Marry me, Brother

Marry me, Brother
Drama pengantin baru



Kondisi tubuh yang masih lemah mengharuskan Indhi di rawat di Rumah Sakit. Indhi sudah di pindahkan ke ruang perawatan, semalam penuh Ega menjaga istrinya tanpa terlelap sedikitpun.


Pagi-pagi sekali, Indhi terbangun karena ingin pergi ke kamar mandi, setelah menghabiskan beberapa botol cairan infus tubuhnya mulai bertenaga. Karena melihat Ega sedang memejamkan mata, Indhi bermaksud untuk pergi ke kamar mandi sendiri.


"Kamu mau kemana, apa kamu butuh sesuatu?" tanya Ega saat menyadari istrinya bangun dari tempat tidur.


"Aku mau ke kamar mandi, maaf aku membangunkan kakak," jawab Indhi dengan wajah bersalah.


"Aku tidak tidur kok. Ayo aku bantu."


Ega menuntun istrinya menuju kamar mandi, meski Indhi sudah menyuruhnya untuk keluar namun pria itu bersikeras menemani istrinya di dalam kamar mandi.


"Kak, pi*pis ku jadi nggak keluar. Kakak keluar dulu, aku malu kalau kakak di sini terus," protes Indhi yang sejak tadi menahan hajat kecilnya, rasanya sangat malu ketika harus buang air di hadapan orang lain.


"Kenapa harus mulu, aku ini suamimu," tolak Ega dengan tegas.


Indhi menggerutu di dalam hati, karena tak tahan lagi, ia membuang jauh semua rasa malunya dan mengeluarkan hajat yang sejak tadi di tahannya.


"Kakak sangat menyebalkan," Indhi mencebik dan menatap kesal suaminya.


"Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja," beo Ega yang terlihat mulai posesif.


"Aku hanya ke kamar mandi kak."


"Aku takut kamu jatuh!"


Indhi memutar bola matanya jenggah, semua ini pasti karena Ega terlalu khawatir padanya, namun jujus saja Indhi tidak terlalu menyukai sikap posesif suaminya.


***


Matahari hampir terbit, namun Arum masih terjaga dengan lingkar hitam di bawah matanya. Ya, semalaman gadis itu tidak bisa tidur karena memikirkan kejadian semalam. Pikirannya di penuhi ketakutan, ia khawatri Dion akan marah lalu meninggalkannya dan membuatnya menjadi janda kembang. Sungguh pemikiran yang luar biasa bukan?


Arum reflek menutup matanya saat ia merasakan pergerakan dari sang suami, tak lama Dion menyingkap selimutnya dan pergi ke kamar mandi. Arum membuka sedikit matanya, di balik kelopak mata tersebut ia mengintip aktivitas suaminya.


"Kenapa dia bangun pagi-pagi sekali?" tanya Arum di dalam hatinya.


Cukup lama menunggu, hampir setengah jam lamanya Dion berada di dalam kamar mandi, sementara Arum menunggu dengan gelisah.


Saat pintu kamar mandi terbuka, Arum kembali memejamkan matanya, namun sekilas ia bisa melihat rambut basah sang suami.


"Dia baru saja mandi?" batin Arum.


Sementara Dion yang memang sudah terbiasa mandi pagi sedang mengganti pakaiannya. Pagi ini dia bangun dengan perasaan kacau, mungkin karena semalam ia gagal melakukan malam pertama.


Setelah berpakaian rapi, Dion kembali ke tempat tidur, pria itu mengamati istrinya yang masih tertidur, atau lebih tepatnya pura-pura tidur.


"Buka matamu, aku tau kamu tidak tidur," ucap Dion seraya mendaratkan bokongnya di tepi tempat tidur, pria itu menatap wajah natural milik Arum.


Karena sudah ketahuan, perlahan Arum mulai membuka matanya, saat matanya terbuka sempurna, ia sedikit terkejut karena netranya langsung bertemu dengan manik manta sang suami, untuk seperkian detik tatapan mereka saling mengunci.


"Kakak kenapa sudah bangun?" tanya Arum dengan gugup.


"Aku terbiasa bangun jam segini. Biasanya aku olahraga dulu, tapi aku lupa membawa baju olahraga ke sini," balas Dion menjawab rasa penasaran Arum.


