
Selama perjalanan menuju rumah Dita, keduanya memilih diam dan larut dalam pikiran masing-masing. Dita memilih untuk memejamkan matanya karena ia sendiri bingung harus berbuat apa, sementara Dokter Aditya fokus mengemudi dan sesekali melirik Dita yang duduk di sebelahnya.
Tiga puluh menit terasa begitu lambat sampai akhirnya mereka tiba di depan rumah dua lantai yang terbilang sederhana itu. Dokter Aditya memarkirkan mobilnya di depan rumah Dita, pria itu mengamati rumah itu untuk sesaat.
"Untuk orang seperti kami, rumah sederhana seperti ini sudah lebih dari cukup dok," ucap Dita yang menyadari ekspresi wajah dokter tampan yang duduk di sebelahnya.
"Maaf aku tidak bermaksud menghina."
"Tidak masalah, orang seperti anda pasti terkejut melihat rumah kecil milik kami. Terima kasih untuk tumpangannya dok, saya permisi," Dita membuka sabuk pengamannya lalu turun dari mobil.
Dokter Aditya ikut turun dari mobil dan mengejar Dita. "Tunggu sebentar Dit," ucapnya menahan langkah Dita.
"Ada apa dok?" tanya Dita dengan ramah.
"Aku belum memiliki nomormu," ujar Dokter Aditya.seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Untuk apa?"
"Setidaknya kita harus memiliki nomer satu sama lain sebelum menikah kan?"
"Saya belum menyetujui akan menikah dengan anda!" tegas Dita lagi, banyak pertimbangan yang membuatnya ragu untuk menikah dengan Dokter Aditya.
Dokter Aditya menyugar rambutnya dengan frustrasi. "Kenapa kamu sangat keras kepala? Banyak gadis yang menuntut pertanggung jawaban dari sang pria yang sudah menyentuhnya dan kamu malah menolak itikad baikku!"
"Dok, kita tidak cocok satu sama lain. Ibaratnya kita adalah langit dan bumi," sery Dita mempertegas kesenjangan di antara mereka.
"Tapi faktanya kita bukanlah langit dan bumi. Kita hanya manusia yang di ciptakan oleh Tuhan dengan derajat yang sama. Berhentilah menjadikan perbedaan untuk menolak niat baikku. Aku sudah beritikad baik untuk bertanggung jawab namun kamu terus menolaknya. Jangan cari aku jika suatu saat nanti kamu mengandung anakku!" ancam Dokter Aditya dengan rahang mengeras. Namun tanpa mereka sadari, percakapan mereka di saksikan dan di dengar oleh sepasang suami istri yang berdiri di balik pintu rumah.
Brak...
Pintu terbuka dengan keras menampilkan wajah tegang dua orang paruh baya. Dita dan Dokter Aditya menoleh bersamaan, keduanya terkejut dengan ekspresi yang berbeda.
"Ibu, bapak," ucap Dita dengan bibir bergetar.
"Ibu, bapak?" ulang Dokter Aditya seraya menatap Dita.
"Apa maksud perkataan anda tadi. Kenapa anakku tidak boleh mencari anda jika dia hamil? Jangan bilang anda telah merusak putri saya?" cecar pak Heri, pria paruh baya yang merupakan ayah kandung Dita. Pria itu mendekati Dokter Aditya dan menatap tajam pria yang ada di hadapannya.
"Ba-bapak pasti salah dengar. Iya bapak pasti salah dengar. kami sedang membicarakan masalah pekerjaan tadi. Benar kan dok?" sangkal Dita dengan suara terbata, gadis itu lalu menyikut lengan Dokter Aditya agar mengiyakan alibinya.
Namun harapan tak sesuai kenyataan, bukannya mengiyakan alibi Dita, Dotker Aditya justru berlutut di kaki pak Heri dengan kepala menunduk. "Maafkan saya pak. Saya telah merusak putri bapak. Tapi saya tidak akan lari, saya akan bertanggung jawab," aku Dokter Aditya, pria itu siap menaggung kemarahan kedua orang tua Dita.
