Marry me, Brother

Marry me, Brother
Dileman



Di kediaman Arum, saat Fajar dan istrinya akan pulang, pria itu menemukan sebuah kotak kado yang tergeletak di depan pintu rumah. Karena penasaran, Fajar mengambil kotak itu dan menemukan kartu ucapan yang di tujukan kepada keponakannya. Fajar kembali masuk ke dalam rumah dan memberikan kotak kado itu kepada Arum.


"Rum, ada kado untukmu," teriak Fajar di depan pintu kamar keponakannya.


Tak lama pintu terbuka. "Kado dari siapa om?" tanya Arum penasaran.


Fajar mengangkat kedua bahunya. "Nggak tau. Ini ambil, om mau pulang," ujarnya seraya memberikan kotak kado tersebut.


"Makasih om, hati-hati di jalan," setelah mengucapkan kalimat itu, Arum menutup pintu kamar dan membawa kotak kado itu ke ranjangnya.


"Apa hadiah dari Indhi?" tebaknya ragu-ragu. "Tapi Indhi sudah memberikan hadiahnya," imbuhnya lagi. Dari pada terus penasaran akhirnya Arum membuka kotak berwarna hitam dengan pita merah muda.


Arum meraih isi dari kotak kado tersebut, gadis itu terkejut melihat baju Cheongsam berwarna merah menyala dengan payetan bunga di bagian leher. Arum lalu meraih kartu ucapan yang sempat ia lewatkan.


(Baju Cheongsam adalah salah satu jenis pakaian tradisional China)


'Maaf terlambat memberikannya kepadamu. Dulu aku sudah berjanji akan membelikan baju ini untukmu ketika hari bahagiamu tiba..


Semoga kamu menyukainya ya...'


Arum kembali melipat kartu ucapan tersebut, gadis itu menitikkan air mata begitu tau siapa yang membelikan hadiah itu untuknya. Arum menaruh kotak kado itu di atas tempat tidur, gadis itu lalu berlari keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah untuk mencari si pemberi kado.


Arum sudah berada di halaman rumahnya, gadis itu celingukan ke sana ke mari namun tidak menemukan siapapun. Arum kembali berlari masuk ke dalam kamarnya, gadis itu lalu meraih ponsel dan menghubungi seseorang.


"Ya Rum," ucap seseorang di balik telefon, dari suaranya terdengar jelas jika orang tersebut mungkin terbangun karena panggilan dari Arum.


"Dita datang Ndi, dia membelikan baju Cheongsam seperti janjinya dulu," pekik Arum seraya menahan air matanya.


"Dia masih ingat?" sahut Indhi, kali ini suaranya lebih keras.


"Hem. Dia masih ingat. Ndi, apa aku boleh memaafkannya."


"Tentu saja Rum. Kita berteman baik dan itu sudah sangat lama. Aku juga sedang berusaha untuk memaafkan Dita."


"Terima kasih Ndi."


***


Dua hari setelah acara lamaran Arum dan Dion, hari ini Arum dan Indhi bertemu di caffe langganan mereka. Kedua wanita itu duduk berhadapan dengan di temani dua gelas Caramel Machiato dingin.


"Tiga hari lagi kak Adit akan melamar Dita," ucap Indhi membuka percakapan.


"Apa yang harua kita lakukan? Rasanya aku masih canggung bertemu dengannya," Sahut Arum, gadis itu lalu meraih gelasnya dan menyedot minuman dingin itu agar otaknya segar.


"Aku juga. Tapi Dita pasti sangat sedih kalau kita tidak datang di acara lamarannya," Indhi menghela nafas berat, ia sudah meaafkan Dita namun rasanya masih berat untuk bertemu dengan sahabatnya itu. "Apa kamu saja yang datang Rum, aku belum siap," imbuhnya memberi ide.


"Tidak mau ah. Kita datang sama-sama aja," tolak Arum, karena dia juga merasakan hal yang sama, masing canggung bertemu dengan Dita.


Kedua wanita itu menghela nafas bersamaan, keduanya juga menyesap minuman mereka secara serentak, benar-benar sahabat sejati bukan.


