Marry me, Brother

Marry me, Brother
Terinfeksi



Rumah Sakit di buat gempar dengan penutupan Poli umum, belum lagi safety line juga di pasang guna membatasi ruang gerak bagi mereka yang tidak berkepentingan. Indhi dan seorang perawat serta pasien yang berkontak dengan pasien dengan gejala virus tersebut terpaksa di isolasi di dalam ruangan.


Kepanikan juga di rasa di dalam ruangan tempat isolasi, mereka ketakutan dan berharap bisa segera pulang ke rumah masing-masing.


"Bagaimana kalau kita terinfeksi, apa kita akan meninggal?" ucap salah seorang pasien dengan wajah pucat karena ketakutan.


"Tenang saja bu, kita akan baik-baik saja," jawab Indhi mencoba menenangkan pasiennya, meskipun ia sendiri juga tengah ketakutan setengah mati.


Setelah beberapa saat menunggu, beberapa petugas medis masuk ke dalam ruang isolasi dengan menggunakan pakain Hazmat, dengan segera mereka melakukan Tes Cepat Molekuler. Sampel yang dibutuhkan untuk tes ini adalah dahak dengan amplifikasi asam nukleat berbasis cartridge. Kemudian virus SARS-CoV-2 akan diidentifikasi RNA-nya menggunakan cartridge khusus.


"Dua jam lagi hasil tes akan keluar, berdoa saja agar hasilnya negatif," ucap salah seorang berbaju Hazmat sebelum keluar dari ruang isolasi.


Dua jam bukanlah waktu yang singkat, enam orang yang terjebak di dalam ruang isolasi sangat gelisah menunggu hasil tes keluar. Begitupun dengan Indhi, dokter itu begitu khawatir, bagaimana jika pasiennya di nyatakan terinfeksi, besar kemungkinan Indhi akan terkontaminasi, apa lagi dengan keadaannya yang tengah hamil muda, sangat rawan untuk terkena serangan virus.


Di tengah kegelisahannya, tiba-tiba ponselnya bergetar, Indhi memeriksanya dan mendapati panggilan telefon dari suaminya, setengah ragu Indhi mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo kak," sapa Indhi dengan suara tenang karena tidak ingin membuat suaminya khawatir.


"Hallo sayang, aku tidak mengganggumu kan?" tanya Ega.


"Tidak. Apa acaranya sudah selesai? Tumben siang-siang menghubungiku?" jawab Indhi.


"Aku izin ke toilet sebentar karena tiba-tiba kepikiran kamu. Kamu baik-baik saja kan?" tanya Ega lagi, kali ini suaranya terdengar sedikit khawatir.


"Aku baik-baik saja kak." jawab Indhi bohong, jika ia mengatakan keadaan yang sebenarnya sudah di pastikan Ega akan menggila dan pulang pada saat itu juga.


"Syukurlah. Kamu sudah makan?"


"Sudah kak, bagaimana dengan kakak?"


"Aku juga sudah. Sayang, sudah dulu ya, jaga dirimu baik-baik, besok malam aku pulang."


Setelah menutup telefon Indhi tak kuasa menahan air matanya, seharusnya ia tak boleh begini karena akan membuat pasiennya semakin takut, mungkin karena ia sedang mengandung jadi sedikit lebih sensitif.


"Kita akan baik-baik saja dok," ucap perawat yang terjebak bersama Indhi.


Dua jam berlalu, seorang petugas kembali masuk ke dalam ruangan isolasi untuk menyampaikan hasil tes mereka. Bagai tersambar petir di siang hari, Indhi begitu terkejut mendengar hasil tes yang menyatakan jika pasiennya positif terinfeksi virus tersebut.


"Hasil tes menyatakan jika anda positif terinfeksi virus, dengan sangat terpaksa anda dan yang lainnya harus menjalani karantina di Rumah Sakit hingga 14 hari ke dapan." ucap petugas berbaju Hazmat tersebut kepada wanita yang baru saja pulang dari Eropa.


