
Matahari begitu terik siang ini dan Indhi sudah berada di kantor tempat Arum bekerja. Karena sudah lewat jam makan siang maka Indhi akan berperan sebagai tamu yang akan berkonsultasi dengan pengacara Arumy Rosalina.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Indhi berhasil masuk ke dalam ruangan Arum. Sang sahabat tentu saja begitu terkejut melihat kedatangannya, gadis tomboy yang kini telah mahir berdandan itupun segera menghampiri Indhi dan memeluknya.
"Aku sangat merindukanmu." ucap Arum seraya memeluk Indhi dengan erat.
"Aku juga," balas Indhi tak kalah erat memeluk sahabatnya.
"Kamu baik-baik saja kan?" Bagaimana dengan calon keponakanku?" tanya Arum setelah melepaskan pelukannya.
"Kami baik-baik saja Rum."
"Syukurlah. Padahal aku berniat ke rumahmu setelah pulang kerja,eh malah kamu yang datang kemari."
"Rum," panggil Indhi ragu.
"Kenapa, apa ada masalah? Ayo duduk dan ceritakan padaku," Arum membawa Indhi duduk di sofa yang kerap di jadikannya tempat berkonsultasi dengan cliennya.
"Dita dan kak Ega?" ucapan Indhi tertahan, entah bagaimana ia harus memberi tahu sahabatnya.
"Mereka kenapa?" tanya Arum gamang, otak pintarnya seakan tau arah ucapan Indhi. "Tidak mungkin dia mengetahuinya kan?" imbuhnya di dalam hati.
"Dita mencintai kak Ega dan mereka pernah bersama," ungkap Indhi dengan bibir bergetar, setelah tau jika Dita mencintai Ega, ia merasa ketakutan, Indhi khawatir Ega akan meninggalkannya, namun di sisi lain Indhi juga merasa bersalah kepada sahabatnya.
"Kamu tau tentang hal ini?" tebak Indhi karena tak menemukan sedikitpun keterkejutan di wajah Arum. "Jawab Rum, jadi kamu tau semuanya dan hanya aku yang tidak tau apapun seperti orang bodoh!"
Arum meremas kedua tangannya, entah dari mana ia harus menjelaskan pada Indhi mengenai hubungan Ega dan Dita.
"Maaf, aku hanya tidak ingin kamu terluka dan menyalahkan diri," sekuat tenaga Arum mengumpulkan keberaniannya untuk memberi tahu Indhi.
"Aku terluka dan menyalahkan diri? Apa maksudmu?" Indhi menatap tajan sahabatnya, berharap semua rasa penasarannya akan segera terjawab.
"Kamu ingat saat kamu overdosis setelah kak Zean meninggal?" tanya Arum dan Indhi hanya menganggu lemah, memabayangkan kenangan masa lalu membuat hatinya teriiris.
"Entah sejak kapan mereka bersama, aku hanya tau mereka berpisah setelah kamu overdosis, kak Ega menyalahkan Dita karena dia yang sudah membantu kamu mendapatkan obat anti depresan itu!"
"Jadi aku yang menyebabkan mereka berpisah?" ucap Indhi dengan tatapan mata ke bawah mengisyaratkan ia sedang merasa sedih.
"Dan ini yang aku takutkan, kami sepakat merahasiakannya dari kamu karena takut kamu akan berpikir seperti ini, kamu akan menyalahkan diri sendiri. Dan lihatlah hasil akhirnya? Kamu menyalahkan diri sendiri lagi."
"Aku harus pergi," Indhi beranjak dari duduknya dan berlari keluar dari ruangan Arum.
"Pasti ini ulah Dita," batin Arum jengkel, rahasia yang di jaganya terbongkar sudah, ia juga merasa kesal karena tak bisa menyusul sahabatnya.
"Lebih baik aku minta tolong kak Dion," Arum lalu meraih ponselnya dan menghubungi Dion.
