
Suasana hening menyelimuti ruang perawatan Ega, ke empat orang yang berada di dalam ruangan tersebut memilih bungkam. Sejak identitas barubya terungkap, Ega belum juga bersuara, pria itu bahkan masih memejamkan matanya meskipun sebenarnya ia tak tidur.
Sakit hati, hal itulah yang tengah Ega rasakan saat ini, semua usahanya demi menjadi seorang dokter rupanya tak lepas dari belas kasih keluarga yang telah menelantarkannya. Setelah berpuluh-puluh tahun mereka menyimpan rahasia tersebut, lalu kenapa tiba-tiba mereka mengungkapkannya?
Tok...tok...tok
Suara ketukan pintu memecahkan keheningan di ruangan tersebut, bi Sumi bergegas membukakan pintu, rupanya Dokter Aditya dan Dita yang datang.
"Kak Adit, Dita," ucap Indhi lesu, wanita itu lalu menghampiri Dita yang berada di sebelah suaminya.
"Bagaimana keadaan Kevin?" tanya Dokter Aditya, gurat wajahnya menunjukan jika pria tampan itu tengah mengkhawatirkan sahabatnya.
"Seperti yang kakak lihat, sejak kembali ke kamar ini, kak Ega belum mengatakan apapun!"
Dokter Aditya berjalan mendekati tempat tidur sahabat yang juga kini menjadi saudara sepupunya, pria itu duduk di kursi yang berada di sebelah tempat tidur.
"Buka matamu, aku tau kamu tidak tidur!" ucap Dokter Aditya seraya menyingkap selimut Ega, namun Ega masih enggan membuka matanya. "Aku datang sebagai sahabatmu bukan sebagai saudaramu. Aku juga tidak tau apapun dan aku juga terkejut, rasanya tidak adil jika kamu juga memusuhiku kan?" imbuhnya dengan suara yang meninggi.
"Pergi, aku sedang malas bicara!" setelah lama bungkam akhirnya Ega membuka mulutnya, namun ia justru mengusir sang sahabat.
"Setidaknya jangan benci padaku. Aku sama sekali tidak mengetahui hal itu. Aku pikir papah baik sekali padamu karena dia sangat menyukaimu. Sejak kita kuliah, kamu selalu lebih unggul dariku dan papah selalu membanggakanmu. Siapa sangka jika dia sedang membanggakan keponakannya!"
"Kamu cerewet sekali. Aku bilang pergi!" usir Ega lagi namun matanya masih tertutup rapat.
"Kenapa kamu seperti anak kecil begini. Masalah itu di hadapi bukan di hindari!" cibir Dokter Aditya kesal.
Tak terima di samakan dengan anak kecil membuat Ega sontak membuka matanya, pria itu lalu berusaha untuk duduk, saat Dokter Aditya berusaha membantunya, Ega malah menepis tangan sahabatnya dengan kasar.
"Jangan berani menyebutku seperti anak kecil, jika kamu berada di posisiku sekarang, kamu pasti tidak jauh berbeda dari seorang bayi yang tidak di beri susu," kata Ega seraya menatap tajam sahabatnya, namun tatapan tajam itu tak sedikitpun menyimpan kebencian.
"Ya ya, sorry. Aku salah. Tapi caramu menghadapi masalah juga salah," balas Dokter Aditya.
"Aku bukan sedang menghindari masalah, aku sedang beristirahat, memulihkan tenagaku. Kamu tidak bisa lihat apa sekujur tubuhku penuh dengan luka?" sangkal Ega, ia tak mau di ejek seperti anak kecil, meski sebenarnya ia merasa seperti pecundang karena lebih memilih diam dan melarikan diri dari masalah yang sedang di hadapinya.
"Oke Fine, lanjutkan istirahatmu. Aku akan pergi sekarang. Kamu tidak perlu repot-repot mengusirku!" Dokter Aditya lalu beranjak dari kursinya, meski sedikit jengkel namun ia berusaha memahami perasaan sahabatnya, ia lalu menghampiri Dita dan mengajaknya pergi. "Ayo kita pergi," ucapnya seraya menarik lembut tangan istrinya.
"Jaga kesehatanmu," pesan Dita pada Indhi sebelum gadis itu keluar dari ruang perawatan Ega.
Sepanjang jalan menuju ruangan papah nya, tak henti-hentinya Dokter Aditya menghela nafas berat, pria itu juga terkejut dengan fakta yang baru saja di dengarnya, bagaimana mungkin kini ia dan Ega menjadi saudara, dan Ega kini berubah menjadi adik sepupunya. Mustahil bukan?