Keduanya kembali diam, di dalam selimut, Arum meremas kedua tangannya. Ia ingin sekali meminta maaf atas kejadian semalam, namun lidahnya terasa kelu.


"Masih saangat pagi, lebih baik kamu tidur. Aku tidak mau kamu sakit. Aku akan memeriksa beberapa pekerjaanku," Dion mengecup kening Arum, pria itu lalu bangun dan melangkahkan kakinya menuju sofa yang tak jauh dari tempat tidur mereka. Namun seketika langkahnya terhenti, saat tiba-tiba Arum menahan tangannya. Dion lalu berbalik dan menatap istrinya penuh tanya.


"Kenapa?" tanya Dion dengan wajah datar, tak bisa di pungkiri ia masih merasa kecewa.


"Maaf," ucap Arum dengan pelan, gadis itu hanya bisa menunduk karena tak mampu menatap wajah suaminya. "Maaf karena semalam merusak malam pertama kita," imbuhnya lagi dengan suara penuh sesal.


"Tidak masalah. Kita bisa melakukannya setelah kamu siap," ucap Dion datar, pria itu melepaskan tangan Arum yang berada di tangannya. "Tidurlah lagi."


Arum dapat melihat kekecewaan di wajah Dion, gadis itu kembali merutuki dirinya sendiri. Apalagi saat ini Dion mulai sibuk dengan laptopnya, membuat Arum merasa jika Dion benar-benar marah.


"Aku akan menebusnya pagi ini."


Arum berjalan menuju lemari pakaian, di dalam sana ia menemukan kotak kado pemberian Indhi. Arum membuka kotak kado itu dan mengeluarkan lingerie berwarna merah menyala. "Ndi, sepertinya aksi balas dendammu akan membantuku pagi ini," ucapnya pelan, Arum segera meraih baju haram itu dan membawanya ke dalam kamar mandi.


Setelah mandi, Arum kembali menatap gaun transparan yang sejak tadi ragu untuk di pakainya. Namun mengingat wajah kecewa suaminya, membuat Arum memantapkan hati memakai gaun transparan yang memamerkan lekuk tubuhnya. Untuk menutupi rasa malunya, Arum memakai bathrobe saat keluar dari kamar mandi.


Dengan jantung yang berdebar-debar, Arum memberanikan diri menghampiri suaminya, gadis itu duduk di sebelah sang suami yang tengah fokus pada laptopnya. Tangannya semakin gemetaran mengingat rasa sakit yang di alaminya semalam, namun lagi-lagi wajah kecewa Dion membuat Arum mengumpulkan keberaniannya.


"Pekerjaannya masih banyak kak?" tanya Arum dengan gugup, namun Dion hanya menanggapinya dengan anggukan kepala.


"Bukannya kakak masih cuti?"


Dion menghentikan aktivitasnya, pria itu menoleh dan menatap istrinya. "Aku bingung mau ngapain, jadi lebih baik mengerjakan tugas kantor saja," jawabnya menohok hati sang istri.


Perkataan Dion tentu saja membuat Arum semakin merasa bersalah, namun ia juga bingung bagaimana barus menebus kesalahannya. Meski sudah membulatkan tekad untuk melanjutkan kegiatan panas yang semalam tertunda, namun Arum bingung bagaimana harus memulainya.


"Bagaimana cara menggodanya, masa iya aku harus minta duluan," batinnya bermonolog.


"Ya sudah, lanjutkan kerjanya kak!"


Arum menyerah, ia tak kuasa mengutarakan maksudnya, gadis itu beranjak dari duduknya dan memutuskan kembali ke tempat tidur. Mungkin saja setelah tidur nanti ia akan merasa lebih baik lagi.


Namun di tengah langkahnya, tiba-tiba ia mendapat sedikit keberanian untuk menggoda suaminya.


"Dengan begini aku tidak perlu mengatakannya kan," batinnya seraya melepaskan bathrobe yang menutupi baju haramnya. Setelah bathrobe itu terlepas, Arum kembali melanjutkan langkahnya menuju tempat tidur.


Di sisi lain, Dion yang tadi mengamati gerak-gerik istrinya di buat terkejut dengan aksi nakal Arum. Pria itu bahkan menahan nafasnya saat melihat tubuh Arum terbungkus gaun transparan. Bokongnya yang sintal membuat fantasi liar Dion mulai bekerja, pria itu tak bisa menahannya lagi.


"Arum kau..."


BERSAMBUNG...