Bak di sambar petir di pagi hari yang cerah. Hati orang tua mana yang tak hancur mengetahui fakta jika putri yang selalu mereka jaga telah di rusak oleh pria asing. Pak Heri tak bisa menahan amarahnya, pria itu segera meraih kerah kemeja Dokter Aditya dan memaksa pria itu untuk berdiri. Sebuah pukulan keras mendarat di wajah tampan milik dokter itu. Karena tak seimbang pukulan itu membuat Dokter Aditya terjerembab di tanah.
"Bapak jangan," seru Dita dengan suara tertahan, gadis itu segera menggampiri Dokter Aditya dan membantunya untuk berdiri. "Anda tidak papa kan?" tanyanya seraya mengamati luka lebam di pipi Dokter Aditya.
"Dita minggir, bapak harus memberikan pelajaran kepada badjingan ini!" pak Heri hendak memukul Dokter Aditya lagi, namun bu Martini segera menahan suaminya dan Dita pun melindungi Dokter Aditya.
"Apa maksudmu, sudah jelas aku yang salah. Kita berdua yang salah karena melakukan dosa besar ini," sahut Dokter Aditya seraya menatap Dita, setelah itu ia kembali menatap pak Heri yang masih di selimuti emosi. "Saya yang salah pak, dan saya bersedia bertanggung jawab dengan menikahi Dita. Saya mohon beri saya kesempatan untuk menebus kesalahan saya," pinta Dokter Aditya dengan sungguh-sungguh.
"Menikah?" ulang pak Heri masih belum percaya.
"Iya pak. Saya akan menikahi Dita. Untuk itu saya datang kemari untuk meminta restu kepada kalian."
"Sebaiknya kita bahas masalah ini di dalam pak, tidak enak di lihat tetangga," sela bu Martini dan segera di setujui oleh suaminya, akhirnya keempat orang itu masuk ke dalam rumah untuk merundingkan masalah tersebut.
"Siapa namamu?" tanya pak Heri setelah Dokter Aditya duduk.
"Aditya pak."
"Apa pekerjaanmu?" lanjut pak Heri menginterogasi Dokter Aditya.
"Saya dokter," jawabnya singkat.
"Apa kalian sudah lama menjalin hubungan?"
Pertanyaan pak Heri tentu saja membuat Dokter Aditya dan Dita gugup, keduanya saling melempar pandang karena bingung harus menjawab apa.
"Sudah," jawab Dokter Aditya.
"Belum," jawab Dita pada waktu yang bersamaan.
"Sebenarnya sudah atau belum?" hardik pak Heri dengan tatapan penuh kekecewaan.
"Kami saling mengenal sejak beberapa tahun terakhir pak, karena kami bekerja di Rumah Sakit yang sama," Dokter Aditya mengambil alih jawaban yang tertuju untuk mereka bedua.
"Kenapa kalian melakukan hal itu, bukankah seharusnya kalian tau jika hal itu di larang bagi pasangan yang belum menikah?" ucap bu Martini yang sejak tadi hanya diam. Ibu mana yang tak sakit mengetahui fakta jika putrinya telah ternoda sebelum menikah.
"Maaf bu, Dita khilaf," aku Dita dengan air mata yang kembali lolos.
"Khilaf katamu, dasar anak tidak tau diri. Bapak dan ibu membesarkanmu dan mendidikmu agar manjadi wanita yang berguna. Tapi lihat apa yang sudah kamu lakukan, kamu membuat malu bapak dan ibu, kami sungguh kecewa kepadamu. Mulai saat ini kamu bukan lagi anak kami, pergi kamu dari sini dan jangan pernah perlihatkan wajahmu lagi!"
"Bapak," Dita tak bisa menahan air matanya, gadis itu menangis sejadi-jadinya karena di usir dari rumah orang tuanya sendiri.
"Pergi!" usir pak Heri seraya menunjuk pintu keluar.
"Pak saya mohon jangan usir Dita. Semua ini salah saya pak," ucap Dokter Aditya berusaha membantu Dita.
"Pergi!"
BERSAMBUNG...