Marry me, Brother

Marry me, Brother
Pernikahan tanpa tujuan



Tiga minggu telah berlalu, Ega telah mantap untuk memulai kehidupan barunya dan melepaskan semua rasa sakit di masa lalu. Meski tak sepenuhnya bisa melupakan kepingan demi kepingan yang menyakitkan, namum kini Ega telah menjalani kehidupan yang bahagia bersama istri serta ibu angkatnya.


Pagi begitu cerah saat Ega terbangun di minggu pagi, pria itu mengecup kening istrinya yang masih terlelap. Setelah merenggangkan otot-otot tubuhnya, Ega masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajah serta menggosok gigi.


Setelah menyelesaikan ritual paginya, Ega turun menuju dapur. Rencananya ia akan memasak sarapan untuknya dan juga Indhi karena beberapa waktu terakhir ini ia tak sempat memasak untuk istrinya.


Nasi goreng mungkin menu sarapan paling simpel untuk di buat di pagi hari, sudah lama ia tak membuat nasi goreng favorit istrinya. Sebenarnya Indhi menyukai berbagai macam makanan, namun karena nasi goreng yang paling mudah jadi Ega memutuskan untuk membuat menu andalannya itu.


Ega mulai menumis bumbu-bumbu yang sudah ia haluskan, aroma bawang putih begitu mendominasi dan menyebar ke segala penjuru ruangan, aromanya yang begitu harum tentu saja menggugah selera makan.


Aroma tumisan bawang putih itu pun tercium hingga ke kamar mereka. Dengan mata yang masih terpejam Indhi mulai mengendus-endus aroma yang masuk ke dalam kamarnya.


Namun hal yang tak terduga terjadi, aroma bawang putih itu bukannya menggugah selera Indhi, wanita itu justru merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya, ia merasa perutnya bergejolak dan tiba-tiba ia ingin muntah.


Indhi segera menyibak selimutnya, ia bergegas turun dari tempat tidur dan berlari masuk ke dalam kamar mandi. Indhi segera memuntahkan isi perutnya, namun hanya cairan bening yang keluar dari mulutnya.


Indhi keluar dari kamar mandi sambil memegangi perutnya yang terasa seperti di aduk-aduk, namun saat tak mencium aroma tumisan bawang putih lagi tiba-tiba ia merasa baik-baik saja.


"Apa ini? Ajaib sekali, kanapa tiba-tiba perutku baik-baik saja?" ucapnya merasa heran.


Tak mau ambil pusing dengan masalah perutnya, Indhi lalu keluar dari kamar dan menyusul suaminya di dapur. Indhi yakin jika Ega pasti sedang menyiapkan sarapan untuk mereka.


"Morning hubby," sapa Indhi dengan manja, tak lupa ciuman selama pagi mendarat di pipi suaminya.


"Morning wife, kamu sudah bangun?" balas Ega dengan lembut, pria itu lalu mengecup bibir istrinya meski hanya sekilas.


"Aku mencium aroma yang sangat menggugah selera, makannya aku capat-cepat bangun," Indhi terpaksa berbohong, ia tak mungkin mengaku jika terbangun gara gara bau yang membuatnya mual, bisa-bisa Ega akan heboh dan membawanya ke Rumah Sakit untuk melakukan pemeriksaan.


"Kamu memang paling cepat soal makanan."


"Kaka tidak lupa visiku kan? Seberat apapun masalahmu makan tetaplah nomor satu!"


Ega terkekeh mendengar ucapan istrinya yang sangat bersemangat, pria itu lalu menyiapkan dua piring nasi goreng untuknya dan sang istri.


Mereka lalu makan dengan tenang, Indhi menikmati nasi goreng milik suaminya, ia bahkan sampai nambah karena perutnya masih minta di isi. Padahal ia sempat muntah gara-gara aroma nasi goreng yang di buat Ega, tapi kenapa ia malah menikmati makanan tersebut.


"Jam berapa acara pernikahannya di mulai?" tanya Ega setelah keduanya menghabiskan sarapan mereka.


Indhi meraih gelas dan meminum air putih hingga tandas, ia lalu menyeka sudut bibirnya dengan tisu. "Jam satu siang, tapi kita harus sampai di hotel sebelum jam 10 pagi kak," jawab Indhi seraya menatap suaminya, hari ini adalah momen spesial bagi Arum karena akhirnya mimpinya untuk menikahi Dion akan segera terwujud.


