
Akhir pekan, sebuah momen yang kerap di tunggu oleh setiap orang, sebuah momen dimana seseorang menghabiskan waktu mereka dengan keluarga atau pun orang yang di sayang setelah menghabiskan beberapa hari untuk bekerja atau pun beraktivitas lainnya.
Pun dengan Ega dan Indhi, setelah di sibukkan dengan pekerjaan masing-masing, akhirnya mereka bisa menikmati akhir pekan mereka bersama-sama. Ega dan Indhi memutuskan untuk menggabiskan waktu mereka di rumah, selain karena penyebaran virus covid-19 yang semakin menjadi-jadi, mereka juga enggan bermacet-macetan di jalan raya.
Mereka duduk berdua di depan layar televisi, menonton sebuah film romantis dengan di temani sepiring keripik kentang dan minuman soda dingin. Indhi duduk bersila seraya memangku piring yang berisi keripik kentang, sementara kepalanya bersandar di bahu sang suami. Tangannya tak henti-hentinya bergerak menyuapi suaminya dengan keripik kentang.
"Auw."
Indhi memekik saat jari telunjuknya tersangkut gigi Ega, atau lebih tepatnya pria itu memang sengaja menggigit jarinya. Sementara sang perlaku hanya terkekeh seolah tidak terjadi apapun. Tentu saja Indhi tak tinggal diam, meski mulut Ega sudah menganga namun ia tak kunjung memasukkan kripik kentang ke dalam mulut suaminya.
"Mana keripiknya?" protes Ega seraya menoleh ke arah sang istri, sementara Indhi dengan puas tertawa dan menjulurkan lidah ke arah suaminya.
"Emang enak," kelakar Indhi dan kembali menjulurkan lidahnya, namun tanpa ia sadari perbuatanbya justru membuat Ega menginginkan lidah yang sudah lama tak di rasakannya.
Setelah puas dengan aksi jahil masing-masing,keduanya lalu kembali fokus pada layar besar yang ada di hadapan mereka. Keduanya menikmati alur film yang menguras emosi, bahkan Indhi sampai menangis lalu tertawa setelahnya.
Tiba pada adegan di mana tokoh utama pria mencium tokoh wanita, ciuman yang hangat berangsur menjadi panas dan membuat empat bola mata yang sedang menyaksikannya tak berkedip sedikitpun.
Indhi meraih minuman kalengnya dan menenggaknya hingga habis, hal demikian juga di lakukan oleh Ega, keduanya mulai merasakan gelenyar aneh di dalam tubuh mereka.
"Kak," panggil Indhi sambil menoleh dan saat yang bersamaan Ega pun menoleh, manik cokelat mereka saling mengunci untuk beberapa detik, hingga naluri mereka yang melanjutkan adegan selanjutnya.
Wajah mereka semakin dekat, tanpa menunggu aba-aba, keduanya lalu mencium satu sama lain. Ega mengangkat tubuh Indhi sehingga istrinya duduk di pangkuannya, hal tersebut ia lakukan agar lebih leluasa mengeksplore rongga mulut istrinya.
Pasangan yang sedang di mabuk kepayang itu melepaskan ciumannya saat merasa stok oksigen mereka menipis, kedua kening mereka menyatu dengan nafas yang saling memburu.
"Sayang, aku merindukanmu," bisik Indhi dengan mesra, nafasnya yang memburu menyapu wajah tampan suaminya.
"Miss you more wife," sahut Ega dengan suara berat, pria itu sudah berada di punjak hasrat.
"Touch me," ucap Indhi dengan wajah merona.
"Are you sure?"
"I'm yours."
Ega tak ingin membuang waktunya, pria itu kembali mencium bibir istrinya dengan lembut dan menuntut. Hingga ciumannya mulai berpindah ke garis rahang sang istri dan berakhir dengan sebuah gigitan kecil di leher Indhi dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana.
Tak ingin melakukan momen spesial mereka di tempat terbuka, Ega lalu menggendong tubuh mungil istrinya dan membawanya ke dalam kamar. Setibanya di kamar, Ega kembali menyerah istrinya, pria itu mencium Indhi dengan lembut dan menghanyutkan meski sang istri masih berada di dalam gendongannya.
Dengan perlahan, Ega menurunkan istrinya di atas ranjang mereka, di tatapnya wajah cantik natural itu dengan penuh damba, detik selanjutnya mereka memulai percintaan mereka yang sempat tertunda dalam beberpa minggu terakhir.
Permainan panas mereka berakhir saat Ega berhasil menanamkan bibit unggulnya di dalam rahim sang istri, pria itu berbaring di sebelah istrinya lalu memeluk tubuh Indhi dengan erat.
"Terima kasih sayang," ucapnya seraya mengecup kening Indhi.
Tak ada jawaban dari Indhi, gadis itu hanya menjawabnya melalui sentuhan, tangannya melingkat erat di pinggang suaminya. Keduanya lalu terlelap meski masih dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun, hanya selimut tebal yang menutupi tubuh mereka.
