
"Tolong pikirkan lagi, dia juga adikmu," ujar Dokter Ilham, namun kalimatnya justru semakin membuat Indhi meredang.
"Aku tidak pernah memiliki seorang adik, apalagi seorang pembunuh seperti dia," geram Indhi, sebelum emosinya semakin meluap, ia memilih meninggalkan Dokter Ilham yang masih berlutut dan masuk ke dalam rumahnya.
Sementara itu, bu Tika masih berada di luar rumah, wanita itu memegang kedua lengan Dokter Ilham dan membantu pria itu untuk berdiri. "Ibu tau kamu juga korban kekejaman ibumu. Tapi nak, caramu mendekati Indhi sudahlah salah. Kamu tidak perlu menebus kesalahan yang di perbuat ibumu. Anggap saja kalian memang tidak berjodoh. Dan satu hal lagi, jangan pernah ganggu keluarga kami lagi. Meski Bella anak kandung mendiang suamiku, kami tetap akan memenjarakannya, bagaimanapun dia salah dan pantas mendapatkan hukuman yang setimpal," ucap bu Tika panjang lebar sebelum ia melangkahkan kaki masuk ke dalam rumahnya.
Dokter Ilham mencoba meresapi setiap perkataan bu Tika kepadanya. Dan semua yang di katakan wanita itu benar adanya, seandainya ia tak memiliki motif lain saat mendekati Indhi, mungkin saja mereka memiliki akhir kisah yang berbeda. Namun semuanya telah berlalu, nasi telah menjadi bubur, tugas Dokter Ilham kini harus bisa merubah bubur itu agar bisa di nikmati, entahlah namun semua itu pastilah membutuhkan kerja keras.
Kembali ke dalam rumah, Indhi kini berbaring di atas tempat tidurnya, wajahnya yang pucat dan tatapan mata yang kosong membuat Ega begitu khawatir.
"Sayang, apa kamu ingin makan sesuatu?" tanya Ega, pria itu duduk di tepi ranjang dan menghadap ke arah istrinya, tangannya yang kekar membenahi rambut yang sedikit menutupi wajah pucat milik istrinya.
"Tidak kak, aku tidak lapar," tolaknya dengan suara pelan, tangannya yang dingin memegangi tangan Ega yang berada di wajahnya.
"Sejak pagi kamu belum makan, tanganmu juga sangat dingin. Makanlah sesuatu biar kamu cepat pulih," bujuk Ega lagi, dia benar-benar mengkhawatirkan kondisi istrinya. Perlu waktu yang tidak sedikit untuk pemulihan pasca keguguran, jika Indhi tidak mau makan sudah di pastikan pemulihannya memakan waktu yang lebih lama.
"Kamu sudah berjanji tidak akan membuatku khawatir kan? Aku buatkan bubur ya?"
"Hem," Indhi akhirnya patuh, di saat seperti ini ia tak boleh egois. Kepergian Lily pastilah bukan hanya dukanya, Ega juga pasti sangat sedih, beban suaminya pasti sangat berat karena harus bersikap baik-baik saja di depannya.
"Tunggu sebentar ya," Ega tersenyum lalu mengecup pucuk kepala istrinya, setelah itu ia keluar dari kamar dan turun ke dapur.
Di dapur, dua wanita yang hampir seumuran terlihat sibuk memasak sesuatu, Ega menghampiri kedua wanita itu untuk memastikan apa yang sedang mereka lakukan.
"Ibu masak bubur?" tanya Ega setelah melihat ibunya sedang mengaduk sesuatu di dalam panci.
"Bi Sumi yang buat, ibu hanya membantunya. Kata bibi, Indhi paling suka makan bubur kacang hijau kalau sedang sakit," jawab bu Tika seraya menoleh ke arah Ega.
"Terus bibi lagi bikin apa?" Ega menghampiri bi Sumi yang sedang sibuk membuat sesuatu.
"Bibi lagi bikin jahe anget, tadi saat mengantar non Indhi ke kamar tangannya sangat dingin," jawab bi Sumi yang masih fokus pada pekerjaannya.
"Terima kasih bu, terima kasih bi. Beruntungnya kami memiliki kalian berdua," ucap Ega dengan tulus.
"Sama-sama nak, kamu harus kuat ya, demi Indhi," bu Tika menghampiri Ega dan memeluknya penuh kasih sayang. Meski Ega terlihat baik-baik saja, namun bu Tika tau jika putranya itu juga hancur, namun ia berusaha kuat hanya demi wanita yang paling ia cintai, Indhi.
