
"Kak," teriak Indhi dengan wajah panik, sekuat tenaga ia menahan tubuh Ega dan saat ia berhasil membuka pintu mobil, Indhi segera memapah Ega masuk ke dalam mobil dan membantu suaminya duduk di kursi penumpang.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" tanya Indhi penuh kekhawatiran, wanita itu meraih botol air mineral yang ada di dalam mobil dan membantu Ega meminumnya.
"Minum sedikit lagi kak," ucap Indhi dan Ega hanya bisa patuh.
"Sayang, aku ingin pulang," kata Ega dengan pelan, wajahnya yang terlihat begitu pucat membuat Indhi sangat khawatir.
"Kita harus ke Rumah Sakit kak."
"Aku baik-baik saja, aku hanya ingin istirahat di rumah."
"Oke kita pulang. Tapi kakak harus janji kalau kakak akan baik-baik saja."
Ega menggangguk pelan, sudut bibirnya sedikit terangkat. Meski kenyataan pahit baru saja ia terima, namun ia harus tetap bersyukur karena akhirnya ia tau wajah asli dari ibu kandungnya. Kini ia hanya perlu menyembuhkan lukanya dan hidup bahagia bersama istri dan juga ibu angkatnya.
Indhi mengemudikan mobil dengan perasaan cemas, sesekali ia melirik Ega yang duduk di sampingnya. Tangannya juga tak bisa diam, ia menggenggam erat tangan suaminya yang terasa dingin dan hanya melepaskannya saat ia harus memutar setir ke kiri dan ke kanan.
Perjalanan pulang terasa begitu lama, melihat kondisi suaminya, Indhi memilih pulang ke rumah bu Tika, setidaknya jika di sana ada yang membantunya menghibur Ega.
Saat tiba di depan rumah ibunya, Indhi turun dari mobil dengan hati-hati karena Ega tertidur di kursinya, Indhi berlari menuju pintu rumah dan segera mengetuknya.
Tak lama pintu terbuka, kebetulan bu Tika sendiri yang membukakan pintu. Wanita itu sangat bahagia melihat kedatangan putrinya.
"Indhi, ibu sangat merindukanmu," ucap bu Tika dan langsung memeluk tubuh putrinya.
"Indhi juga kangen bu. Ibu sehat kan?" sahut Indhi, ia lalu membalas pekukan hangat ibunya.
"Seperti yang kamu lihat. Ibu sangat sehat."
"Syukurlah bu."
"Oh ya, mana suamimu?" tanya bu Tika sambil celingukan mencari keberadaan putra kesayangannya.
"Kakak masih di mobil. Kami baru saja bertemu dengan wanita itu bu. Kak Ega syok karena wanita itu meminta uang kepada kak Ega. Rupanya niatnya datang lagi ke kehidupan kak Ega hanya untuk uang," ucap Indhi menjelaskan kejadian di caffe.
Bu Tika mengepalkan kedua tangannya, ia tak menyangka ada seorang ibu yang mampu menyakiti hati anaknya. "Lalu apa yang terjadi Ndi?"
"Kakak memberikan uang tabungannya kepada wanita itu bu. Totalnya lima ratus juta."
"Awalnya aku juga kaget bu. Dan yang lebih membuat Indhi terkejut, kak Ega memberi syarat jika wanita itu menerima uang kak Ega maka dia harus berhenti memgganggu kita, dan tanpa rasa bersalah wanita itu lebih memilih uang itu bu," jelas Indhi dengan ekspresi yang sukar di jelaskan, ia merasa kasihan pada suaminya juga merasa jengkel kepada bu Sherly, semuanya bercampur menjadi satu.
"Astaga Ega, malangnya nasibmu nak," bu Tika tak bisa menahan air matanya, rasanya dadanya begitu sesak, ia tak bisa membayangkan perasaan Ega saat ini.
Indhi lalu kembali ke mobil untuk membangunkan suaminya, gadis itu menatap sendu pria yang masih terlelap dengan wajah sedihnya. "Sayang bangun, kita sudah sampai," ucap Indhi seraya mengelus kepala Ega.
Ega mulai mengerjapkan matanya, perlahan matanya mulai terbuka, pria itu tersenyum saat melihat wajah istrinya. "Sudah sampai ya," ujarnya dengan suara lemah.
"Ya, tapi kita pulang ke rumah ibu. Gak papa kan?"
"Hem." Ega lalu turun dari mobil, di depan rumah bu Tika sudah menunggu kedatangannya, wanita itu langsung memeluk putra kebanggaannya itu. Meski sudah berusaha untuk tidak menangis, namun bu Tika tetap terisak di dalam pekukan Ega.
"Jangan menangis bu, Ega baik-baik saja," ucap Ega menenangkan ibunya, Ega yakin jika bu Tika sudah mengetahui kejadian sore tadi.
Cukup lama bu Tika menangis di pelukan Ega, wanita itu lalu mengurai pelukannya dan segera menyeka air mata di wajah tuanya.
"Ayo masuk, kalian pasti lelah," bu Tika membawa kedua anaknya masuk ke dalam rumah, ia lalu membiarkan mereka masuk ke dalam kamar untuk beristrirahat sejenak.
Setibanya di dalam kamar, Ega langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, tubuhnya terasa lemas dan tidak memiliki tenaga, ia benar-benar terpukul dengan kelakuan ibu kandungnya.
"Aku mandi dulu ya kak," ucap Indhi, setelah Ega mengangguk, ia segera pergi ke dalam kamar mandi.
Cukup lama Indhi menghabiskan waktunya di dalam kamar mandi, setelah beberapa saat akhirnya ia keluar dengan tubuh yang sudah segar. Indhi menghampiri Ega di atas tempat tidur, ia bergabung dengan suaminya berlindung di bawah selimut.
Ega segera memeluk pinggang istrinya, pria itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Indhi. Cukup lama mereka berada dalam posisi tersebut, hingga samar-samar Indhi bisa mendengar isak tangis Ega, perlahan lehernya pun mulai basah terkena air mata suaminya.
Sakit sekali rasanya ketika kita harus melihat orang yang kita sayangi menangis tersedu-sedu, Indhi bahkan merasa dadanya penuh sesak, ia tak mau Ega menangis namun Ega hanyalah manusia biasa yang juga bisa terluka dan menangis.
Setelah cukup lama menangis, Ega akhirnya bisa mengendalikan dirinya, perlahan kepalanya mulai menjauh agar bisa melihat wajah istrinya.
"Jangan pernah tinggalin aku," ucapnya dengan nafas tersenggal-senggal, matanya yang sembab membuat ia terlihat menyedihkan.
"Aku janji, aku tidak akan meninggalkan kakak," jawab Indhi dengan senyum di wajahnya, perlahan ia membantu menyeka air mata di pipi Ega. "Jangan menangis lagi, aku sedih melihat kakak begini. Air mata kakak terlalu berharga untuk menangisi wanita yang bahkan tidak memiliki hati sama sekali!"
"Hem, kamu benar. Seharusnya aku senang karena telah terbebas dari wanita itu. Mulai sekarang aku akan memulai hidup yang baru tanpa bayang-bayang wanita itu lagi." Ega kembali memeluk tubuh istrinya. Meski terasa sakit namun ini adalah keputusan yang menurutnya terbaik untuk kehidupannya. Meski tak seharusnya ia melupakan ibu kandungnya, namun rasa sakit yang di torehkan oleh wanita yang sudah melahirkannya membuat Ega memilih untuk menghapus wanita itu di dalam hidupnya.
BERSAMBUNG...