"14 hari? Bagaimana dengan keluarga saya?" ujar salah seorang pasien.


"Ini semua gara-gara wanita itu, dia yang pergi ke luar negeri malah kita yang terkena batunya," sahut pasien yang lain.


"Gimana nasib kita selanjutnya."


"Semoga saja kita bisa keluar dari sini dengan selamat."


Ruang isolasi mendadak riuh, Indhi kembali memegangi perutnya dan merasa ketakutan. Rasanya ia begitu cemas karena terakhir melihat berita banyak orang meninggal akibat terpapar virus tersebut. "Kita akan baik-baik saja nak, dady akan pulang dan menemui kita."


"Untuk Dokter Indhi dan suster Lina, sementara kalian akan di isolasi bersama pasien yang positif di ruang ICU, saya sudah membawakan baju APD untuk kalian berdua, tolong awasi kesehatan pasien."


"Dan untuk ketiga pasien yang lain, kalian akan di isolasi di ruang yang berbeda. Kalian tidak perlu khawatir karena semua kebutuhan kalian selama isolasi akan di tanggung oleh pihak Rumah Sakit."


Indhi dan lima orang lainnya di evakuasi dari poli umum menuju tempat mereka isolasi, meski takut namun mereka harus mematuhi protokol kesehatan demi mencegah penyebaran virus tersebut.


Indhi dan Suster Lina sudah berada di ruang ICU bersama pasien yang di nyatakan positif, kedua petugas medis itu sudah memakai baju APD lengkap sebagai perlindungan diri. Hingga malam hari tak ada hal serius yang terjadi pada pasien, meski demamnya sempat naik namun masih bisa di atasi setelah memberinya obat penurun panas.


Namun sesuatu yang aneh justru di rasakan oleh Indhi, tenggorokannya terasa gatal dan dia mulai demam. Dini hari Indhi mengukur suhu tubuhnya, ia begitu terkejut mendapati suhu badannya yang begitu tinggi.


"39 derajat celcius," gumamnya dengan suara serak karena tenggorokannya terasa tidak nyaman.


"Suster Lina, bangun," Indhi membangunkan rekannya itu, tak lama Suster Lina pun terbangun.


"Ada apa dok?" tanya Suster Lina dengan wajah lelah.


"Saya demam tinggi. Tolong hubungi laboratorium untuk melakukan tes kepada saya," pinta Indhi dengan wajah sedih.


Suster Lina segera menghubungi tim yang di bentuk untuk menangani penyebaran virus tersebut dan menyampaikan jika Indhi butuh di tes lagi karena menunjukan gejala. Tak perlu menunggu lama, petugas laboratorium kembali masuk dan memeriksa sampel Indhi.


Saat matahari terbit, hasil tes Indhi keluar dan ia di nyatakan positif tertular virus tersebut. Indhi hanya bisa pasrah dan berdoa agar dia bisa melewatinya dengan baik.


Setelah mendapatkan hasil tesnya dan di nyatakan positif terinfeksi virus, Indhi segera meraih ponselnya untuk menghubungi ibunya.


"Halo bu," sapa Indhi dengan suara ceria meski kini ia tengah ketakutan.


"Kamu semalam tidak pulang? Apa menginap di rumah kalian?" tanya bu Tika.


"Iya bu. Indhi juga mau izin dua minggu ke depan Indhi nggak pulang ke rumah dulu soalnya banyak kerjaan, sementara kalau pulang ke rumah ibu jaraknya terlalu jauh." Indhi terpaksa berbohong demi menjaga darah tinggi ibunya.


"Ya sudah, tapi izinkan ibu main ke rumah kalian ya!"


"Iya bu.


Setelah menghubungi ibunya, Indhi lalu menghubungi Dita dan Dokter Nanda karena mereka berdualah yang bisa membantu Indhi saat ini.


"Aku akan segera ke sana!" tegas Dita begitu Indhi memberitahunya jika ia terinfeksi virus yang sedang melanda dunia.


BERSAMBUNG..