Marry me, Brother

Marry me, Brother
Menggila



"Tau atau tidak itu bukan alasan Dit, selama niatmu merebut kak Ega, itu tandanya kamu mengkhianati Indhi, aku sangat kecewa padamu Dit," sela Arum yang ikut serta menyalahkan Dita. "Bisa-bisanya kamu lebih mempercayai Bella dan mengkhianati persahabatan kita!"


Dita hanya bisa menunduk dengan air mata yang bergulir di wajahnya, jika bisa mengulang waktu sungguh ia tak ingin termakan hasutan Bella, namun waktu tak bisa di ulang, karena semua telah terjadi yang harus di lakukan kini hanyalah bertanggung jawab dengan perbuatannya.


"Tante benar-benar kecewa padamu Dit. Dimana telak salah Indhi sehingga kamu tega berbuat seperti itu?" ucap bu Tika meluapkan amarah serta rasa kecewanya, ia tak menyangka jika Dita akan berbuat seperti itu, berniat merebut Ega dari putrinya.


Sementara Dita hanya diam dan menunduk dengan air mata yang tak berhenti menetes, ia merutuki kebodohannya karena telah termakan hasutan Bella. Jika terjadi sesuatu dengan Indhi ataupun bayinya, Dita benar-benar tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.


"Maafin Dita tan, Dita memang bodoh. Sejak awal Indhi memang tidak bersalah karena dia tidak tau apa-apa," sesal Dita, gadis itu melorot jatuh hingga bersimpuh di lantai yang dingin.


Hubungan yang telah terjalin begitu lama membuat Arum tak tega melihat sahabatnya, meski kecewa namun nyatanya Dita memiliki tempat penting di hatinya. Arum berjongkok dan memeluk Dita yang menangis sesegukan, sesekali tangannya menepuk punggung sang sahabat hanya untuk sekedar menenangkannya.


"Simpan maafmu untuk Indhi nanti. Jadikan ini sebagai pelajaran yang berharga untuk hidupmu," ucap Arum dengan bijak. "Lebih baik sekarang kamu tenang dan ceritakan apa yang terjadi," imbuh Arum dengan suara lembut.


Dita menyeka air matanya dengan kasar, ia menatap Arum dengan wajah penuh penyesalan. "Indhi datang ke rumahku, dia bilang ingin minta maaf, namun dia lebih dulu bertemu Bella dan beradu mulut, Bella berniat menampar Indhi dan Indhi berhasil menahan tangannya, saat Indhi akan pergi Bella menarik tangan Indhi dan Indhi terjatuh," Dita menceritakan dengan singkat apa yang terjadi di rumahnya. "Sungguh bukan aku yang menyebabkan Indhi pendarahan Rum," ucapnya membela diri.


"Bang*sat," maki Ega setelah mendengar penjelasan Dita, saat pria itu akan pergi, pintu ruangan terbuka dan seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Dengan cepat Ega menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana kondisi istri saya dok?" tanya Ega cemas.


"Istri bapak masih sangat lemah karena beliau mengalami pendarahan yang begitu hebat, dan karena hal itu kami juga tidak bisa menyelamatkan janin dalam kandungannya. Sebentar lagi pasien akan di bawa ke ruang tindakan untuk di lakukan Kuret."


Hancur, begitulah yang kini tengah Ega alami, belum sempat ia menyambut kedatangan sang calon buah hati dan kini ia harus merelakannya kembali ke pangkuan Sang Ilahi. Hal lain yang membuatnya lebih hancur adalah saat nanti Indhi sadar dan mengetahui ia telah keguguran. Bagaimana Ega akan menenangkan istrinya, bagaimana jika Indhi kembali hancur seperti saat ia kehilangan Zean dulu.


"Temani Indhi bu, Ega ada urusan sebentar," ucap Ega dengan tatapan penuh amarah, pria itu melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan tempat istrinya di rawat.


"Rum, ikuti Ega! ibu khawatir dia akan melakukan sesuatu yang tidak baik," dengan berlinangan air mata bu Tika menatap Arum dan meminta bantuan gadis itu.


"Iya bu," Arum segera berlari mengejar Ega, sebisa mungkin ia menahan air matanya. Sesampainya di parkiran Rumah Sakit, Arum segera masuk ke dalam mobilnya dan mengemudikannya dengan kecepatan penuh, sayangnya ia telah kehilangan jejam Ega. Seketika Arum teringat Dion, ia segera menghubungi pria itu, mungkin saja Dion bisa membantunya mencari Ega.


