
Indhi dan tuan Hendarwan sama-sama membelalakan matanya saat melihat mobil dengan kecepatan tinggi melaju ke arah mereka. Tuan Hendarwan melirik Indhi sekilas, seketika ia mengingat kedua bayi yang berada di dalam kandungan Indhi, saat mobil semakin dekat, tuan Hendarwan mendorong tubuh Indhi sehingga wanita itu terhuyung ke samping. Beruntung, sebelum Indhi jatuh seorang dokter yang berada di lobby dengan sigap menahan tubuh Indhi.
Namun nasib kurang beruntung terjadi pada tuan Hendarwan, seteleh mencoba mendorong Indhi, kini malah tubuh tuanya yang tertabrak mobil tersebut, tubuh rentanya tersangkut di atas kap mobil sebelum akhirnya menabrak pintu kaca yang berada di lobby Rumah Sakit.
"Tuan Hendarwan," teriak Indhi histeris, wanita itu hendak menghampiri tubuh tuan Hendarwan namun seseorang justru menahannya agar tidak pergi.
Kepanikan terjadi di lobby, setelah terdengar suara benturan yang sangat keras , kini lobby Rumah Sakit di penuhi oleh orang-orang yang penasaran dengan hal yang terjadi.
Di sisi lain Ega yang panik keluar dari mobilnya, pria itu menghampiri istrinya yang sedang di tahan oleh orang lain ,setelah kedatangan Ega, orang tersebut pun melepaskan tangan Indhi.
"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Ega panik, pria itu memeriksa setiap inci tubuh istrinya.
"A-aku baik-baik saja kak, tapi tuan Hendarwan," Indhi menunjuk ke arah dimana tuan Hendarwan berada.
"Tunggu di sini sebentar!"
Ega segera berlari ke arah tuan Hendarwan, beberapa dokter sedang berusaha mengangkat tubuh tuan Hendarwan yang di penuhi dengan luka.
"Cepat bawa tuan Hendarwan ke ruang operasi," teriak salah seorang dokter, tak lama kemudian beberapa perawat datang dengan mendorong brankar. Setelah di pindahkan ke atas brankar, Tuan Hendarwan pun segera di bawa ke ruang operasi.
Yang menjadi fokus Ega justru pengemudi mobil yang masih terjebak di dalam mobil. Dengan rahang yang mengeras dan emosi yang meletup-letup, Ega menghampiri mobil yang kaca bagian depannya sudah pecah total.
Ega menarik paksa pintu mobil yang terkunci dari dalam, beruntung salah seorang petugas keamanan berhasil membuka pintu mobil tersebut. Setelah pintu terbuka, Ega menarik tubuh pengemudi ugal-ugalan dengan kasar. Nampak jelas seorang pria dengan darah memenuhi kepalanya, Ega menatap pria itu dengan penuh amarah.
"Katakan siapa yang menyuruhmu?" kenapa kau mengicar istriku?" cecar Ega seraya menarik kerah baju pria tersebut. Dia amat yakin jika yang menjadi sasaran adalah istrinya
"Aku tidak di suruh, ini murni kecelakaan," sangkal pria itu dengan wajah panik.
"Sayang sekali, kau lebih memilih di penjara sendirian," ancam Ega.
"Pe-pe-penjara?" ujar pria itu, wajahnya semakin terlihat panik.
"Tentu saja, orang bodoh pun akan tau jika kecelakaan tersebut adalah sebuah kesengajaan," hardik Ega dengan tatapan membunuh. "Cepat katakan, atau aku akan membuatmu diam selamanya,"ancam Ega, seringai licik timbul di wajahnya.
"A-aku ti-tidak di suruh oleh siapapun!" tegas pria itu dengan gagap, darah segar yang terus keluar dari kepalanya membuat pria itu semakin pucat.
"Jika kau tidak jujur, maka kau akan mati kehabisan darah di sini, jadi cepat katakan siapa yang menyuruhmu melakukan ini!"
Pria itu terlihat semakin ketakutan setelah memegangi kepalanya dan menemukan darah di sana, belum lagi apa yang di lakukannya adalah di luar rencananya. Ya, benar apa yang di katakan Ega jika kecelakaan tersebut adalah sebuah kesengajaan. Sudah seminggu lebih pria itu mengikuti Indhi dan menunggu momen yang pas, namun karena tak menemukan momen yang tepat dan dia terus di tekan oleh orang yang memerintahnya akhirnya pria itu nekat melukai Indhi di depan Rumah Sakit, dimana banyak saksi mata yang melihat aksi nekatnya.
Dari kejauhan Indhi melihat Ega mulai tak bisa mengendalikan emosinya, dengan cepat Indhi menghampiri sang suami. Namun perhatian Indhi justru tertuju pada luka di kepala pria yang hampir membunuhnya itu.
"Kak apa yang kakak lakukan, kenapa kakak tidak mengobatinya?" tanya Indhi seraya menatap suaminya.
"Dia hampir membunuhmu, jadi untuk apa aku mengobatinya. Dia seorang penjahat, jadi biarkan dia mati mengering karena kehabisan darah!" tutur Ega dengan kilat amarah di matanya.
"Kak kita ini seorang dokter, tugas kita mengobati orang sakit, baik itu penjahat ataupun kriminal saat mereka terluka kita wajib menolongnya. Jangan langgar sumpah kita sebagai doker, jadi biarkan aku mengobati orang ini dulu!"
Tanpa menunggu persetujuan suaminya, Indhi menarik tubuh pria yang hampir menabraknya dan membawa pria itu ke UGD untuk di obati. Setibanya di UGD, Indhi segera mengobati kepala pria itu dengan hati-hati.
