
"Pergi!"
Kata-kata itu terus terngiang di telinga Dita meski kini ia sudah berada di dalam mobil Dokter Aditya yang entah akan membawanya kemana. Setelah di usir oleh bapaknya, Dita hanya bisa pasrah saat Dokter Aditya membawanya keluar dari rumah yang sudah di tempatinya berpuluh-puluh tahun lamanya.
Lamunan panjang Dita berakhir saat mobil Dokter Aditya terparkir di sebuah basement apartemen, gadis itu menoleh untuk menanyakan kemana pria itu membawanya pergi. "Kita dimana?" tanyanya dengan suara parau.
"Untuk sementara tinggalah di apartemenku, aku akan tinggal di rumah orang tuaku," jawab Dokter Aditya, pria itu juga menoleh sehingga mereka saling berhadapan.
"Saya bisa mencari kontrakan yang dekat dengan Rumah Sakit, saya tidak mau merepotkan anda lagi dok," tolak Dita, entah untuk keberapa kalinya gadis itu terus menolak itikad baik dari Dokter Aditya.
"Berhentilah untuk keras kepala. Seandainya kamu setuju untuk menikah denganku semua ini tidak akan terjadi. Karena kamu tidak mau menikah, anggap saja apartemen ini sebagai bentuk kompensasi karena aku telah mengambil kesucianmu!" Dokter Aditya tak tahan lagi sehingga pria itu kembali mengucapkan kalimat yang melukai harga diri Dita sebagai seorang wanita.
"Anda pikir saya wanita murahan yang rela menukarkan keperawanan saya hanya demi sebuah apartemen mewah? Anda memang keterlaluan!" hardik Dita yang tak terima dengan penuturan Dokter Aditya, gadis itu segera keluar dari mobil dan menutup pintunya dengan sangat keras.
Dokter Aditya memukul setir mobilnya dengan frustrasi, pria itu lalu keluar dan mengejar Dita, biar bagaimanapun gadis itu telah menjadi tanggung jawabnya. Setelah berhasil menghadang Dita, tanpa banyak bicara, Dokter Aditya segera memikul Dita di pundaknya layaknya sebuah karung beras. Meski gadis itu terus meronta-ronta, ia tak peduli dan membawa gadis itu kembali ke apartemennya.
Setiba di dalam apartemen, Dokter Aditya melemparkan tubuh Dita ke atas tempat tidur, gadis itu begitu terkejut melihat rahang Dokter Aditya yang mengeras dengan mata yang memerah.
"Aku menawarimu sebuah pertanggung jawaban dan kamu menolaknya, saat aku menawari sebuah apartemen kamu marah karena berpikir aku merendahkanmu? Sepertinya aku harus benar-benar membuatmu hamil agar kamu mau menikah denganku!" ucap Dokter Aditya yang lebih terdengar seperti sebuah ancaman, pria itu lalu membuka jasnya dan melemparkannya ke sembarang arah, dengan tatapan nanar pria itu melepaskan satu per satu kancing kemejanya hingga menampakkan dada putih dan mulus.
"A-apa yang anda lakukan dok?" tanya Dita gugup, tiba-tiba tubuhnya gemetaran dan keringat dingin membasahi tubuhnya.
"Membuatmu hamil! Dan aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu hamil!" ujarnya di barengi sebuah senyuman nakal di wajahnya.
"A-apa? Jangan macam-macam dok, saya bisa melaporkan anda ke polisi?" gertak Dita untuk menutupi rasa takutnya.
"Laporkan saja. Aku tidak takut!"
Setelah berhasil melepaskan kemejanya, Dokter Aditya naik ke atas tempat tidur dan berhasil memojokkan Dita. Gadis itu mencoba menahan tubuh Dokter Aditya yang semakin dekat, sayangnya tenaganya yang kecil tak mampu menahan tubuh pria itu.
"Jangan lakukan itu dok, saya mohon," pinta Dita dengan mata berembun, sungguh ia tak menyangka jika Dokter Aditya akan bertindak sejauh itu.
Dokter Aditya yang mengindahkan ucapan Dita, pria itu menahan kedua tangan Dita di atas kepalanya, lalu dengan rakus pria itu mencumbu Dita layaknya seorang pria mesyum.
