
Malam semakin larut, namun Indhi masih terjaga. Matanya terpejam namun pikirannya menjalar ke mana-mana, beberapa kali ia merubah posisi tidurnya hingga membuat Ega terbangun.
"Sayang, kenapa belum tidur?" tanya Ega dengan suara serak.
"Aku kepikiran pasienku tadi siang kak," jawab Indhi pelan, wanita hamil itu lalu memeluk suaminya.
"Memangnya kenapa?" tanya Ega lagi, tangannya terulur mengusap rambut istrinya.
"Dia masih sangat muda dan tertular Sifilis, padahal dia masih kuliah kak," jelas Indhi menceritakan kondisi pasiennya siang tadi, setelah melakukan tes darah, pemuda itu di nyatakan mengidap Sifilis dan harus rutin melakukan suntik antibodi selama empat belas hari ke depan.
"Begitulah anak muda zaman sekarang. Tapi mau bagaimana lagi. Sebagai seorang dokter kita selalu menggembor-gemborkan akan bahaya pergaulan bebas, namun faktor lingkungan juga sangat mempengaruhi. Banyak orang tua yang sungkan memberikan edukasi pada anak-anak mereka. Semoga saja, dengan kejadian ini banyak anak muda yang lebih bijak dalam memilih pergaulan mereka," ucap Ega yang turut menyayangkan pergaulan anak zaman sekarang. "Sudah malam, kamu harus tidur, ibu hamil tidak boleh begadang dan banyak pikiran," titah Ega, pria itu membenahi selimut istrinya hingga menutup dada, kemudian Ega mengecup kening Indhi dengan lembut. "Nice dream wife."
"Good night hubby," balas Indhi, wanita itu semakin mempererat pekukannya. Namun sedetik kemudian, Indhi melepaskan pelukannya. "Kakak jadi ke luar kota?" tanyanya memastikan, kemarin Ega izin kepada Indhi akan melakukan perjalanan bisnis bersama tuan Hendarwan.
"Jadi, kenapa? Apa kamu keberatan?"
"Tidak. Hanya saja aku merasa aneh. Kakak kan seorang dokter, kakak juga tidak masuk dalam management Rumah Sakit, tapi kenapa kakak di ajak ke luar kota, kenapa tidak orang lain saja yang lebih mengerti tentang bisnis?" tanya Indhi penasaran, sejak kemarin ia sudah bertanya-tanya kenapa pemilik Rumah Sakit sangat perhatian kepada keluarganya, dan kini ia kembali bertanya-tanya kenapa Ega di libatkan dalam pengembangan Rumah Sakit.
"Kata tuan Hendarwan dia hanya ingin mendengar pendapat dari seorang ahli bedah sepertiku," jawab Ega apa adanya. Pasalnya alasan itulah yang membuatnya setuju untuk ikut dalam perjalanan bisnis kali ini.
"Oh begitu. Ya sudah ayo kita tidur," Indhi kembali memeluk suaminya,keduanya lalu terlelap, mengarungi mimpi indah yang mereka amini menjadi kenyataan.
***
Di tempat lain, di kediaman orang tua Dokter Aditya. Tuan Hendarwan tengah menemani istrinya yang sedang memasukkan baju-baju miliknya ke dalam koper. Rencananya besok pagi tuan Hendarwan akan pergi ke luar kota untuk mengembangkan Rumah Sakitnya.
"Besok papah pergi sama siapa aja?" tanya Mayang pada suaminya.
"Ada beberapa petinggi Rumah Sakit yang ikut, papah juga mengajak Dokter Kevin untuk ikut bersama kami," jawab tuan Hendarwan tanpa mengalihkan atensinya, ia tengah fokus memperhatikan istrinya.
"Kenapa harus mengajak Kevin pah?" Mayang menutup koper tersebut, wanita itu lalu mendekati suaminya dan duduk di sebalahnya.
"Papa hanya ingin mendengar pendapatnya saja. Rencananya setelah Rumah Sakit cabang itu jadi, papah akan mengirim Dokter Kevin untuk menjadi Direktur di Rumah Sakit kita," ungkap Tuan Hendarwan.
"Apa Kevin mau? Setau mamah, Kevin tidak tertarik masuk ke dalam management?"
"Dia harus mau mah, biar bagaimanapun Rumah Sakit itu akan menjadi miliknya."
"Papah yakin tidak ingin memberi tahu Kevin tentang siapa dirinya?" tanya Mayang dengan tatapan serius.
"Belum saatnya mah. Atau mungkin Kevin tidak perlu tau tentang asal usulnya. Papah tidak ingin mengusik hidupnya, dia sudah bahagia bersama istrinya mah," jawab tuan Hendarwan dengan wajah sendu, entah rahasia macam apa yang ia simpan mengenai seorang Kevin Ega Irvantara.