"Kenapa anda ingin menabrak saya? Apa saya pernah berbuat salah kepada anda?" tanya Indhi seraya menjahit kening pria itu, tak sedikitpun amarah terpancar dari matanya. Wanita hamil itu begitu tenang dan bisa menguasai emosinya.
Pria itu hanya diam, namun rasa sesal berkecamuk di hatinya. Ia tak menyangka jika wanita yang akan ia bunuh justru kini tengah merawatnya.
"Apa ada seseorang yang menyuruh anda?" Indhi menjeda aktivitasnya, ia menatap pria yang juga tengah menatapnya. "Katakan saya, dengan begitu tidak hanya anda yang akan di penjara!"
"S-saya," ujar pria itu dengan ragu.
Klik...
"Katakan saja. Sayang sekali jika anda memilih bungkam. Anda sekarang terluka dan mungkin beberapa menit lagi polisi akan datang menjemput anda," ucap Indhi di sisipi sebuah ancaman.
"Maaf," hanya kalimat singkat itu yang keluar dari mulut pria yang duduk di hadapan Indhi.
"Jika anda memberi tahu saya siapa yang menyuruh anda, maka saya akan memaafkan anda!"
"Sungguh?" ujarnya penuh harap.
"Tentu saja, jadi katakan siapa yang menyuruh anda?"
"Bella."
Rahang Indhi mengeras seketika saat ia mendengar sebuah nama yang tak asing baginya,sebuah nama yang langsung mengingatkannya pada gadis yang sudah membuatnya keguguran.
"Bukankah Bella berada di dalam penjara?" terka Indhi, ia hanya ingin memastikan apakan Bella yang menyuruh pria itu adalah Bella yang ia kenal.
"Benar. Saya memiliki hutang kepada nyonya Mariam. Hutang saya sangat banyak, saya tidak mampu membayarnya. Nyonya Mariam bilang utang saya akan lunas kalau saya menuruti semua perintah Bella!" jelasnya panjang lebar.
"Tunggu sebentar. Bukannya Mariam sudah lama mendekam di penjara? Bagaimana anda bisa meminjam uang darinya?" tanya Indhi penasaran, karena setaunya Mariam mendekam di penjara setelah menabrak Zean 4 tahun yang lalu.
"Saya mengenalnya sejak dulu, sebelum wanita ular itu di penjara!"
"Tapi dari mana Mariam memiliki banyak uang?"cecar Indhi, seingatnya Mariam pernah menyebut jika hidupnya melarat setelah kepergian Pramono.
"Wanita itu bandar nar*koba!"
"Apa?" pekik Indhi, meski Mariam jahat namun ia tak menyangka jika wanita itu seorang bandar nar*koba.
"Maafkan saya, saya terpaksa melakukannya karena dia mengancam akan membunuh keluarga saya. Saya sangat menyesal. Dan kecelakaan suami anda beberapa waktu yang lalu adalah ulah nyonya Mariam!"
"Apa? Jadi kecelakaan itu di sengaja, dan Mariamlah dalang di baliknya?" kali ini Indhi tak mampu menyembunyikan amarahnya, wanita hamil itu mengepalkan kedua tangannya, tatapan yang semula teduh kini di tutupi kilatan amarah.
Di saat yang bersamaan Ega dan beberapa anggota polisi datang menemui Indhi dan pria itu. Indhi segera bernajak dari duduknya dan menghampiri petugas tersebut.
"Selamat siang, kami menerima laporan jika terjadi kecelakaan dengan unsur kesengajaan di Rumah Sakit ini," ucap salah seorang petugas polisi.
"Benar pak, pria itulah pelakunya. Dan saya juga memiliki bukti siapa yang sudah menyuruh pria itu. Pastikan pria itu dan orang yang sudah menyuruhnya membusuk di penjara!" Indhi mengeluarkan ponsel dari saku sneli dokternya, wanita itu memutar rekaman yang dian-diam ia ambil saat sedang mengobati pria yang hampir membunuhnya.
Pria yang sejak tadi menunduk kini menatap punggung Indhi dengan mata membelalak sempurna. "Bukannya tadi anda bilang sudah memaafkan saya?"
Indhi memutar tubuhnya, ia kembali menghampiri pria itu. "Saya memang memaafkan anda, tapi saya tidak bilang tidak akan melaporkan anda ke pihak yang berwajib. Setiap tindakan ada timbal baliknya tuan, dan anda harus merasakan akibatnya karena telah mencelakai orang lain," jawab Indhi dengan seringai samar di wajahnya yang di liputi amarah.
"Silahkan bawa pria itu pak!"
Petugas kepolisian lalu membawa pria itu keluar dari Rumah Sakit. Setelah kepergian mereka, Ega segera menghampiri Indhi dan memeluknya dengan sangat erat.
"Aku sangat takut," ujar Ega.
"Aku baik-baik saja kak," jawab Indhi pelan, perlahan ia mulai mengurai pelukan suaminya. "Oh ya bagaimana kondisi tuan Hendarwan?" seketika wajah Indhi berubah panik saat mengingat betapa kerasanya tubuh tuan Hendarwan di hantam mobil.
"Dia masih di operasi. Tapi bagaimana bisa tuan Hendarwan yang tertabrak, kenapa kalian tak sama-sama menghindar saat mobil itu melaju ke arah kalian?"
"Kejadiannya sangat cepat kak. Tuan Hendarwan mendorong tubuhku karena dia ingin melindungiku kak, tapi ternyata malah beliau yang tertabrak," jawab Indhi dengan mata berkaca-kaca, saat melihat tubuh tuan Hendarwan tertabrak mobil, Indhi merasa seperti dejavu, ia kembali mengingat saat tubuh Zean terpelanting di atas aspal panas.
"Aku berhutang nyawa padanya!"
BERSAMBUNG...