
Seluruh pemilik saham rumah sakit berkumpul untuk pelantikan pemimpin rumah sakit mereka yang baru, tak lupa beberapa petinggi rumah sakit serta perwakilan dokter dan perawat juga hadir di aula besar yang ada di rumah sakit.
Ega dan Dokter Aditya duduk bersebelahan, lalu ada mama Mayang selaku pemilik saham terbesar juga turut hadir dan duduk di sebelah putranya.
Acara pelantikan berjalan dengan baik, meski Ega hanya seorang dokter namun para pemilik saham serta petinggi rumah sakit setuju jika Ega menggantikan tuan Hendarwan untuk memimpin rumah sakit tersebut. Apalagi mereka kini tau jika Ega adalah keponakan tuan Hendarwan, dan tuan Hendarwan menunjuk Ega secara langsung sebelum ia wafat.
"Terima kasih atas dukungan saudara sekalian yang sudab mempercayakan kepada saya untuk melanjutkan kepemimpiman tuan Hendarwan. Seperti yang saudara sekalian ketahui, saya hanyalah seorang dokter yang awam akan kepemimpin, namun saya yakin dengan dukungan serta bantuan saudara semua saya mampu membawa rumah sakit ini menjadi rumah sakit terbaik yang mampu memberikan pelayanan terbaik untuk semua orang yang membutuhkan pengobatan," ucap Ega panjang lebar, pria itu berdiri di belakang mimbar dengan kaki dan tangan bergetar saking gugupnya.
"Selanjutnya, saya ingin menyampaikan kabar bahagia. Saya berdiri di sini, mewakili Dokter Aditya selaku kakak sepupu saya, ingin mengundang saudara semua dalam acara pesta pernikahan Dokter Aditya dan Suster Andita yang akan di adakan besok di kediaman keluarga tuan Hendarwan."
"Jadi Dokter Aditya sudah menikah?"
"Siapa Suster Andita? Wanita itu sangat beruntung."
Sementara Dita yang duduk di pojok ruangan bersama Indhi hanya bisa menunduk saat namanya menjadi topik hangat dalam acara pelantikan tersebut. Sebenarnya ia tak menginginkan pesta pernikahan, namun mama Mayang selalu memaksanya. Belum lagi Dokter Aditya selalu uring-uringan saat mendengar Dita di jadikan bahan gosip karena kehamilannya.
"Kamu langsung naik daun Dit," bisik Indhi menggoda sahabatnya.
Dita melirik Indhi meski kepalanya masih tertunduk. "Ini semua gara-gara suamimu," cicitnya pelan.
Indhi hanya terkekeh, namun fokusnya masih tertuju pada pria yang beridiri di belakang mimbar dengan gagah. Tak terasa Indhi menitikan air matanya, memorinya seolah berputar pada hari dimana ia mengajak Ega menikah demi membalas rasa sakit hatinya kepada Dokter Ilham. Dari sanalah perjalanan cinta mereka di mulai, perjalanan yang terjal dan penuh liku. Namun besarnya cinta Ega membuat Indhi melabuhkan hatinya kepada pria yang tumbuh sebagai kakaknya. Cinta keduanya akhirnya menjadi kekuatan terbesar bagi mereka untuk melewati setiap rintangan yang ada. Meski perjalanan mereka masih sangat jauh, namun Indhi yakin, selama mereka saling mencintai, makan cinta mereka akan saling menguatkan dan semuanya akan baik-baik saja.
"Terima kasih kak, terima kasih telah mencintaiku sebesar ini," batin Indhi, wanita itu tak henti-hentinya bersyukur karena Tuhan mengirimkan Ega untuknya dengan cara yang luar biasa.
Setelah acara pelantikan selesai, Indhi segera menghampiri suaminya, wanita hamil itu lalu memeluk suaminya dengan erat.
"Selamat Dokter Kevin Ega Irvantara," ucap Indhi tulus.
Ega melepaskan pelukan istrinya, pria itu menatap wanita yang sangat di cintainya dengan intens. "Terima kasih sayang," ucapnya dengan mata berembun.
"Kenapa kakak sedih?"
"Aku takut tidak bisa menjalankan rumah sakit ini dengan baik, aku takut papah kecewa padaku," jawab Ega dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Aku yakin kakak pasti bisa. Banyak orang yang akan membantu kakak nantinya," Indhi meraih tangan Ega dan menggenggamnya dengan erat, berharap suaminya tak terlalu mengkhawatirkan posisinya sekarang.
Mama Mayang, Dokter Aditya dan Dita mengahpiri Ega yang sedang berbincang dengan istrinya. Mama Wulan segera memeluk Ega untuk mengucapkan selamat serta memberi dukungan kepada keponakannya.
"Selamat Vin, mama bangga padamu. Kini rumah sakit ini bergantung padamu nak, jangan kecewakan kami, terutama papa yang berada di Surga" ucap mama Mayang.
"Terima kasih banyak ma. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menggantikan papa meski aku tau papa tak tergantikan."
Tak lupa Dokter Aditya dan Dita juga memberikan selamat kepada Ega. Meski Rga dan Dita masih bersikap canggung, namun keduanya harus segera menghilangkan perasaan itu karena kini mereka telah menjadi keluarga.
Sementara rumah sakit sedang geger dengan berita pernikahan Dokter Aditya dan Dita. Beberapa perawat yang pernah menggunjingkan Dita merasa cemas dan ketakutan, mereka takut akan di pecat karena telah membicarakan Dita, apalagi mereka menyebut jika Dita adalah wanita murahan yang hamil di luar nikah.
Saat Indhi dan Dita kembali ke tempat kerja mereka di Departemen Umum, keduanya terkejut saat melihat beberapa perawat telah berkumpul dan menunggu kedatangan mereka.
"Dit, kami sangat minta maaf. Kami tidak tau kalau kamu sudah menikah," ujar salah seorang perawat.
"Benar Dit, kamu nggak pernah bilang kalau kamu sudah menikah. Kami pikir kamu hamil di luar nikah, maafin kami Dit," sahut yang lain dengan penuh sesal.
"Jadikan ini sebagai pembelajaran. Kalian tidak boleh menilai buruk seseorang jika kalian tidak tau kebenarannya," sela Indhi memberi nasehat kepada beberapa perawat yang sedang mengerumuninya dan Dita.
"Baik dok, kami benar-benar menyesal."
"Aku sudah memaafkan kalian, sebaiknya kita kembali bekerja sekarang," timpal Dita dengan senyum tulusnya.
"Terima kasih Dit, terima kasih Dokter Indhi."
Semua orang bubar dan kembali ke pekerjaan masing-masing, sementara Indhi kembali ke ruangannya.
Belum sempat wanita hamil itu duduk, seorang perawat datang dan memberi tahu Indhi jika poli akan segera buka karena jam istirahat telah usai. Indhi tersenyum sambil mengangguk, dan tak berselang lama perawat kembali masuk bersama seorang pasien.
Indhi terpaku di tempatnya, netra beningnya menatap tajam seorang pemuda yang berdiri di hadapannya, pemuda dengan rambut berwarna cokelat dengan mata berwarna biru.
"Zean."
BERSAMBUNG...