Marry me, Brother

Marry me, Brother
Putusan Pengadilan



Dua jam sebelum persidangan di mulai, ketiga gadis yang sudah tidak gadis lagi bertemu di sebuah caffe yang berada tak jauh dari Pengadilan.


"Wajah-wajah pengantin baru memang berseri," goda Indhi kepada kedua sahabatnya. Sementara Arum dan Dita hanya teripu malu.


"Tapi kenapa kamu terlihat pucat. pipimu juga tirus Ndi? Apa kamu lagi Diet?" tanya Dita yang sejak tadi mengamati perubahan pada tubuh sahabatnya.


"Ah ini karena aku tidak nafsu makan beberapa hari ini," jawab Indhi sambil tersenyum.


"Seorang Indhi tidak nafsu makan? Mustahil," sahut Arum tak percaya.


"Apa kamu sakit Ndi?" tanya Dita lagi yang mulai merasa khawatir.


Indhi terkekeh melihat wajah serius kedua sahabatnya, ia lalu meraih sesuatu dari dalam tas dan meletakkannya di atas meja. "Aku tidak nafsu makan gara-gara mereka," ucap Indhi seraya menunjukan foto hitam putih hasil USG nya.


Arum meraih lebih dulu foto tersebut, alisnya mengkerut karena jujur saja dia tidak tau foto apa itu, hanya ada gambar yang tidak jelas bentuknya. Melihat wajah bingung Arum, Dita lalu merebut foto tersebut, seketika matanya melebar, Dita lalu membekap mulutnya seolah tak mempercayai apa yang baru saja di lihatnya .


"Baby twins?" ucap Dita seraya menatap Indhi.


"Twins?" ulang Arum yang masih belum paham. "Maksudnya Indhi hamil?"


"Ya aku hamil dan janinnya ada dua," jawab Indhi dengan wajah yang sangat bahagia.


"Aaaa," Arum dan Dita berteriak bersamaan hingga mengundang perhatian dari pengunjung yang lain, kedua gadis itu meminta maaf kepada pelanggan lain dan segera mengecilkan suaranya.


"Ini serius kan? Jadi aku bakal jadi momy," ujar Arum bersemangat.


"Iya serius. Tapi kenapa kamu harus menjadi momy nya?"


"Dita akan menjadi aunty nya, jadi aku akan menjadi momy nya," Arum sudah mengandai-andai kedua bayi Indhi lahir ke dunia dan memanggilnya momy.


"Aku nggak mau di panggil aunty, aku juga mau di panggil momy," rengek Dita tak terima.


"Tidak bisa, hanya aku yang boleh di panggil momy," sahut Arum .


"Itu curang namanya!" kesal Dita.


"Sudah, sudah. Kenapa kalian jadi heboh sendiri sih?" lerai Indhi, ibu hamil itu terkekeh melihat tingkah kedua sahabatnya. Dalam hatinya ia kembali bersyukur karena hubungan mereka sudah seperti dulu lagi, tak ada rasa canggung lagi.


"Jadi siapa yang berhak di panggil momy Ndi?" tanya Arum sambil menatap sahabatnya.


"Oke aku setuju," sahut Arum.


"Aku juga setuju," ucap Dita.


"Wah senangnya, twins memiliki tiga orang ibu," Indhi mengusap perutnya dengan lembut. "Kalian dengar twins, kalian harus selalu sehat karena ketiga ibu kalian sangat menantikan kehadiran kalian," imbuhnya penuh rasa bahagia.


Dita yang sejak tadi gemas ingin mengelus perut Indhi akhirnya berjongkok di hadapan Indhi, tangannya terulur mengusap perut yang masih rata itu. "Hay twins, ini mama Dita. Mama berjanji akan menjaga ibu dan kalian. Kalian harus selalau sehat, mama ingin segera memeluk kalian," ucap Dita dengan mata berkaca-kaca, penyesalannya akan kejadian beberapa bulan lagi masih membekas di hatinya.


"Ah aku ingin menangis," ujar Arum. Ia lalu berdiri dan memeluk kedua sahabatnya. Begitulah persahabatan, saling berbagi sedih maupun senang. Sering terjadi kesalahpahaman namun pada akhirnya hubungan tersebut malah semakin erat.


***


Di dalam ruang sidang, Arum duduk di sebelah Indhi sebagai pengacara. Sementara Dita duduk di kursi lain dan hadir sebagai saksi. Tak lupa Bella yang duduk persis di hadapan hakim, gadis itu memakai kemeja berwarna putih serta celana bahan berwarna hitam.Ega sendiri duduk di kursi lain untuk menyimak persidangan yang sudah lama mereka nantikan.


Selama persidangan di mulai, tak sedikitpun Indhi melihat penyesalan di wajah adik tirinya itu. Tapi Indhi merasa lega karena artinya ia tak perlu mengasihani gadis itu.


"Berdasarkan bukti-bukti dan keterangan saksi, saudara Bella terbukti melanggar pasal 354 ayat 1 dan 2. Barang siapa dengan sengaja melukai berat orang lain, dihukum karena menganiaya berat, dengan hukuman penjara selama-lamanya delapan tahun.


Dan Jika perbuatan itu menjadikan kematian, sitersalah dihukum penjara selama-lamanya sepuluh tahun. Dengan demikian, hakim memutuskan saudari Bella akan di jatuhi hukuman sepuluh tahun penjara."


Tok...tok...tok


Hakim mengetuk palu sebanyak tiga kali, dengan demikian Bella resmi mendapat hukuman atas apa yang telah di lakukannya. Gadis itu melirik ke arah Dita dengan tatapan permusuhan, ia juga melirik ke arah Indhi dengan sorot penuh kebencian.


Bella lalu di bawa oleh dua petugas wanita, sebelum keluar dari ruang sidang, Bella menghampiri Indhi, gadia itu lalu menyeringai di hadapan Indhi. "Kamu pikir semuanya akan berakhir hanya karena aku di penjara. Lebih baik kau selalu waspada!" bisiknya mengancam.


Indhi hanya diam dan mengepalkan kedua tangannya, jika saja meraka tidak berada di ruang sidang, Indhi pasti sudah menampar wajah Bella yang menurutnya sangat menjijikan persis sama dengan Mariam, ibu kandung Bella.


Ega segera menghampiri istrinya saat melihat Bella membisikkan sesuatu kepada Indhi, pria itu menatap tajam gadis yang telah menyebabkan Indhi keguguran. "Selamat bergabung bersama ibumu, aku harap kalian membusuk di dalam sana," ucap Ega penuh kebencian, pria itu lalu meraih tangan istrinya dan membawanya keluar dari ruangan tersebut.


"Astaga, gadis itu sama sekali tidak menyesali perbuatannya," gumam Ega merasa heran.


"Iya kak. Dia bahkan kembali mengancamku, katanya aku harus lebih waspada. Aku takut kak," sahut Indhi dengan tangan yang tiba-tiba bergetar, pernah kehilangan orang-orang yang di sayanginya membuatnya trauma, ia takut Bella akan kembali mencelakainya dan bayi kembarnya.


"Aku yang akan menjamin Bella tidak akan menyentuh kalian!"


BERSAMBUNG...