hatinya berkata lain, ia ingin ibunya menghubungi Ega dan pria itu datang menemuinya. "Dia pasti sedang sibuk makan siang dengan mantan pacarnya," imbuhnya lagi dengan ketus, namun detik berikutnya wajahnya berubah sendu, wanita itu sedang merasa cemburu.


"Kamu yakin akan menghindarinya seperti ini? Ega bukan lagi kakakmu nak, dia suamimu sekarang, selesaikan masalah kalian secara baik-baik. Lagi pula ibu yakin foto-foto itu hanya rekayasa," bu Tika berusaha membujuk putrinya, ia tak ingin rumah tangga mereka hancur hanya gara-gara manipulasi yang di lakukan oleh Bella, ia tak ingin kisah kelam yang pernah di alaminya di masa lalu akan terulang lagi pada putrinya.


"Jangan bahas masalah itu dulu bu," ucap Indhi dan hanya di angguki oleh bu Tika.


Indhi dan ibunya keluar dari ruang rawat inap, Indhi duduk di kursi roda dan di dorong oleh ibunya, sepanjang perjalanan menuju parkiran Rumah Sakit, tak sedikitpun perawat yang tidak mempehatikan Indhi, mereka menatap Indhi dengan tatapan aneh lalu setelahnya mereka saling berbisik dan tersenyum mengejak.


Indhi berusaha bersikap cuek, ia tau penyebab dirinya menjadi pusat perhatian, sebelum Dokter Aditya memberi ultimatum untuk menghapus foto-foto Dita dan Ega, Suster Lina sudah lebih dulu mengirimkan foto tersebut kepada Indhi. Sebenarnya Indhi merasa senang saat Ega menolak bekal yang di buatkan oleh Dita, namun melihat ekspresi wajah Dita yang begitu sedih membuat Indhi merasa bersalah kepada sahabatnya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Siapa yang harus aku pilih?" batin Indhi, kini ia tengah dilema karena harus memilih antara suami atau sahabatnya.


***


Sepulang kerja, Bella kembali mengunjungi ibunya di penjara, gadis itu tak sabar untuk menemui ibunya dan menceritakan awal mula kehancuran Indhi dan keluarganya. Setelah melewati beberapa tahap, akhirnya Bella bisa bertemu dengan Mariam, mereka duduk berhadapan, sebuah kaca pembatas menghalangi mereka untuk berkontak fisik.


"Wajahmu bahagia sekali?" tanya Mariam penasaran.


"Iya bu, aku sangat bahagia hari ini. Indhi dan suaminya sedang bertengkar, mungkin saja mereka akan segera bercerai," adu Bella pada ibunya, kedua orang itu lalu tersenyum lebar.


"Bagus Bella, kamu harus menghancurkan mereka, buat mereka kehilangan apapun yang mereka punya. Sama saat mereka menghancurkan ibu dulu" hasut Mariam terus menerus ia akan menjadikan putrinya sebagai boneka, kedua wanita itu tidak sadar jika selama inilah mereka yang begitu kejam dan menghancurkan hidup orang lain.


Kedatangan Ega di sambut pelukan oleh bu Tika, wanita itu menepuk punggung Ega sekedar memberikan semangat untuk menantunya itu. Setelah memantapkan niatnya, Ega menyusuri anak tangga menuju kamar mereka di lantai dua.


Meski sedikit ragu Ega mengetuk pintu kamar yang tertutup, tak lama pintu kamar terbuka dan menampilkan Indhi di baliknya, wanita hamil itu baru saja selesai mandi, wajahnya terlihat segar meski gurat kesedihan begitu ketara di dalam matanya


Seperkian detik mereka saling diam, menahan hasrat untuk tidak memeluk lebih dulu, rasa rindu yang mereka pendam beberapa hari ini mereka curahkan dalam diam dengan tatapan saling menginginkan.


"Boleh aku masuk," ucap Ega mengakhiri keheningan.


"Hem," Indhi hanya bergumam, wanita hamil itu membuka lebar pintu kamarnya dan membiarkan suaminya masuk.


Canggung, itulah yang Ega rasakan sekarang, langkahnya terasa berat saat masuk ke dalam kamar mereka, kamar yang menjadi saksi penyatuan mereka, kamar yang selalu mereka gunakan untuk bercinta kini terasa sunyi. Ega berhenti tepat di depan tempat tidur mereka, pria itu lalu duduk di bibir ranjang dan mengamati sekeliling kamar mereka.


"Apa kamu masih marah?" tanya Ega lagi, meski Indhi menjaga jarak darinya, namun melihat wajah Indhi sudah lebih dari cukup untuknya.


"Tidak!" jawab Indhi dengan singkat.


"Aku tau kamu pasti kecewa karena aku menyembunyikan hal ini dari kamu. Tapi sayang, bisakah kamu memaafkanku sekali ini saja, aku berjanji tidak akan menyembunyikan apapun lagi darimu," Ega berdiri dari duduknya, pria itu melangkah menghampiri istrinya yang berada di dekat sofa. Ega lalu meraih kedua tangan Indhi dan menggenggamnya dengan erat. "Apa rasa cintaku selama ini tidak bisa membuktikan apapun, apa selama kita menikah kamu tidak merasakan sedikitpun cinta yang begitu besar dariku yang hanya untukmu?" tanya Ega dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan menangis aku mohon," batin Indhi saat melihat genangan air di pelupuk mata suaminya.


"Aku tau aku salah, aku minta maaf dan aku menyesalinya. Tapi sumpah demi apapun, aku hanya mencintaimu, tak sedikitpun perasaan yang tumbuh untuk wanita lain di hati ini," Ega membawa salah satu tangan Indhi untuk menyentuh dadanya, debaran itu masih sama setiap hari dan Ega berharap Indhi merasakannya.


"Kalau kakak tidak mencintainya, lalu kenapa kalian bersama?" ucap Indhi setelah sekian lama diam.


"Aku pikir aku bisa melupakanmu setelah kami bersama. Aku terlalu picik saat itu. Namun saat melihat kamu terbaring setelah overdosis, aku baru menyadarinya, tak ada wanita lain yang sanggup aku cintai selain kamu dan ibu," jawab Ega bersungguh-sungguh.


"Apa tidak apa-apa jika kita tetap bersama? Bagaimana dengan Dita?"


"Sayang percayalah, Dita hanya termakan hasutan Bella, gadis itu ingin menghancurkan pernikahan kita. Jika Dita memang berniat memilikiku, kenapa tak ia lakukan sejak dulu saat kita belum menikah?"


"Beri aku waktu sebentar lagi, aku harus bertemu Dita dan memutuskan apa yang harus aku lakukan."


BERSAMBUNG...