
Setelah drama panjang perihal kartu sakti dan kepemilikan apartemen, kini sepasang suami istri itu sudah ada di supermarket untuk belanja kebutuhan dapur. Dita mendorong keranjang belanjaan sementara Dokter Aditya mengekor di belakangnya.
"Mas, kamu lebih suka susu atau teh atau kopi?" tanya Dita sebelum ia membeli segala keperluan mereka.
"Susu," jawab Dokter Aditya dengan segera.
"Kamu punya alergi sama makanan?" lanjut Dita lagi.
"Enggak."
"Kalau sayur doyan?"
"Doyan. Aku doyan apa aja asal itu makanan sehat dan bergizi," papar Dokter Aditya.
Dita mengangguk paham, gadis itu lalu mengelilingi supermarket untuk membeli bahan makanan untuk stok di apartemen. Setelah keranjang belanjanya penuh dengan berbagai kebutuhan dapur, Dita berniat membeli peralatan dapur karena ia tak melihat apapun di dapur suaminya kecuali microwave.
"Mas, aku boleh beli peralatan dapur kan?" tanya Dita, meski suaminya sudah memberi kebebasan namun tetap saja ia harus meminta izin.
"Boleh. Beli apapun yang kamu butuh," balas Dokter Aditya sambil tersenyum, ia tak menyangka meski pernikahannya bersama Dita tak di dasari cinta, namun mereka terlihat seperti sepasang suami istri yang saling mencintai.
"Terima kasih mas," kalimat itu tak pernah Dita lewatkan, ia lalu memilih berbagai jenis peralaran dapur yang akan di pakainya untuk memasak.
Puas memilih perlengkapan dapur, Dita juga mencari perlengkapan rumah lainnya, ada banyak barang yang harus ia beli untuk mengisi apartemen mereka.
"Dit," panggil Dokter Aditya, ia sudah tidak kuat lagi mengikuti istrinya mengelilingi supermarket.
Dita menoleh ke arah suaminya, ia sedikit terkejut melihat wajah Dokter Aditya yang memucat. "Mas, kamu sakit?" tanyanya khawatir.
"Aku lapar," jawab Dokter Aditya pelan. Pagi tadi mereka memang belum sempat sarapan.
"Astaga. Aku lupa. Ya udah ayo kita cari sarapan dulu mas," Dita menepuk keningnya sendiri, gara-gara drama tadi pagi ia sampai lupa menyiapkan sarapan untuk suaminya. "Mas tunggu di sana dulu, aku mau bayar ini dulu," Dita menunjuk kursi tunggu yang berada di luar supermarket tersebut. Dokter Aditya mengangguk patuh, pria itu lalu melangkahkan kakinya menuju kursi yang di tunjuk oleh Dita.
Dari kejauhan, Dokter Aditya mengamati Dita yang sedang membayar belanjaan mereka. Untuk sesaat ia kembali merasa kagum dengan sikap lembut istrinya. Belum lagi Dita juga sangat menghargainya sebagai seorang suami, gadis itu selalu meminta izin jika akan melakukan sesuatu.
"Sepertinya aku salah menilaimu Dit. Kamu tak seburuk yang aku pikirkan," batinya seraya menyesali sikapnya di masa lalu.
Setelah selesai membayar barang belanjaannya, Dita menghampiri sang suami dan duduk di sebelahnya. Gadis itu memberikan sebotol air mineral dan roti yang di belinya tadi.
"Sementara isi perutnya pakai ini dulu ya mas, aku takut kamu pingsan," ucapnya seraya membukakan plastik pembungkus roti. "Ini roti gandum, jadi aku yakin ini sehat dan bergizi," imbuhnya meyakinkan sang suami yang nampak ragu menerima roti pemberiannya.
"Thanks," Dokter Aditya meraih roti tersebut dan melahapnya. Setelah habis ia menghabiskan setengah botol air mineral.
