
Sebagai anak pemilik Rumah Sakit, Dokter Aditya di beri tau jika Rumah Sakitnya sedang mengisolasi pasien positif virus covid-19, namun bukan itu yang membuatnya terkejut, Dokter Aditya segera pergi ke ruang ICU setelah ia tau jika Indhi menjadi salah satu orang yang terinfeksi virus tersebut.
Ruang ICU yang di pakai sebagai tempat isolasi benar-benar di jaga dengan ketat, bahkan Dokter Aditya tidak bisa masuk meski statusnya sebagai anak pemilik Rumah Sakit tersebut. Meski khawatir, Dokter Aditya hanya bisa menghubungi Indhi lewat ponsel meski kini ia berada di luar ruang isolasi.
"Hallo Ndi," sapa Dokter Aditya begitu panggilan tersambug.
"Hallo kak," jawab Indhi dengan suara serak.
"Bagaimana kamu bisa terinfeksi? Ah bukan itu yang harus aku tanyakan sekarang. Bagimana kondisimu di dalam?" tanya Dokter Aditya panik, meski bukan siapa-siapa namun ia sudah menganggap Indhi seperti adiknya sendiri karena mereka sudah lama saling mengenal.
"Aku baik-baik saja kak. Kak tolong rahasiakan hal ini dari kak Ega," ucap Indhi meminta bantuan.
"Ega harus tau, dia suamimu Ndi."
"Aku tau kak, tapi kak Ega masih di luar kota. Kaka tau sendiri bagaimana kak Ega kan?"
"Benar juga, dia pasti akan menggila dan melakukan apa saja agar bisa cepat pulang. Baiklah, aku akan merahasiakannya, tapi berjanjilah kamu akan baik-baik saja di dalam sana, kalau terjadi sesuatu segera hubungi aku."
Mereka masih berbincang saat Dita tiba di depan ruangan ICU, gadis itu nampak begitu panik dan hampir menerobos petugas keamanan yang berjaga di depan ruang ICU.
"Nona perawat, harap jangan bikin kegaduhan di sini!" seru Dokter Adita yang merasa terganggu atas keributan yang di buat oleh Dita.
Bukannya menjawab, Dita justru menghampiri Dokter Aditya, gadis itu meraih kedua tangan dokter tampan itu serta menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Dokter Aditya, saya mohon izinkan saya masuk, saya harus melihat kondisinya secara langsung."
Dokter Aditya terpaku di tempatnya, rasanya darahnya berhenti mengalir saat Dita memegangi tangannya, pasalnya ini kali pertama seorang gadis berani menyentuhnya.
"Tolong saya dok," iba Dita lagi dan berhasil mengembalikan kesadaran Dokter Aditya.
"Maaf nona perawat, saya juga tidak bisa masuk. Berdoa saja Indhi baik-baik saja di dalam sana," ucap Dokter Aditya. "Ah aku sedang menelfon Indhi, apa kau mau bicara dengannya?" imbuh Dokter Aditya menawarkan opsi lain kepada Dita.
Dita meraih ponsel yang di sodorkan oleh Dokter Aditya dan segera berbicara dengan sahabatnya.
"Aku di luar sekarang. Semuanya akan baik-baik saja Ndi," ucap Dita lewat panggilan telefon.
"Terimakasih Dit. Aku mau minta tolong padamu, tolong rahasiakan ini dari ibu dan kak Ega sampai kak Ega pulang," pinta Indhi pada sahabatnya.
"Ya, aku akan merahasiakannya." jawab Dita.
"Terima kasih Dit."
"Sama-sama. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa demamnya masih tinggi?" tanya Dita dengan nada khawatir.
"Demamnya masih tinggi dan tenggorokanku semakin sakit Dit."
"Meskipun sakit kamu harus paksa untuk makan dan minum obat!"
"Ya aku tidak akan kalah dengan virus ini Dit."
Pangilan telefon berakhir, Dita mengembalikan ponsel kepada pemiliknya. "Terima kasih dok," ucap Dita tulus, gadis itu lalu meninggalkan ruang ICU. Setelah mengunjungi sahabatnya, Dita kembali bekerja dengan perasaan khawatir, ia merasa tidak tenang dan mecemaskan keadaan Indhi.