"Baik, ayo kita menikah!" teriak Dita putus asa, tak ada pilihan lain selain menerima tawaran pria itu dari pada harus kembali melakukan dosa.
Dokter Aditya menghentikan aktivitasnya, pria itu menatap wajah Dita dan mencari sebuah kebenaran di mata gadis itu. "Kamu serius?" tanyanya memastikan.
Dokter Aditya mengangkat sudut bibirnya, pria itu lalu merebahkan dirinya di samping tubuh Dita yang masih bergetar dengan sangat hebat.
"Kenapa tidak setuju sejak awal, kenapa harus menunggu aku berbuat kasar!" ucap Dokter Aditya seraya menatap langit-langit kamarnya.
"Saya takut," jawabnya dengan suara tersedu.
Dokter Aditya menoleh hingga ia dapar melihat air yang menetes di sudut mata gadis itu. "Kenapa?"
"Karena saya miskin!"
Ucapan Dita kembali membuat Dokter Aditya merasakan sesuatu yang tidak nyaman di hatinya, pria itu lalu memiringkan tubuhnya dan menahan kepalanya dengan salah satu tangan hingga ia lebih leluasa menatap Dita. "Apa kamu selalu tidak percaya diri seperti ini?"
Dita menoleh dan terkejut saat menyadari jika Dokter Aditya tengah menatapnya, gadis itu segera mengalihkan perhatiannya dan kembali menatap langit-langit kamar. "Bukan tidak percaya diri, tapi pada kenyataannya saya memang miskin dan tidak pantas untuk bersanding dengan anda. Apalagi tidak ada cinta di antara kita. Saya tidak ingin mempermainkan sebuah pernikahan."
"Dan aku juga tidak mau mempermainkan seorang wanita. Aku tidak mau menjadi lelaki badjingan yang melepaskan tanggung jawabnya. Setelah kejadian semalam kamu resmi menjadi tanggung jawabku!"
"Terima kasih," ucap Dita pada akhirnya, kata-kata yang tertahan akhirnya ia ucapkan.
"Hem. Istirahatlah. Anggap rumah sendiri. Aku akan pulang ke rumah orang tuaku untuk membicarakan pernikahan kita," Dotker Aditya beranjak dari tempat tidur dan meraih bajunya. Setelah berpakaian lagi, ia berjalan menuju nakas dan membuka laci. Pria itu mengeluarkan sebuah kartu nama dan memberikannya kepada Dita. "Hubungi aku kalau kamu membutuhkan sesuatu!" setelah mengucapkan kalimat tersebut, Dokter Aditya benar-benar meninggalkan Dita seorang diri di dalam apartemennya.
Sepeninggal pemilik apartemen, Dita hanya bisa duduk sambil memeluk kakinya, di saat-saat seperti ini ia sangat merindukan kedua sahahatnya. Dita lalu merogoh saku blezernya dan mengeluarkan ponsel. Di tatapnya foto mereka bertiga yang terpajang di layar ponselnya.
"Aku merindukan kalian," desisnya seraya memeluk ponsel.
Ingin sekali Dita menghubungi Indhi atapun Arum u tuk membagi kesedihannya, namun ia cukup tau malu dan merasa enggan. Jika saja ia tak pernah memperdulikan Bella, mungkin saja kini mereka tengah berbahagia dengan kehamilan Indhi.
Namun nasi telah menjadi bubur, seseorang tak bisa mengulang waktu ataupun memperbaiki masa lalu. Dita hanya bisa meratapi kesalahan fatalnya hingga ia harus berakhir seperti ini, menikah dengan pria yang sama sekali tak ia cintai.
Mungkinkah ini yang di sebut karma?
Entah, hidup manusia siapa yang tau. Mungkin saja Tuhan sedang menyiapkan rencana terbaiknya untuk Dita. Yang harus gadis itu lakukan sekarang adalah memperbaiki kesalahannya dan menebus semua dosa-dosanya.
langkah awal yang harus ia lakukan sekarang adalah meminta maaf kepada Indhi dan menyiapkan hati untuk menerima pernikahannya dengan Dokter Aditya.
BERSAMBUNG...