"Ya Rum," sapa Dion dengan lembut.


"Kak, tolong aku!" ucap Arum dengan panik, tatapannya masih fokus ke jalanan mencari mobil Ega.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu padamu, kamu dimana sekarang?" cecar Dion tak kalah panik.


"Indhi keguguran dan semua itu gara-gara Bella, sekarang kak Ega menghilang, kemungkinan dia mendatangi Bella di rumah Dokter Ilham kak," jelas Arum panjang lebar.


"Apa? Keguguran? Astaga, kak Ega pasti akan menggila. Kamu tau alamat rumah Dokter Ilham?"


"Jalan Bumi Anggrek nomor 16," jawab Arum.


"Aku akan segera ke sana."


"Terima kasih kak."


"Dokter Kevin," sapa pria tua itu dengan wajah terkejut, pasalnya ia kedatangan tamu yang tak terduga.


Ega mengatur nafasnya berulang kali, ia tak mungkin marah-marah di depan pria yang pernah menjadi pasiennya. "Apa Bellanya ada pak?" tanya Ega dengan suara sedikit pelan.


"Siapa yang datang yah?" tanya seseorang dari dalam, pemilik suara lalu keluar dan kaget melihat kedatangan rival cintanya.


"Dokter Kevin," ucap Dokter Ilham.


"Dimana Bella?" tanya Ega yang mulai terpancing emosinya lagi saat melihat Dokter Ilham.


"Ada di kamarnya, ada perlu apa anda mencari adik saya?" Dokter Ilham sedikit mengerutkan keningnya karena merasa bingung.


"Panggil dia kemari," titah Ega masih dengan suara pelan.


"Ada perlu apa anda mencari adik saya?" tanya Dokter Ilham lagi karena sebelumnya tak mendapat jawaban dari Ega.


"Bella...Bella, keluar kamu," teriak Ega tak sabar.


"Apa anda tidak memiliki sopan santun, kenapa anda berteriak di rumah orang lain?" Dokter Ilham menahan Ega yang hendak menerobos masuk ke dalam rumahnya, ia benar-benar bingung melihat perlakuan Ega.


"Panggil Bella atau aku akan menyeretnya keluar!" ancam Ega lagi, matanya memancarkan kebencian yang mendalam.


Di tengah keributan itu terdengar suara langkah kaki menuruni tangga, langkah tersebut semakin terdengar jelas, dari balik tubuh Dokter Ilham, Ega dapat melihat dengan jelas Bella sedang berjalan ke arah pintu.


"Siapa yang da..." Bella tak melanjutkan kalimatnya, gadis itu terpaku di tempatnya. Rasa cemas dan takut kini memenuhi kepalanya, melihat tatapan Ega membuat Bella beringsung bersembunyi di belakang punggung kakaknya.


"Keluar kamu," Ega menarik paksa tangan Bella yang bersembunyi di belakang kakaknya, Ega menyeret tangan itu dengan kasar sehingga Bella tak bisa berlindung pada siapapun lagi.


"Mau anda bawa ke mana adik saya?" Dokter Ilham menahan salah satu tangan Bella.


"Kantor polisi, dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya!"


"Memangnya apa salah adik saya?" tanya Dokter Ilham seraya menatap adiknya.


"Dia telah membunuh calon anak saya, dia mencelakai Indhi sampai Indhi keguguran. Benar kata orang, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ibunya seorang pembunuh dan dia mengikuti jejak ibunya menjadi seorang pembunuh!" cetus Ega dengan lantang, otot lehernya yang menegang menandakan pria itu tengah emosi.


"Pem- Pembunuh? Apa maksud anda, kenapa anda membawa-bawa ibu kami?" Dokter Ilham terlihat gusar, wajahnya seketika berubah khawatir.


"Cih," Ega meludah di depan Dokter Ilham. "Kamu pikir kami semua tidak tau siapa kamu sebenarnya? Kamu pikir Indhi bodoh sehingga mau menikahi anak dari wanita jahat yang sudah menghancurkan hidupnya? Kamu pikir kami tidak tau siapa Mariam? Wanita kejam yang telah merebut suami orang dan membunuh orang yang tak berdosa?" seru Ega dengan mata memerah, amarahnya tak bisa di bendung lagi, pria itu benar-benar akan menggila.


BERSAMBUNG..