Marry me, Brother

Marry me, Brother
Gadis Penguntit



Sore yang temaram, semilir angin menemani langkap panjang milik Dokter Ilham menyusuri jajaran batu nisan yang tertata rapi. Langkahnya terhenti di depan sebuah pusara, pria itu lalu berjongkok dan meletakan bunga matahari yang sengaja di bawanya.


"Hallo Zean, saya datang lagi. Mungkin ini kali terakhir saya datang kemari. Penyesalan dan rasa bersalah saya tidak pernah ada habisnya, memohon maaf kepada kamu pun percuma saja, biar Tuhan yang akan menghukum ibu saya karena telah merenggut nyawa kamu." ucap Dokter Ilham seraya menatap batu nisan bertuliskan nama Arzean Wijaya.


"Dulu saya pernah berjanji untuk menjaga Indhi, tapi kini ada orang lain yang lebih pantas untuk menjaganya."


"Zean, semoga kamu tenang di sana."


Buliran bening menetes satu persatu membasahi wajah Dokter Ilham, memorinya berkelana pada kejadian empat tahun silam. Waktu dimana polisi menghubunginya dan memberi tahu jika ibunya menabrak seseorang hingga tewas. Ilham yang baru saja menyandang Dokter Spesialis Bedah kala itu begitu terkejut saat tak sengaja melihat gadis kecil yang pernah di temuinya di California tengah mencekik leher ibunya, waktu itu Dokter Ilham tak bisa berbuat apapun, rasa kecewanya pada sang ibu membuatnya hanya diam.


Perasaan bersalah terus menghantui Dokter Ilham, hampir sepanjang malam pria itu memimpikkan Indhi yang tengah menangis. Hingga terbesit niatnya untuk mengurangi rasa bersalah serta beban di hatinya, diam-diam Dokter Ilham mulai mengikuti Indhi hingga mereka di pertemukan dalam Rumah Sakit yang sama saat Indhi melakukan co-***.


Tanpa Dokter Ilham sadari, niatnya yang hanya ingin menebus kesalahan ibunya malah membuatnya jatuh cinta pada Indhi, gadis yang selalu menolaknya secara terang-terangan, gadis yang selalu menutup rapat hatinya pada pria manapun.


Dokter Ilham membuang nafas panjang, dengan kasar ia menyeka air mata di wajahnya. "Entah apapun alasamu meninggalkanku Ndi, semoga saja kau tidak pernah tau siapa aku yang sebenarnya," gumam Dokter Ilham seraya meninggalkan pemakaman.


Langit telah gelap saat Dokter Ilham kembali ke rumahnya, pria itu duduk bersandar di sofa seraya memejamkan matanya, tangannya yang tak terlalu kelar memijit pelipisnya untuk mengurangi denyutan di kepala. Suara langkah kaki mengahruskan Dokter Ilham membuka matanya, pria itu menatap lurus sang adik yang kini berjalan ke medekatinya.


"Kakak baru pulang?" tanya Bella seraya mendaratkan bokongnya di sebelah kakaknya.


"Hem," Dokter Ilham hanya menjawab dengan gumaman.


"Kakak sudah tau kalau kak Indhi terinfeksi virus?"


"Hem," lagi-lagi pria itu hanya menjawab dengan gumaman kecil.


Bella tau jika mood kakaknya sedang jelek, gadis itu lalu beranjak dari duduknya dan pergi keluar rumah, sementara Dokter Ilham hanya melirik saat adiknya melangkah pergi.


Seperti seorang penguntit, akhir-akhir ini Bella selalu mengikuti Dita kemanapun gadis itu pergi, Bella menaruh curiga jika Dita memiliki perasaan untuk Ega, sebab Bella pernah tak sengaja melihat Dita menatap Ega dengan tatapan penuh damba, oleh sebab itu Bella ingin memprovokasi Dita untuk merebut Ega dari Indhi.


Seperti malam ini, Bella menggunakan trik lamanya dan berpura-pura bertemu dengan Dita secara tak sengaja di sebuah cafe yang tak terlalu jauh dari Rumah Sakit.