Indhi berusaha untuk duduk, dengan sigap Ega membantu istrinya duduk dan bersandar pada headboard.
"Kakak masak apa?" tanya Indhi sambil melirik nampan yang ada di sebelahnya.
"Ibu dan bi Sumi bikin bubur kacang hijau dan jahe enget buat kamu," Ega meraih nampan tersebut dan memangkunya, pria itu mengaduk bubur kacang hijau tersebut agar cepat dingin. "Makan sedikit ya, kata Dokter Nanda bubur kacang hijau juga bagus untuk memulihkan tenagamu" imbuhnya lagi.
Indhi hanya mengangguk lemah, ia mengamati suaminya yang sedang mengaduk bubur. Sebenarnya bisa saja Ega meniup bubur tersebut agar cepat dingin, namun meniup makanan panas dapat memindahkan Mikroorganisme dari mulut menuju ke makanan sehingga akan menyebarkan virus. Meniup makanan panas juga dapat meningkatkan keasaman makanan, makanan atau minuman panas mengandung uap air. Ketika kita meniup makanan atau minuman tersebut, akan terjadi pembentukan senyawa Asam karena uap air bergabung dengan Karbondioksida dari napas kita. Senyawa Asam tersebut akan mengakibatkan keasaman pada makanan naik. Makanan dengan kadar asam yang meningkat, jika dikonsumsi terus menerus akan mengganggu kesehatan.
"Aaaa," ucap Ega seraya mengarahkan sendok berisi bubur ke mulut Indhi.
Indhi membuka mulutnya meski tak lebar, sesendok bubur berhasil masuk ke dalam mulutnya. Wanita itu mengunyahnya dengan sangat pelan, meski demikian Ega sangat sabar menyuapi istrinya hingga bubur tersebut hampir habis.
"Aku kenyang kak," tolak Indhi saat Ega kembali akan menyuapinya.
Ega mengembalikan sendoknya ke dalam mangkuk, melihat isi mangkuk yang hampir habis membuat Ega sedikit bernafas lega.
"Habis ini minum obat dan istirahat. Aku sudah menghubungi Aditya, dia akan mengurus perpanjangam cuti untukmu."
"Terima kasih kak. Apa jadinya aku tanpa kakak," ucapnya tulus, air matanya kembali menetes membasahi wajahnya yang pucat. Ega segera meletakkan nampan di atas meja, pria itu lalu merengkuh tubuh istrinya dan memeluknya dengan erat.
"Begitupun denganku. Apa jadinya aku tanpa kamu, untuk itu aku mohon bertahanlah demi aku karena aku tidak sanggup melihatmu menderita. Aku sangat mencintaimu sayang," dan akhirnya pertahanan Ega runtuh, pria itu tak bisa lagi membendung air matanya, ia menumpahkan segala kesakitan dan kesedihannya di dalam pelukan sang istri.
"Aku juga sangat mencintai kakak, maaf karena aku baru menyadarinya," aku Indhi tanpa ragu, kali ini ia tak ingin lagi membohongi perasaannya. Rasa jengkel saat melihat kedekatan Ega dan Psikiater cantik itu, rasa rindu saat mereka terpisah karena Indhi harus isolasi mandiri, rasa kecewa yang ia rasakan saat ia tau Ega memohonginya, rasa tidak rela saat Dita berniat merebut suaminya sudah lebih dari cukup untuk membuktikan jika ia mencintai suaminya, sangat mencintainya.
"Kamu mencintaiku?" ulang Ega seraya mengurai pelukannya, pria itu menatap istrinya dan berharap apa yang di dengarnya tadi bukanlah khayalannya saja.
"Aku mencintaimu kak," ucap Indhi dengan lantang, wanita itu menyentuh wajah suaminya dan membelainya dengan lebut, sebuah kecupan mendarat di bibir sang suami sebagai tanda jika pengakuannya tidaklah main-main.
"Terima kasih sayang. Terima kasih, aku tidak tau harus berkata apa lagi. Aku sangat mencintaimu," Ega tak bisa menyembunyikan wajah bahagianya. Seperti janji Tuhan, akan ada pelangi setelah badai. Setelah melewati begitu banyak cobaan dan rintangan, kini cinta Ega tak lagi bertepuk sebelah tangan. Kini ia tau, Tuhan menguji pernikahan mereka hanya demi memperkuat ikatan cinta di antara keduanya. Tak ada yang sia-sia, tak ada cobaan tanpa akhir, roda terus berputar dan hidup tak selamanya dalam kesedihan.
BERSAMBUNG...