"Mereka mengadakan pesta juga?" tanya Ega lagi.


"Iya, tapi hanya mengundang kerabat dekat saja, itupun dengan protokol kesehatan yang sangat ketat," jelas Indhi.


tepat sebelum jam 10 pagi, Ega dan Indhi sudah berada di hotel yang akan menjadi tempat pernikahan Arum dan Dion. Indhi segera masuk ke dalam kamar hotel yang di pesan oleh Arum untuk berdandan, sementara Ega masuk ke kamar hotel yang di tempati Dion untuk bersiap-siap.


"Kenapa baru datang?" cecar Arum begitu Indhi masuk ke dalam kamar hotel.


"Maaf, tadi sedikit macet. Dita mana?" Indhi celingukan kesana kemari mencari sahabatnya.


"I'm here," Dita keluar dari kamar mandi, gadis itu segera menghampiri kedua sahabatnya.


"Rum, aku rasa ada yang beda dengan gadis ini?" Indhi menelisik penampilan Dita yang jauh berbeda dari sebelumnya.


"Dia sudah bukan gadis lagi," celoteh Arum sambil tertawa.


"Ah iya. Aku lupa kalau dia sudah menikahi tuan muda Aditya Syahputra. Pantas saja penampilannya sangat berbeda," Indhi menepuk keningnya sendiri, namun hal itu ia lakukan hanya untuk menggoda sahabatnya.


"Apa penampilanku berlebihan?" tanya Dita yang justru terlihat serius menanggapi candaan dari kedua sahabatnya.


"Tidak-tidak. Kamu terlihat semakin cantik. Tubuhmu juga sedikit berisi," jawab Indhi dengan segera, ia tak mau Dita salah paham dengan candaan mereka.


"Mas Adit selalu memaksaku untuk belanja dan membeli pakaian bagus, katanya pakaian lamaku sudah kuno," keluh Dita kepada dua temannya.


"Sepertinya yang di katakan suamimu itu benar Dit, kamu ini sekarang istrinya tuan muda yang kaya raya, jadi kamu juga harus memperbaiki penampilanmu agar suamimu yang tampan nan kaya itu tidak di ambil pelakor!" kata Arum antusias, ia juga lebih menyukai penampilan Dita yang sekarang karena Dita lebih terlihat cantik dan elegan.


"Benarkah?" tanya Dita ragu.


"Benar, jaman sekarang banyak embak-embak nggak tau diri dan nggak punya malu untuk godain suami orang," sahut Indhi membenarkan saran yang di berikan oleh Arum.


"Kalau begitu aku juga harus rajin perawatan wajah supaya aku semakin cantik," cetus Dita, tanpa di sadari ia mengakui jika ia takut Dokter Aditya akan di rebut oleh wanita lain.


"Cie, jadi benih-benih cinta mulai tumbuh ni," goda Arum dengan senyum lebarnya.


Dita tersipu, seketika wajahnya memerah dan ia merasa gugup. "Apaan si Rum, enggaklah. Aku cuma nggak mau malu-maluin mas Adit aja karena punya istri jelek," kilah Dita, wanita itu masih belum menyadari tentang perasaannya yang sesungguhnya.


"Kalau mulai cinta juga gak papa Dit. Kalian kan suami istri, pernikahan kalian akan semakin bahagia jika ada cinta yang mendasarinya. Apalah arti sebuh hubungan jika tanpa menyertakan perasaan cinta dan kasih sayang di dalamnya?"


Dita hanya diam dan mendengarkan nasehat Indhi dengan seksama. Semua yang di katakan Indhi memang benar, meski Dokter Aditya memperlakukannya dengan sangat baik, namun Dita merasa pernikahan mereka hambar dan tak memiliki arah tujuan. Bahkan setelah pernikahan mereka hingga sekarang, Dokter Aditya belum pernah sekalipun meminta haknya, padahal ia sudah menjalankan kewajibannya menjadi seorang suami dengan memberikan nafkah kepada Dita.


"Haruskah aku mulai membuka hati untuknya?"


BERSAMBUNG...