"Kak Dita," sapa Bella dengan ramah. "Kebetulan sekali, apa kaka sendirian?" tanyanya lagi, gadis itu sepertinya cocok jika menjadi bintang film karena kepiawaiannya bersandiwara.


"Hay Bella. Ya aku sendirian," jawab Dita sambil tersenyum meski sedikit terpaksa.


"Apa aku boleh gabung, aku juga sendirian kak?" Bella masih dalam ekpresi wajah yang menampilkan senyum yang begitu manis, tanpa orang sangka jika di balik senyumnya terdapat bisa yang berbahaya.


"Tentu saja."


"Terima kasih kak," Bella menarik kursi yang berada di hadalan Dita dan duduk di sana sambil menunggu pesanan mereka datang. Tak berselang lama, seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka dan menyajikannya di atas meja.


"Selera kita sepertinya sama yan kak," ujar Bella sambil tersenyum. Padahal sebelumnya Bella yang meniru pesanan Dita agar terlihat mereka memilili selera yang sama.


"Iya," jawab Dita singkat, padat dan jelas.


"Oh ya kak, bagaimana kondisi kak Indhi?" tanya Bella mulai melancarkan aksinya.


"Sudah lebih baik, semoga saja demamnya tidak naik lagi," jawab Dita di selingi sebuah doa untuk sahabatnya.


"Syukurlah. Aku ingin sekali menjenguknya, tapi kakak tau sendiri bagaimana hubungan kami setelah kak Indhi memutuskan kak Ilham secara sepihak," ucap Bella mendramatisir.


"Lagi pula kamu juga tidak akan bisa menjenguk Indhi, tidak ada satupun yang boleh menemuinya."


"Oh begitu. Semoga kak Indhi baik-baik saja. Kasian Dokter Kevin kalau sampai kak Indhi kenapa-napa."


Dita menatap Bella setelah gadis itu mengucap sebuah nama yang begitu berarti di dalam hidupnya. Hanya mendengar namanya saja sudah berhasil membuat Dita berdebar-debar.


"Apa apa kak? Sepertinya kakak sangat tertarik dengan nama Dotker Kevin, mata kakak berbinar setelah aku mengucapkan nama Dokter Kevin," tanya Bella memulai melempar umpannya, gadis itu sungguh berharap Dita akan berhasil ia pengaruhi.


"Hanya perasaanmu saja atau mungkin karena kami sudah lama saling mengenal," jawab Dita gugup.


"Padahal kak Dita dan Dokter Kevin sangat serasi, saat pertama kali bertemu kalian di acara lamaran kak Ilham dan kak Indhi aku sempat mengira kalau kalian sepasang kekasih."


"Benarkah?" Dita mulai menanggapi ocehan Bella.


"Benar kak, kalian sangat cocok. Andai Dokter Kevin tidak menikahi kak Indhi, aku yakin kalian akan memiliki hubungan,"


Dita hanya tersenyum kecut. Apa yang di katakan Bella memang benar adanya, seandainya Indhi tak meminta Ega untuk menikahinya, mungkin saja kini hubungan Ega dan Dita memiliki akhir yang berbeda.


Tapi tunggu dulu!


Bukankah semua itu gara-gara Dokter Ilham, seandainya niatnya tulus tentu saja Indhi tidak akan meninggalkannya dan meminta Ega untuk menikahinya. Jadi semuanya adalah mesalahan Dokter Ilham kan?


"Mungkin karena kami tidak berjodoh,"Dita menjawabnya dengan lesu, gadis itu mengaduk-adui ice coffe pesanannya.


"Bisa saja kalian berjodoh, hanya saja ada yang menghalangi kalian,"perkataan Bella tentu saja seperti api yang menyulut jerami kering, satu tiupan saja akan mampu membakar habis jerami tersebut. Bella tersenyum licik saat ia melihat kegundahan hati Dita.


"Ambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik kakak, jangan mau kalah dengan orang lain kak. Pentingkan perasaan sendiri sebelum memikirkan perasaan orang lain, menjdi egois itu kadang-kadang perlu kak untuk melindungi hati kita!"


BERSAMBUNG..