Dita yang sejak tadi mengamati suaminya tiba-tiba menelan salivanya dengan kasar, momen pada saat Dokter Aditya menenggak minumannya membuat Dita berdebar-bebar, jakun yang bergerak naik dan turun membuat Dita merasakan sesuatu yang lain di tubuhnya.
"Kamu tidak makan? Tanya Dokter Aditya.
"Ayo kita cari sarapan," ajak Dokter Aditya setelah tenaganya terisi kembali. Pria itu beranjak dari duduknya lalu mengambil alih keranjang belanjaan mereka dan mendorongnya menuju mobil.
Keduanya lalu meninggalkan supermarket dan mencari restoran untuk sarapan yang sudah sangat terlambat.
***
Di Rumah Sakit, Indhi nampak begitu sibuk dan kewalahan menangani pasien yang datang silih berganti ke UGD. Indhi sedikit bernafas lega saat satu persatu pasiennya sudah ia tangani, dokter muda itu lalu duduk di kursi untuk mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan.
Baru saja Indhi duduk, tiba-tiba seorang perawat memanggilnya dan memberi tau jika ada pasien yang harus di periksa olehnya. Indhi mengehela nafas panjang, ia lalu mengingat rambutnya dengan rapi dan bergegas memeriksa pasiennya.
Indhi tercenung sejenak saat melihat pasien yang tengah berbaring di atas brankar, pasalnya pasien tersebut adalah orang yang tidak asing baginya.
"Ndi, tolong periksa mamaku. Tiba-tiba mama pingsan," ucap Naura panik, Indhi yang sempat melamun kembali memfokuskan pikirannya.
Indhi mulai memeriksa ibu Sherly, namun sesaat kemudian Indhi mengerutkan keningnya karena tak menemukan tanda-tanda bahaya di tubuh ibu Sherly.
"Mama kamu baik-baik saja," ujar Indhi setelah memerikaa pasiennya dengan seksama.
"Tapi kenapa mamaku belum juga bangun?" tanya Naura dengan wajah panik.
Indhi lalu menepuk pipi ibu Sherly dengan sedikit keras. "Bangun bu, kalau mau tidur lebih baik di rumah saja," ucap Indhi dengan malas, ia tau jika ibu Sherly hanya pura-pura pingsan. Apalagi niatnya kalau bukan untuk menarik simpati Indhi.
"Tidur?" ulang Naura seolah ia terkejut.
"Kalian memang pantas mendapatkan penghargaan sebagai best actor," sindir Indhi sambil tersenyum.
"Apa maksudmu Ndi?"
"Aku bukan Indhi yang mudah kamu bodohi seperti dulu Nau. Aku tau mama kamu hanya pura-pura pingsan. Lebih baik kalian pergi sekarang, aku sangat sibuk!" usir Indhi dengan suara pelan, ia tak mau membuat keributan di Rumah Sakit.
Saat Indhi hendak pergi, tiba-tiba bu Sherly membuka matanya dan menahan kepergian Indhi. "Sekali ini saja, tolong bantu aku untuk bertemu dengan putraku. Aku mohon dok!"
Indhi tersenyum getir, akhirnya ia tau niat kedatangan mereka yang sesungguhnya. "Sudah saya bilang kan sebelumnya, silahkan temui suami saya sendiri. Saya tidak mau ikut camput dengan masalah kalian. Bagi kami, anda hanya masa lalu yang menyakitkan."
"Aku mohon Ndi. Sekali ini saja. Bantu mama bertemu dengan kak Ega," kali ini Naura yang bersuara, gadis itu memohon Indhi tanpa merasa malu ataupun canggung, mengingat hubungan masa lalu mereka yang kelam bukankah seharusnya Naura meminta maaf terlebih dahulu."
"Tolong nak," sahut ibu Sherly.
"Oke. Akan saya coba. Tapi kalau kak Ega menolak bertemu kalian, aku mohon segera pergi dari tempat ini."
BERSAMBUNG...