"Tolong cari keberadaan Indhi kak, jangan tanya alasannya! Cukup cari dan pastikan dia baik-baik saja!" Arum mematikan ponselnya setelah menghubungi Dion, gadis itu segera merampungkan pekerjaannya daan segera mencari Indhi.
***
Sementara itu, Indhi tengah duduk di depan makan dengan batu nisan bernama Arzean Wijaya, pria yang bertahun-tahun lalu menemani hari-harinya, pria dewasa yang membuat gadis remaja mengenal apa itu jatuh cinta, dan pria yang pada akhirnya merelakan hidupnya demi menyelamatkan Indhi pada kecelakaan yang di sengaja oleh ibunda Dokter Ilham.
"Ze, mereka semua membohongiku," ucapnya dengan wajah berlinang air mata.
"Seandainya kamu tidak pergi pasti semuanya akan baik-baik saja, kita pasti sudah menikah dan memiliki kecil yang bahagia seperti harapan kita dulu!"
"Ze, apa kau tau? Rasanya begitu sakit saat aku tau mereka menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi Ze, ada hal yang lebih membuatku sakit lagi, entah karena apa aku merasa tidak rela jika Dita mencintai kak Ega dan fakta mereka pernah bersama benar-benar membuatku terluka Ze."
"Ze, mungkinkah aku mulai mencintai kak Ega?"
Indhi menyeka air matanya dengan jemari yang nampak begitu pucat. Entah karena efek hamil atau karena terlalu marah, Indhi kehilangan banyak energinya, tak sanggup lagi menahan tubuhnya, Indhi memilih berbaring sambil memeluk pusara Zean.
Di tempat lain, Dion mendatangi rumah Indhi dan tak mendapati wanita hamil itu di sana. Namun tak terlalu sulit bagi Dion untuk menemukan Indhi, pria itu hafal dengan kebiasaan Indhi ketika menghilang.
"Dia pasti di sana!" gumam Dion setelah meninggalkan rumah Indhi, pria itu mengendarai mobilnya menuju pemakaman umum tempat di mana sahabatnya bersemayam dengan damai.
Tak butuh waktu lama, Dion sudah sampai di pemakaman dan segera memarkirkan mobilnya. Pria itu berlari menyusuri jejeran batu nisan yang tertata rapi, tatapannya langsung tertuju pada seorang wanita yang sedang memeluk bongkahan tanah.
"Indhi," panggil Dion, namu si pemilik nama tak menyahut. "Indhi," panggilnya lagi, kini di sertai guncangan di pundak Indhi.
Dion lalu duduk di sebelah Indhi dan berinisiatif membangunkan wanita itu, namun Dion justru di buat panik karena Indhi tak sadarkan diri. "Indhi, bangun!" Dion menepuk wajah Indhi saat tubuh wanita itu sudah berhasil ia sandarkan di tubuhnya.
Dion langsung menggendong tubuh Indhi dan berlari membawa wanita itu keluar dari komplek pemakaman, dengan hati-hati Dion merebahkan tubuh Indhi di kursi belakang dan segera membawa wanita itu ke Rumah Sakit. Di perjalanan menuju Rumah Sakit, Dion menghubungi Arum jika ia telah menemukan Indhi.
"Hallo. Gimana kak, ketemu nggak?" cecar Arum di seberang telefon.
"Ketemu di makam Zean dalam keadaan pingsan, aku sedang membawanya ke Rumah Sakit tempat Indhi kerja."
Setibanya di depan UGD Rumah Sakit, Ega dan beberapa dokter sudah menunggu kedatangan Indhi, rupanya Arum langsung menghubungi Ega dan mengabari jika Indhi sedang di bawa ke Rumah Sakit.
"Sudah berapa lama dia pingsan?" tanya Ega dengan mimik khawatir.
"lebih dari setengah jam," jawab Dion tak pasti.
Indhi segera di bawa ke ruang pemeriksaan, sementara Ega dan Dion menunggu di luar dengan cemas.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu pingsan di makam Zean?"
BERSAMBUNG...