
Setelah drama nasi goreng yang ke asinan dan kebanyakan kecap, sepasang suami istri itu kini sedang bersiap untuk menghadiri acara lamaran Arum dan Dion, tentunya setelah mereka sarapan dengan dua lembar roti tawar dengan toping telur ceplok yang di beri saus dan mayonise karena nasi goreng buatan Indhi benar-benar tidak bisa untuk di makan.
Ega telah siap, pria itu terlihat tampan dengan balutan baju batik berlengan panjang serta celana berbaha kain dengan warna hitam, meski usianya terbilang tak lagi muda, namun Ega masih nampak gagah dan mempesona.
"Sayang, nanti orang akan bepikir kalau kamu calon pengantinnya," ujar Ega saat melihat penampilan Indhi yang sangat manis, wanita itu mengenakan kebaya berwarna nude dengan bawahan kain bermotif batik yang berwarna senada dengan baju milik Ega.
"Iyakah? Apa penampilanku terlalu berlebihan? Tapi Arum yang membelikan baju ini kak," jawab Indhi panik, karena ia tak ingin terlihat mencolok dari calon pengantin.
"Aku hanya bercanada," ucap Ega sambil terkekeh.
"Dasar menyebalkan," gerutu Indhi seraya merapikan penampilannya. Setelah benar-benar siap, keduanya lalu berangkat ke rumah Arum untuk menghadiri acara bahagia kedua pasangan itu.
Setibanya di rumah Arum, Ega tak masuk karena pria itu harus pergi ke rumah Dion karena dia sudah berjanji akan menjadi pendampin Dion, sementara Indhi akan berada di pihak calon mempelai wanita.
"Oh My Godnes," pekik Indhi tak percaya, wanita itu begitu terpesona dengan penampilan sahabatnya.
Arum nampak begitu cantik dalam balutan gaun berwarna Dusty Rose .Gaun tersebut juga tampak mewah dan elegan dengan adanya detail manik-manik yang meliputi seluruh bagian gaun. Selain itu, gaun dengan model neckline itu juga memiliki detail bunga mawar di sekitar area dada dan lengannya. Sementara di bagian bawahnya tampak detail gambar dua ekor angsa.
"Kamu sangat cantik," puji Indhi dengan tulus. Arum memang terlihat sangat cantik dengan make up yang sedikit tebal karena biasanya gadis tomboy itu jarang memakai make up tebal.
"Terima kasih," jawab Arum dengan senyum manis di wajahnya.
"Oh astaga, aku tidak boleh menangis," Indhi mengangkat kepalanya dan mengipasi area matanya yang hampir mengeluarkan air mata karena saking bahagianya.
"Jangan menangis, kalau kamu nangis aku ikutan nangis," ucap Arum mengingatkan sahabatnya.
Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya Dion dan keluarganya tiba di kediaman orang tua Arum.
Dion tak kalah berbeda hari ini, pria itu mengenakan baju Cheongsam dengan warna yang sama dengan gaun Arum. Meski terlihat tampan, namun ketegangan di wajahnya tak bisa ia tutupi.
Setelah kata-kata sambutan dari kedua belah keluarga, dengan di wakili oleh Fajar, keluarga Arum menyampaikan jawaban jika mereka menerima pinangan dari keluarga Dion.
Dan saat yang di tunggu-tunggu telah tiba, waktu di mana keluarga Dion yang di wakilkan oleh momy nya untuk memakaikan kalung di leher Arum sebagai tanda pengikat.
"Semoga lancar sampai pernikahan," ucap momy Dion setelah memakaikan kalung di leher Arum.
"Terima kasih mom," balas Arum lalu memeluk calon ibu mertuanya.
Setelah momen penuh haru, kedua keluarga kembali berunding untuk menentukan tanggal pernikahan. Kedua keluarga itu sepakat jika pernikahan akan di gelar tiga minggu setelah acara lamaran.
Acara lalu di lanjutkan oleh makan malam keluarga karena memang acara lamaran tersebut hanya di hadiri oleh keluarga dekat saja. Semua orang nampak bahagia, apalagi si calon pengantin yang tak henti-hentinya tersenyum.
Acara lamaran telah usai, keluarga Dion sudah meninggalkan rumah Arum, namun Ega tetap berada di sana karena tidak ingin bolak-balik.
"Indhi, terima kasih banyak ya sudah datang kemari," ucap mama Marisa pada teman anaknya itu.
"Sama-sama tan. Indhi ikut bahagia, semoga rencana pernikahan Arum berjalan lancar ya tan," jawab Indhi di selingi doa yang tulus untuk sahabatnya.
Semua orang yang ada di sana mengaminkan doa dari Indhi. Setelah itu Indhi menemani Arum ke kamarnya untuk menghapus make up serta melepas gaunnya. Dengan sangat telaten, Indhi menyapu wajah Arum dengan kapas yang di beri pembersih make up.