"Let's go," jawab Indhi dengan antusias, wanita itu menghabiskan minumannya lalu meraih tas dan beranjak dari duduknya.


Keduanya lalu meninggalkan caffe dan menuju pusat perbelanjaan yang tidak jauh dari tempat itu. Setibanya di Mall, kedua wanita cantik itu sibuk menyusuri setiap sudut Mall, mereka tidak terlihat lelah sama sekali padahal sudah keluar masuk toko baju, toko sepatu hingga toko tas berulang kali.


"Aku mau beli sepatu ini," Indhi menunjuk sepatu ber-hak tinggi berwarna putih dengan aksen kupu-kupu di atasnya.


"Kamu mau nikah lagi?" tanya Arum seraya mengeryitkan dahi.


"Amit-amit, jangan sampai," jawab Indhi dengan cepat.


"Yang kamu tunjuk itu sepatu untuk pengantin," Arum meraih sepatu tersebut dan menunjukannya di hadapan Indhi agar wanita itu bisa melihatnya dengan jelas. "Astaga, kamu membelikan ini untuk Dita?" tebak Arum setelah menyadari sesuatu yang sempat ia lewatkan.


"Hem," jawab Indhi sambil menggigit bibir bawahnya.


"Ya sudah bungkus saja, setelah ini bantu aku membeli hadiah."


Setelah menemukan ukuran yang pas untuk Dita, Indhi memasukkan sepatu itu ke dalam kotak kado. Setelah itu Indhi menemani Arum mencari hadiah untuk Dita.


Keduanya masuk ke dalam butik dan mencari kebaya yang cocok untuk Dita. Arum berencana membelikan hadiah berupa kebaya karena Dita juga membelikan baju Cheongsam untuknya. Tak butuh waktu lama, kedua wanita itu menemukan warna serta ukuran yang cocok untuk Dita. Kebaya itu lalu di bungkus dan di masukkam ke dalam kotak kado sebelum mereka kirimkan untuk Dita.


Saat keluar dari butik tersebut, Indhi dan Arum tiba-tiba menghantikan langkahnya saat mereka tak sengaja berpapasan dengan dua orang wanita.


"Naura," pekik Indhi dengan suara tertahan, wanita itu mundur satu langkah. Meski sudah sangat lama, namun tubuh Indhi masih menyimpan rasa takut pada Naura. Bertemu lagi dengan gadis itu membuatnya kembali mengenang masa sekolah dulu.


"Kita ketemu lagi Ndi," ucap Naura dengan senyum. "Hay Rum, apa kabar?" sapa Naura dengan ramah.


"Aku baik," jawab Arum yang terdengar ketus, masih teringat di benak Arum saat Naura mendorong Indhi hingga gadia itu terjatuh dari tangga dan harus menjalani operasi di kepala.


"Nak Indhi, apa kita bisa bicara," sela seorang wanita yang tak lain adalah ibu Sherly, ibu kandung Ega.


Indhi melirik Arum sekilas, dan Arum langsung menggelengkan kepala sebagai bentuk penolakannya, ia tak mau Indhi terlibat dengan kedua wanita itu.


"Apa yang mau tante bicarakan?" tanya Indhi, meski ia tau jika wanita itu pasti ingin membahas tentang Ega.


"Beri tante waktu sebentar saja. Tante mohon," pintanya dengan memohon.


"Baik tan, tapi hanya sebentar," Indhi terpaksa menyetujui keinginan ibu Sherly,ia juga penasaran hal apa yang akan wanita itu bahas.


"Tapi Ndi," Arum keberatan dengan sahabatnya.


"Hanya sebentar Rum. Kamu dan Naura bisa ikut. Tante tidak keberatan kan kalau mereka ikut?"


Karena tak ada pilihan lain, akhirnya ibu Sherly menyetujui keinginan Indhi, ke empat wanita itu masuk ke dalam salah satu restoran. Indhi dan bu Sherly duduk berhadapan, sementara Naura dan Arum duduk di kursi terpisah karena Naura menahan Arum saat gadis itu hendak bergabung dengan Indhi.


"Tante butuh bantuanmu nak."


BERSAMBUNG...