Marry me, Brother

Marry me, Brother
Lily dan maknanya



Benci merupakan suatu bentuk ungkapan perasaan terhadap sesuatu yang tidak disukai yang disertai dengan kekecewaan. Secara umum rasa benci merupakan bentuk perasaan yang wajar di alami dan dirasakan oleh seseorang, namun rasa benci perlu dikelola dengan baik sehingga tidak menimbulkan implikasi negatif dalam bermasyarakat.


Sayangnya Bella tak mampu mengelola rasa bencinya sehingga kebencian tersebut membuat jiwanya sakit, rasa bencinya membuatnya harus mendekam di penjara akibat ulahnya sendiri.


Arum benar-benar memanfaatkan profesinya sebagai seorang pengacara, gadis tomboy itu sudah menyerahkan Bella ke kantor polisi dan kini tugasnya adalah mencari bukti untuk memberatkan Bella, dan untuk saksi, Arum yakim Dita akan bersedia bersaksi di persidangan.


Sepulang dari kantor polisi, Arum mengajak Dion makan malam, pasalnya sejak siang mereka belum makan. Melihat kesungguhan Dion dalam membantunya membuat Arum sedikit luluh, sepertinya ia tak boleh terlalu cuek kepada Dion.


"Habis ini kita ke Rumah Sakit atau langsung pulang?" tanya Dion sambil menggulung spageti di garpunya.


"Pulang aka kak, Indhi butuh istirahat," jawab Arum.


Dion hanya mengangguk dan kembali menikmati makan malamnya, keduanya saling diam, hanya sesekali Dion mencuri pandang ke arah Arum, sungguh ia bahagia bisa makan malam bersama gadis itu.


"Kak tolong antar aku ke rumah Dita lagi. Mobil Indhi terparkir di depan rumah Dita, mungkin saja Dashcam-nya merekam kejadian siang tadi dan bisa kita jadikan bukti," ucap Arum setelah menghabiskan makanannya.


"Ya. Aku juga sudah menghubungi Fajar untuk mengambil mobilmu."


Setelah makan keduanya melanjutkan perjalanan menuju rumah Dita, sepanjang perjalanan mereka saling diam dan larut dalam pikiran masing-masing. Arum sangat mengkhawatirkan Indhi, namun ia juga belum sanggup untuk menemuinya. Bayangan saat Indhi hancur sepeninggal Zean meninggalkan luka tersendiri di hati Arum. Berbulan-bulan ia berusaha membantu sahabatnya untuk bangkit, dan saat Indhi mulai tersenyum lagi, pil pahit justru harus di telannya lagi.


Tanpa aba-aba Dion meraih salah satu tangan Arum dan menggenggamnya erat. "Indhi akan baik-baik saja. Aku yakin dia bisa melewati semua ini, karena sekarang ada mas Ega di sampingnya," ucap Dion seolah tau kekhawatiran gadis yang duduk di sebelahnya.


Arum menoleh dan menatap sisi wajah Dion, pria itu masih fokus pada jalanan di depannya, tangan Dion yang terasa hangat seolah menjalar hingga ke hatinya. Pria yang dulu selalu cuek dan selalu menolaknya kini mampu membuat hatinya menghangat.


"Semoga aja. Aku masih ingat kejadian empat tahun lalu dan aku tidak siap melihat itu lagi," sahut Arum dengan penuh darap.


"Indhi sudah dewasa sekarang, ia juga sudah menjadi dokter. Kelahiran dan kematian adalah hal yang pasti. Aku percaya dia bisa menerima semua ini," imbuh Dion menenangkan gadis yang di cintainya meski terlambat menyadari perasaannya.


***


Malam telah berganti siang, namun tidak dengan Indhi, wanita itu masih meratapi kepergian bayinya yang bahkan belum sempat di lihatnya. Siang ini Indhi memaksa pulang karena ingin menguburkan janinnya, dan Ega tak bisa melarang keinginan sang istri.