"Ndi," panggil Arum dengan suara yang terdengar sedih.
"Aku ingat Dita. Rasanya acara ini kurang tanpa kehadiran dia."
Indhi segera menghentikan aktivitasnya, gadis itu lalu meraih kursi dan duduk di hadapan Arum. "Maafin aku ya Rum, seharusnya kamu tidak perlu terlibat dalam masalahku dan Dita," pungkas Indhi penuh sesal.
Arum meraih tangan Indhi dan menggenggamnya. "Bukan itu maksudku Ndi. Kamu tidak perlu minta maaf karena aku juga sangat kecewa dengan Dita. Hanya saja rasanya ada yang kurang. Biasanya kita selalu melewati momen suka dan duka bersama-sama."
"Aku juga merindukannya Rum. Tapi, aku masih sangat kesal," ucap Indhi sambil berusaha membendung air matanya.
Kedua wanita itu lalu saling memeluk dan saling menguatkan satu sama lain. Sungguh bukan hal mudah untuk melupakan momen kebersamaan yang sudah terjalin lama. Tak bisa di pungkiri, kedua wanita itu merindukan sahabatnya. Ada ruang kosong di hati mereka, hanya saja rasa kecewa masih menyelimuti hati keduanya.
Malam semakin larut, Indhi dan Ega memutuskan untuk pulang ke rumah mereka. Setibanya di rumah, keduanya lalu membersihkan diri. Setelah mandi, Indhi merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan tak berselang lama Ega menyusulnya.
"Mau peluk," ucap Indhi dengan manja, wanita itu lalu mendekat ke arah suaminya dan menjadikan lengan kekar Ega sebagai bantal, sementara tangannya memeluk pinggang Ega dengan erat. Begitupun dengan Ega, pria itu tak mau kalah, salah satu tangannya mendekap erat tubuh mungil yang selalu ingin di peluknya.
"Kak," lirih Indhi memanggil suaminya.
"Hem," sahut Ega dengan deheman, pria itu sedang menikmat wangi rambut istrinya.
"Apa aku sangat jahat?" tanya Indhi tiba-tiba, hal itu tentu saja membuat Ega kebingungan.
"Kenapa bertanya seperti itu?"kini Ega yang bertanya karena penasaran mengapa Indhi menanyakan hal demikian.
"Apa aku harus memaafkan Dita?"
"Manusia tidak boleh terlalu lama membenci orang lain. Tapi aku tidak bisa memaksamu untuk memaafkan Dita karena aku sendiri masih belum bisa memaafkan seseorang," jawab Ega pelan.
"Setiap orang berhak memaafkan dan di maafkan. Aku tidak ingin kamu menyimpan dendam sepertiku. Percayalah sayang, dendam hanya akan membuat hidupmu tidak tenang," imbuh Ega lagi, pria itu lalu mengecup pucuk kepala istrinya.
"Apa kakak tidak tenang selama ini karena belum memaafkan ibu kandung kakak?" Indhi sedikit melonggarkan pelukannya, wanita itu mengangkat sedikit kepalanya agar bisa melihat wajah sang suami.
"Tentu saja. Sangat sulit berdamai dengan masa lalu. Aku sangat bahagia karena memilikimu dan juga ibu yang selalu ada untukku, namun dendam di dalam hatiku kepada wanita itu terkadang mengusik kebahagian yang aku miliki. Rasanya aku ingin melepaskan masa lalu yang sangat menyakitkan, tapi bayangan saat aku di tinggal seorang diri membuatku kembali marah dan membenci wanita itu."
Cup...
Tiba-tiba sebuah kecupan mendarat di bibir Ega. Bukan tanpa alasan, Indhi hanya tidak ingin suaminya melanjutkan kalimat yang akan membuat pria itu mengingat kembali masa kecil yang kelam.
"Aku sangat mencintai kakak. Aku harap kakak bisa melepaskan bebencian kakak di masa lalu, karena aku juga akan belajar memaafkan Dita," ujar Indhi dengan senyum hangat di wajahnya.
"Kamu memang sangat baik. Aku sangat beruntung memilikumu," Ega mengecup kening Indhi dengan mesra, pria itu lalu kembali mendekap istrinya dengan erat.
"Kak, aku tidak bisa nafas," pekik Indhi dan Ega langsung mengendurkan pekukannya.
"Maaf," jawabnya sambil tersenyum jahil.
"Kali ini aku maafkan karena kakak sangat tampan,"
"Aku memang tampan sejak dulu," ucap Ega menyombongkan diri. "Karena aku tampan, bagaimana kalau kita buat anak yang tampan sepertiku," imbuhnya dengan kerlingan mata, tanpa menunggu jawaban Indhi, pria itu segera menyerang istrinya dan kedua pasangan itu melakukan penyatuan yang begitu hangat.
BERSAMBUNG...