"Tapi pah, Kevin juga berhak tau. Kasihan sekali anak itu," ujar Mayang memberi saran.
Tuan Hendarwan hanya bisa diam, ia tangah bimbang antara tetap menyimpan rahasia besarnya atau harus mengungkapkan rahasia yang di simpannya selama berpuluh-puluh tahun.
"Papah hanya berharap, Kevin bisa menerima semuanya."
***
Pagi menyapa, setelah mengantarkan Indhi ke Rumah Sakit, Ega segera menemui tuan Hendarwan di kantornya yang berada di sisi lain Rumah Sakit tersebut. Setelah mengetuk pintu, Ega di persilahkan masuk. Pria itu lalu duduk di hadapan tuan Hendarwan.
"Anda yakin ingin mengajak saja meninjau pembangunan Rumah Sakit tuan?" tanya Ega dengan serius.
"Vin, berapa kali saya katakan. Panggil saya papah. Saya sudah mengganggap kamu seperti putraku sendiri," jawab tuan Hendarwan yang tidak nyambung sama sekali.
"Tapi tuan, saya tetap harus memiliki batasan. Saya tidak ingin ada berita yang kurang enak di dengar mengenai kedekatan saya dan tuan," jelas Ega.
"Saat kita sedang berdua seperti ini, saya harap jangan panggil saya taun, dan ini perintah yang tidak bisa di tolak!"
Ega hanya terkekeh mendengar ucapan pria tua itu. "Baik pah," ucap Ega, senyum bahagia langsung terbit di wajah tuan Hendarwan. Sementara Ega tak bisa menolak mengingat semua kebaikan pemilik Rumah Sakit itu.
"Bagaimana kondisi Indhi?" tanya tuan Hendarwan mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Indhi baik, bayi kami pun sehat pah," jawab Ega dengan wajah bahagia.
"Sykurlah kalau begitu. Saya sudah tidak sabar menjadi seorang kakek," gumam Tuan Hendarwan, namun masih terdengar oleh Ega.
"Kakek?" ulang Ega kebingungan.
"Kalian sudah seperti anak-anak saya, jadi saya juga akan menganggap anak kalian sebagai cucu saya. Kamu tidak keberatan kan?"
"Tentu saja tidak pah, kami malah senang karena orang hebat seperti papah mau mengakui kami sebagai keluarga," jawab Ega bersemangat.
Setelah perbincangan hangat itu usai, kedua orang itu berangkat ke luar kota, mereka menumpangi mobil yang sama hanya saja Ega tak perlu menyetir karena tuan Hendarwan membawa sopir.
Selama perjalanan, keduanya saling berbincang, kadang mereka membahas urusan Rumah Sakit dan sesekali membahas urusan pribadi.
"Vin, kamu benar-benar tidak tertarik untuk bergabung dengan management Rumah Sakit?" tanya tuan Hendarwan setelah beberapa saat mereka saling diam.
"Tidak pah. Saya seorang dokter jadi tugas saya mengobati orang sakit bukan mengurusi Rumah Sakit. Lagi pula, Rumah Sakit juga membutuhkan tenaga saya sebagai dokter, kalau saya masuk jajaran management yang ada saya akan lupa membedakan mana pisau bedah dan mana pisau buah," jawab Ega di selingi candaan.
Tuan Hendarwan terkekeh, namun tak bisa di pungkiri jawaban Ega sedikit mengecewakannya. "Semoga suatu saat kamu berubah pikiran." ujar tuan Hendarwan penuh harap.
Di tengah perbincangan serius mereka, tiba-tiba mobil yang di tumpangi mereka mengeluarkan bunyi ledakan yang sangat keras, lalu detik berikutnya mobil tersebut oleng dan lepas kendali.
Brakk...
Mobil tersebut menabrak pembatas jalan, karena mobil melaju dalam kecepatan tinggi sehingga membuat mobil tersebut terbalik di tengah jalan raya. Naas, pada saat yang bersamaan melaju truk dari arah berlawanan, truk tersebut berusaha mengerem hingga menimbulkan suara decitan yang sangat keras, namun kecelakaan tak bisa di hindari, truk tersebut menabrak mobil yang di tumpangi Ega dan tuan Hendarwan. Kepulan asap keluar dari bagian depan mobil truk, sementara mobil sedan yang di naiki Ega masih dalam posisi terbalik dan dalam keadaan yang mengenaskan.
"Ke-vin, ba-ba-ngun nak."
BERSAMBUNG...