Sementara itu, Indhi merasa tubuhnya semakin lemah, demamnya tak kunjung turun serta ia tak bisa menelan apapun karena tenggorokannya yang terasa begitu sakit. Melihat kondisi Indhi membuat Suster Lina cemas dan memaksa Indhi untuk istirahat. Sadar akan kondisinya akhirnya Indhi beristirahat di atas salah satu hospital bed yang berada di ruangan ICU.
Pukul dua dini hari saat Ega tiba di rumahnya, pria itu segera ke kamar untuk mencari istrinya, tiga hari tidak bertemu Indhi membuat Ega sangat merindukan istrinya. Namun di dalam kamar Ega tak menemukan Indhi, pria itu mencoba menghubungi istrinya namun ponsel Indhi tidak bisa di hubungi.
"Apa dia masuk malam?" tanyanya bermonolog.
Saat hendak ke kamar mandi, tiba-tiba ponsel Ega berdering, pria itu tersenyum karena mengira Indhi yang menelfonnya, namun seketika senyumnya pudar saat melihat nama orang lain di layar ponselnya.
"Ada apa pagi-pagi buta menghubungiku Dit?" protes Ega setelah panggilan tersambung.
"Kamu sudah sampai rumah?" tanya Dokter Aditya.
"Baru saja. Ada apa? Apa kamu merindukanku?" guyon Ega menggoda sahabatnya.
"Cepat ke Rumah Sakit sekarang, ada yang ingin aku katakan padamu! Cepat datang atau kau akan menyesal!"
Belum juga Ega menjawab namun Dokter Aditya sudah menutup telefonnya meninggalkan tanda tanya besar di benak Ega. Karena penasaran Ega memutuskan untuk segera ke Rumah Sakit. Satu jam kemudian Ega sampai di Rumah Sakit, pria itu merasa heran melihat beberapa orang berpakaian Hazmat berlarian menuju ruang ICU. Saat Ega ingin menemui Dokter Aditya, rupanya sahabatnya itu sudah datang menghampirinya.
"Apa apa ini Dit, kenapa mereka memakai APD lengkap?" tanya Ega penasaran.
"Kita ke ICU sekarang!" bukannya menjawab, Dokter Aditya malah menarik tangan Ega dan membawanya menuju ruang ICU.
"Ada apa ini, kenapa sampai memasang safety line?" tanya Ega lagi.
"Di dalam sana ada pasien yang terinfeksi virus covid-19, salah satunya adalah Indhi dan kondisinya semakin memburuk, baru saja petugas memang oksigen karena Indhi kesulitan bernafas." ungkap Dokter Aditya.
"Indhi terinfeksi? Bagaimana keadaannya sekarang, aku harus masuk ke dalam dan melihat kondisinya langsung," benar yang di takutkan Dokter Aditya, sahabatnya mulai menggila dan mengamuk karena tak di izinkan masuk, Ega bahkan hampir memukuli petugas yang berjaga seandainya Dokter Aditya tidak menahannya.
"Tenangkan dirimu," ucap Dokter Aditya seraya menjagal kedua tangan sahabatnya itu.
"Tenang katamu? Bagimana aku bisa tenang sementara aku tidak bisa melihat kondisi istriku di dalam sana," jawab Ega dengan teriakan.
"Indhi akan baik-baik saja Vin, tenangkan dirimu dan berdoa untuk kebaikan istrimu."
Ega melepaskan tangan sahabatnya, pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. "Bagaimana istriku bisa terinfeksi?" tanya Ega dengan suara melembut.
Dokter Aditya menceritakan kejadian yang membuat Indhi terinfeksi virus tersebut, Ega mendengarkannya dengan seksama, pria itu begitu sedih namun tak bisa berbuat apapun.
Hingga matahari terbit, kedua pria itu masih duduk menunggu di depan ruangan ICU, Ega hanya bisa pasrah dan mempercayakan Indhi untuk di rawat oleh orang lain. Kedua pria itu menoleh saat seorang wanita berlari menghampiri mereka dengan nafas tersengal-sengal.
"Bagaimana kondisi Indhi?" tanya wanita tersebut yang tidak lain adalah Dokter Nanda. Kemarin pagi Indhi menghubunginya namun dokter wanita itu belum bisa menjenguk Indhi.
"Dokter Nanda," ucap Ega sedikit heran karena kedatangan Dokter Spesialis Kandungan.
"Semalam Indhi sempat kesulitan bernafas, tapi menurut suster yang merawatnya Indhi sudah mulai membaik." jelas Dokter Aditya.
"Lalu bagaimana dengan kandungannya?"
BERSAMBUNG...