Marry me, Brother

Marry me, Brother
Extra Part



Lima tahun kemudian, Rama dan Zea tumbuh menjadi bocah yang super aktiv dan menggemaskan. Namun karena memiliki golongan darah yang langka membuat Zea harus mengurangi aktivitasnya di luar rumah. Gadis kecil itu hanya bisa duduk dan menonton saat Rama bermain bersama Dave dan juga Clara.


Seperti hari ini, Indhi dan kedua sahabatnya berkumpul di rumahnya. Ketiga wanita itu duduk di taman belakang seraya mengamati anak-anak mereka bermain.


"Ndi, apa kamu tidak kasian sama Zea, kamu terlalu over protektiv kepadanya," ucap Arum seraya memperhatikan Zea yang hanya diam saat teman-temannya bermain kejar-kejaran.


"Aku juga kasian Rum, tapi aku takut kalau sampai Zea terluka," jawab Indhi sedih, selama lima tahun ini ia memperlakukan putrinya dengan sangat hati-hati, Indhi begitu memanjakan Zea karena tak ingin gadis kecil itu terluka.


"Apa di sini belum ada golongan darah yang sama seperti milik Zea?" tanya Dita menimpali.


"Entah Dit, kak Ega sudah berusaha mencari tau tapi belum juga menemukan golongan darah yang sama."


"Kasian sekali Zea," ucap Arum dan hanya di angguki oleh Dita. Meski merasa Indhi terlalu berlebihan, namun mengingat jika Zea memiliki golongan darah yang langka membuat Arum dan Dita berpikir jika itu semua adalah demi kebaikan Zea.


Di tengah acara mereka, mamy dan Sam datang membawakan makanan favorit ke empat bocah yang sedang bermain.


"Mamy," sapa Indhi seraya memeluk wanita yang tak lagi muda itu.


"Anak-anak ada Oma Elisa," ucap Arum memanggil ke empat bocah itu.


Rama, Dave dan Clara berlarian menghampiri mamy Elisa, sementara Zea hanya berjalan dengan sangat pelan. Tiba-tiba Zea tersenyum saat melihat Sam menghampirinya, pemuda yang kini berusia 17 tahun itu lalu menggendong Zea dan membawanya kepada teman-temannya.


"Zea sayang," panggil momy Elisa, wanita itu lalu menggendong Zea.


"Oma, saat besar nanti bolehkan Zea menikah dengan uncle Sam?" ucap Zea tiba-tiba dan berhasil mengundang gelak tawa semua orang yang ada di sana.


"Tidak noleh, Zea hanya akan menikah dengan Dave," sahut Dave tak terima, bocah kecil itu bahkan sampai melemparkan pizza yang sudah di pegangnya.


"Dave tidak boleh menikahi Zea,Dave adalah milik Clala," ujar Clara tak mau kalah, gadis kecil itu lalu berlari ke arah Arum. "Mom, Dave milik Clala kan?" tanyanya pada sang ibu.


Arum terkekeh mendengar pertanyaan putri kecilnya itu. "Sayang, kalian itu masih kecil jadi belum boleh membicarakan soal pernikahan. Clara mengerti kan?" jawab Arum dan Clara hanya mengangguk patuh.


"Tapi uncle Sam mau kan menikah dengan Zea?" ulang Zea yang tak terlihat putus asa.


"Zea, kita itu saudara jadi tidak boleh menikah ya," jawab Sam dengan lembut.


"Saudara itu apa?" tanya Zea dengan polos.


"Uncle Sam adalah adiknya mama Indhi. Sama seperti Rama dan Zea, kalian adalah saudara, jadi tidak boleh menikah."


"Oh begitu," Zea mengangguk-anggukan kepalanya membuat gadis kecil itu terlihat menggemaskan.


"Semuanya lancar mom, berkat donasi momy dan kalian semua kita bisa membantu banyak orang!"


Ya, sudah tiga tahun sejak Indhi mendirikan klinik di rumah yang di belikan Zean untuknya. Selama tiga tahun terakhir klinik yang di dirikan Indhi dengan bantuan momy Elisa serta Ega telah membantu ribuan pasien kurang mampu yang membutuhkan pertolongan medis. Meski sudah tak bekerja di rumah sakit lagi, namun Indhi sangat bersyukur karena ilmunya bisa bermanfaat bagi orang lain, terlebih lagi Indhi bisa tetap mengawasi Zea karena gadis kecil itu selalu dia bawa ke klinik.


.


.


.


Malam telah larut, setelah kedua anaknya terlelap Indhi segera kembali ke kamarnya. Di dalam kamar, Ega sudah menunggunya di atas tempat tidur.


"Mereka sudah tidur?" tanya Ega seraya menepuk ranjang agar Indhi segera menyusulnya ke atas tempat tidur.


"Sudah. Bagaimana pekerjaanmu kak?" Indhi menyusul Ega ke atas tempat tidur, wanita itu lalu menyenderkan kepalanya di bahu Ega.


"Sangat melelahkan," jawab Ega seraya memeluk istrinya. "Bagaimana Zea?"


"Ya, dia masih sering protes karena kita membatasi aktivitasnya, tapi aku yakin dia akan mengerti."


"Lalu bagaimana dengan Rama?"


"Dia masih seperti biasa, sibuk dengan buku-buku Kedokteran milik kakak, sepertinya dia akan mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang dokter."


"Apapun yang di inginkan anak-anak, sebagai orang tua kita harus mendukungnya."


"Iya kak."


"Aku sangat bahagia memiliki kalian," ucap Ega penuh rasa syukur.


"Aku juga sangat beruntung karena memiliki kalian di hidupku. Terima kasih banyak kak, terima kasih karena telah mencintaiku sebesar ini. Terima kasih karena kakak selalu menemaniku setiap saat. Aku mencintaimu kak."


"Aku juga sangat mencintaimu sayang."


Sepasang suami istri itu lalu saling memeluk, meluapkan kasih sayang yang tak berukuran. Keduanya merasa bersyukur karena Tuhan telah menyatukan mereka meski dengan cara yang tak biasa. Ingatkah kalian saat Indhi tiba-tiba melamar Ega dan memintanya menjadi suaminya? Ya, semuanya berawal dari sana, rasa sakit karena kebohongan calon suaminya mengantarkan Indhi dan Ega menjalani hirup pikuk sebuah pernikahan.


Percayalah, sesuatu yang menurutmu buruk belum tentu buruk untukmu, bisa saja Tuhan sedang menyiapkan hal terbaik untukmu, maka dari itu jalani hidupmu dan syukuri sekecil apapun nikmat yang Tuhan berikan. Tuhan bersama orang-orang yang tak berputus asa.


...❤❤❤❤...