Berbeda dengan pasangan suami istri yang menghabiskan malam mereka dengan panas, di sebuah rumah berukuran minimalis, kedua orang yang memutuskan untuk menikah dengan duduk bersampingan dengan tubuh menegang. Ya kedua orang itu adalah Dita dan Dokter Aditya, keduanya datang ke rumah orang tua Dita untuk meminta restu.
"Ada apa kalian datang kemari?" tanya pak Heri dengan ketus, ia lalu menatap nanar ke arah putrinya, nampak begitu jelas s kekecewaan di dalam matanya.
"Saya datang kemari karena ingin meminta restu bapak dan ibu. Saya juga ingin menyampaikan bahwa orang tua saya akan datang untuk melamar Dita secara resmi," jawab Dokter Aditya dengan berani, setidaknya hal itu yang bisa ia lakukan sebagai awal pertanggung jawabannya kepada Dita.
Dokter Aditya diam sejenak, merenungi semua kesalahannya. Sebanyak apapun ia meminta maaf, apa yang sudah dia lakukan pada Dita memanglah salah, meski sebenarnya mereka melakukannya di bawah pengaruh alkohol. "Saya memang tidak pantas untuk meminta maaf, tapi izinkan saja menebus semua kesalahan saya pak. Saya serius ingin menikahi Dita sebagai bentuk pertanggung jawaban saya," jawabnya dengan tangan bergetar, sungguh ia sangat takut kedua orang tua Dita akan menolak niat baiknya.
"Apa kamu mencintai Dita?"
Deg...
Sebuah pertanyaan yang tentu saja membuat Dokter Aditya sekaligus Dita terkejut dalam waktu yang bersamaan, keduanya menoleh dan menatap satu sama lain dengan penuh kekhawatiran.
"Pak kita..."
"Untuk apa saya menyentuhnya jika saya tidak mencintainya pak," potong Dokter Aditua sebelum Dita merampungkan kalimatnya, pria itu lalu meraih tangan Dita dan menggenggamnya dengan erat. "Salahkan saya karena telah menyentuh Dita sebelum kami menikah, tapi saya sungguh-sungguh akan menikahinya. Saya mohon kepada bapak dan ibu untuk merestui kami. Saya sangat mencintai Dita," Dokter Aditya terpaksa membohongi kedua orang tua Dita, tak ada jalan lain demi mendapatkan restu mereka.
Sementara Dita hanya bisa diam dan menatap calon suaminya, bagaimana bisa pria itu mengucapkan kata cinta dengan semudah itu? Sesaat keraguan mulai muncul di benaknya, khawatir jika dokter tampan itu memang suka mempermainkan wanita. Namun bayangan saat mama Mayang menyambutnya dengan hangat membuat Dita kembali yakin untuk menikahi pria yang sudah menodainya.
"Pak, biarkan saja mereka menikah. Toh mereka sudah dewasa. Bagaimana kalau Dita hamil sebelum mereka menikah. Kita akan semakin malu pak," sela bu Martini di tengah percakapan yang sangat menegangkan itu.
"Tapi bu," protes pak Heri yang masih sangat kesal dengan kedua anak yang duduk di hadapannya.
"Kita beruntung karena nak Aditya mau bertanggung jawab pak. Sebaiknya biarkan mereka menikah."
Pak Heri diam sesaat memikirkan ucapan istrinya. Meski kecewa, namun seharusnya ia juga bernafas lega karena pria yang sudah menodai putrinya mau bertanggung jawab dan menikahi Dita. Seharusnya tidak ada alasan bagi pak Heri untuk melarang pernikahan mereka
"Suruh orang tuamu datang secepatnya. Kalian harus cepat menikah sebelum terjadi hal-hal yang tidak di inginkan!"
Setelah memberikan keputusan itu, pak Heri beranjak dari duduknya dan meninggalkan ke tiga orang yang masih duduk di ruang tamu.
"Maafkan sikap bapak yang nak Adit," ucap bu Martini tak enak hati.
"Tidak papa bu. Saya mengerti kenapa bapak bersikap demikian. Sebelumnya saya juga ingin memohon maaf kepada ibu karena sudah..."
"Ibu memang kecewa dengan kalian, tapi ibu menghargai niat baik nak Adit," potong bu Martini sebelum Dokter Aditya menyelesaikan kalimatnya.
"Kamu tinggal di mana sekarang nak?" kini bu Martini bertanya kepada putrinya yang sejak tadi hanya menunduk.
"Dita tinggal di apartemen Dokter Aditya bu," jawab Dita jujur.
"Kalian tinggal bersama?" tanya bu Martini dengan suara lebih tinggi.
"Tidak bu. Dokter Aditya tinggal di rumah orang tuanya," jawab Dita dengan cepat.
"Syukurlah kalau begitu. Tahan sampai kalian resmi menikah."
BERSAMBUNG...
Maaf telat up gays, othor lagi sakit..
Buat kalian semua, jaga kesehatan ya..
Love u All❤❤