Mereka kini berada di tempat pemakaman umum, Ega sengaja mengubur janinnya di sana agar mereka bisa terus mengenang bayi pertama mereka. Pemakaman janin tersebut di hadiri bu Tika serta bi Sumi, Arum dan dion, serta Fajar dan istrinya.


Taburan bunga menghiasi gundukan tanah berwarna merah itu, sebuah nisan kecil memberi tanda sebuah janin kecil bersemayam di dalan sana.


"Aku memberinya nama Lily. Seperti namanya dia adalah simbol cinta dan kasih sayang antara kedua orang tuanya. Meski dia lebih dulu meninggalkan kita, aku percaya dia tetap hidup di hati kita," ucap Ega seraya merangkul istrinya. Semua yang hadir di sana tak bisa membendung air mata mereka. Bahkan meski janin itu belum sempat mereka lihat, namun tetap saja kehilangan adalah sebuah bentuk yang paling menyakitkan.


Masih di pemakaman, Arum menghampiri sahabatnya dan memeluknya dengan erat, tak ada kata-kata yang terucap di antara mereka, air mata sudah lebih dari cukup untuk mewakili perasaan keduanya.


Indhi mengurai pelukan sang sahabat, di tatapnya wajah yang juga sembab karena ikut menangisi kepergian janinnya. "Bantu aku, pastikan pembunuh Lily membusuk di penjara!" pintanya dengan sorot mata penub kebencian.


"Tanpa kamu memintanya aku akan membuat Bella terkurung di penjara. Aku sudah menemukan bukti dan kesaksian Dita akan memberatkannya. Namun sebelum itu terjadi, aku mohon kuatkan dirimu, aku tidak ingin melihatmu hancur seperti dulu," ucap Arum, tangannya memegang kedua lengan Indhi dan tatapannya begitu memohon.


"Aku pasti kuat Rum, aku harus kuat demi kalian. Aku tidak ingin melihat kalian sedih lagi."


Suasana haru menyelimuti komplek pemakaman, kabut tebal pun seakan ikut beduka dan menutup barisan batu nisan dengan awan hitamnya.


Semua orang pulang ke rumah masing-masing, mereka membiarkan Indhi untuk istirahat dan memulihkan kondisinya. Namun sepertinya harapan mereka sia-sia, setibanua di rumah, Indhi dan Ega serta bu Tika di kejutkan oleh kehadiran Dokter Ilham beserta ayahnya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Indhi dengan ketus, ia bahkan sampai lupa menggunakan kalimat formal kepada mantan tunangannya tersebut.


Dokter Ilham tak menjawab pertanyaan Indhi, pria itu justru berlutut di hadapan Indhi dengan kepala menunduk, rasanya ia tak cukup memiliki muka untuk menatap wajah Indhi. "Aku tau aku tak pantas mengatakan ini, tapi aku benar-benar minta maaf dan memohon pengampunanmu," ucapnya dengan suara tergugu.


"Pengampunan?"ulang Indhi penuh penekanan. "Apa dengan minta maaf padaku bisa mengutuhkan kembali keluargaku? Apa permintaan maafmu bisa membuat Zean bangun? Apa dengan pengampunanku bisa menghidupkan bayiku lagi?" cecar Indhi dengan wajah berlinang air mata.


"Aku tau kesalahan ibuku tak termaafkan dan kini adikku juga melakukan kesalahan yang sama. Tapi, aku juga tidak ingin melihat adikku mendekam di penjara. Aku mohon ampuni dia dan jangan masukkan dia ke penjara."


"Mengampuni? kamu pikir adikmu akan berubah jika aku memaafkannya. Tidak, dia tidak akan pernah berubah, dia akan kembali menyakiti keluarga kami sama seperti ibunya dulu," tukas Indhi.


"Tolong pikirkan lagi, dia juga adikmu."


BERSAMBUNG...