Langkah Dokter Aditya terhenti saat menyadari jika Dita tak lagi mengekor di belakangnya, saat pria itu menoleh ia sedikit terkejut melihat istrinya berjalan sambil berpegang pada dinding, Dokter Aditya segera berlari menghampiri Dita yang tertinggal jauh di belakangnya.
"Kamu kenapa?" tanya Dokter Aditya panik.
"Nggak tau mas, tiba-tiba kepalaku terasa berputar," jawab Dita, wajahnya yang pucat membuat Dokter Aditya semakin panik.
"Kita periksa ya, mumpung di rumah sakit," ajak Dokter Aditnya.
"Tidak usah mas, mungkin karena aku kecapean," tolak Dita, ia tak mau membuat suaminya khawatir sementara papa mertuanya saja masih di rawat di Rumah Sakit.
"Ya sudah, kita ke hotel biar kamu bisa istirahat ya," ajak Dokter Aditya dan segera di angguki oleh Dita. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba Dita merasa kepalanya semakin berputar-putar, detik selanjutnya gadis itu kehilangan kesadarannya. Untung saja sang suami sigap menangkap tubuhnya sebelum jatuh ke lantai.
Kini Dita sudah berada di Unit Gawat Darurat dan sedang di tangani oleh dokter. Dokter Aditya menunggu dengan cemas, pria itu mondar mandir di depan ruangan tempat istrinya di periksa.
Beberapa saat kemudian,seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Dokter Aditya khawatir. Pria itu merasa harinya begitu buruk, tiba-tiba saja papah nya mengalami kecelakaan lalu dia mendapati fakta baru mengenai sahabatnya dan kini sang istri tiba-tiba pingsan.
"Istri anda baik-baik saja. Ibu hamil memang sering pingsan karena terjadi perubahan hormon di tubuhnya," jelas sang dokter.
"Ibu hamil?" ulang Dokter Aditya.
"Ya, istri anda sedang hamil. Usia kandungannya kini menginjak minggu ke 6. Selamat ya," jelas dokter itu seraya tersenyum.
"Terima kasih dok," ujar Dokter Aditya dengan wajah terkejut.
"Sama-sama. Istri anda boleh pulang setelah rasa pusingnya hilang. Kalau begitu saya permisi."
Wajah terkejut Dokter Aditya kini berubah, sebuah senyum terbit di bibirnya saat tersadar jika sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah.
"Kejutan yang luar biasa Tuhan, terima kasih," ucapnya penuh syukur, pria itu lalu masuk ke dalam ruangan dan menemui istrinya.
"Mas," lirih Dita seolah tak memiliki tenaga.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Dokter Aditya seraya membantu Dita duduk.
"Aku baik-baik saja mas," jawab Dita, suaranya terdengar sangat lemah.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku sih?" Dokter Aditya mengelus perut Dita sehingga wanita itu langsung paham apa yang di bicarakan suaminya.
"Maaf mas. Sebenarnya kemarin aku ingin memberi tahu kabar bahagia ini, tapi aku panik saat mendengar kabar kecelakaan papah, aku jadi lupa," ucap Dita menjelaskan keadaan yang sesungguhnya
"Aku sangat bahagia. Terima kasih ya, kamu sudah mau mengandung anakku," ujar Dokter Aditya dengan wajah berbinar.
"Aku juga sangat bahagia mas," sahut Dita dengan senyum.
"Kata dokter usianya kini 6 minggu. itu artinya..." ucapan Dokter Aditya menggantung, pria itu sedang menghitung usia pernikahannya.
"Itu artinya, bayi ini hasil keringat kita malam itu," celetuk Dita sambil terkekeh.
"Waow, bibitku sangat unggul, sekali tanam langsung tumbuh," ujar Dokter Aditya dengan bangganya.
Dita mencubit pinggang suaminya karena malu mengingat cinta satu malam mereka yang kini menghasilkan janin di perutnya. Dalam hati Dita bersyukur karena menerima pertanggung jawaban suaminya, jika tidak mungkin sekarang dia akan bunuh diri setelah mengetahui dirinya hamil.
"Terima kasih mas, karena mau menerimaku dan segala kekuranganku," ucap Dita dengan mata berembun.
"Jangan menangis. Aku berjanji akan menjaga kalian dengan baik."
Dokter Aditya merengkuh tubuh Dita ke dalam pelukannya. Meski pernikahan mereka di awali dengan keterpaksaan, namun Dokter Aditya berharap dengan kedatangan seorang bayi yang kini tumbuh di rahim istrinya akan membuat pernikahan mereka semakin berwarna.
BERSAMBUNG...