Marry me, Brother

Marry me, Brother
Cara baru



Pagi-pagi sekali Indhi sudah bangun, dengan hati-hati ia keluar dari kamar karena tak ingin membangunkan suaminya. Indhi sungguh bertekad menjadi istri yang baik, wanita itu turun ke dapur menyiapkan sarapan untuk suaminya. Berbekal vidio tutorial yang ia tonton di yutub, Indhi berencana membuat nasi goreng lagi, kali ini dia yakin akan berhasil membuat nasi goreng yang enak.


"Hal pertama yang harus aku lakukan adalah memasak nasi. Kalau satu cup beras airnya cukup satu setengah cup. Satu cup cukup nggak buat sarapan berdua? Cukup kali ya, kan nanti di tambah toping lain." ocehnya seorang diri sambil mengamati tutorial membuat nasi.


Setelah membuat nasi, Indhi mengeluarkan wortel, sosis dan ayam dari dalam kulkas, ia lalu memotongnya kecil-kecil dan akan di jadikan toping untuk nasi gorengnya.


"Kata bi Sumi bumbunya lebih enak kalau di ulek," Indhi mengupas bawang merah dan bawang putih tak lupa beberapa cabai lalu menguleknya dengan sekuat tenaga. Lima puluh menit kemudian rice cooker berbunyi menandakan jika nasinya sudah matang. Bersamaan dengan itu bi Sumi datang dan kembali terkejut melihat majikannya sedang memporak-porandakkan dapur.


"Non, lagi ngapain?" tanya bi Sumi sambil mengamati dapur yang sedikit mirip dengan kapal pecah.


"Bikin sarapan bi, kemarin nasi gorengku manis. Kali ini harus berhasil," jawab Indhi tanpa menoleh ke arah bi Sumi, wanita itu sedang sibuk menghaluskan bumbu nasi gorengnya.


"Ternyata benar, manusia tidak ada yang sempurna. buktinya non Indhi tidak bisa masak," gumam bi Sumi lalu ia membiarkan majikannya bereksperimen di dapur.


Sementara di dalam kamar, Ega mencari keberadaan istrinya, sepertinya semalam mereka tidur dengan saling memeluk, tapi mengapa Ega terbangun dan hanya seorang diri. Ega menyibak selimutnya, pria itu masuk ke dalam kamar mandi untuk sekedar mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah selesai Ega keluar dari kamar dan mencari istrinya.


Suara berisik dari dapur membuat Ega yakin jika istrinya berada di sana, pria itu menggigit bibir bawahnya saat melihat sang istri sedang mengulek bumbu dengan pakaia minim. Oh tidak, istrinya terlihat begitu sexy, membayangkan mereka bercinta di dapur membuat Ega sedikit meremang.


"Astaga, sadarlah Ega! Kenapa kamu jadi mesyum sekali," ucapnya merutuki dirinya sendiri.


Ega melangkahkan kakinya mendekati sang istri, pria itu melingkarkan tangan kekarnya di perut Indhi. "Sedang apa?" bisik Ega dengan suara menggoda, belum lagi kecupan sensual ia tinggalkan di pundak istrinya.


"Bikin sarapan," jawab Indhi masih sibuk dengan bumbu yang tak kunjung halus.


"Biar aku yang menghaluskannya," Ega melepas pelukannya, pria itu lalu mengambil alih pekerjaan istrinya. "Aku akan mengajarimu sekali, selanjutnya kamu harus bisa sendiri," ucap Ega sambil melirik istrinya sejenak.


"Oke."


"Nasinya udah mateng?" tanya Ega lagi.


"Udah. Topingnya juga sudah aku iris semua." sahut Indhi sambil menunjukan sayuran dan bahan lain yang sudah ia potong.


"Pertama kamu harus pakai wajan yang anti lengket saat memasak nasi goreng," Ega meraih wajah yang ia maksud yang menaruhnya di atas kompor. "Masukan minyak secukupnya, setelah minyak panas masukan dua butir telur dan orak arik sampai matang lalu sisihkan. Selanjutnya kamu goreng bumbu halus, aduk sampai tercium aromanya, masukkan irisan ayam aduk sampai layu, lalu masukkan wortel dan aduk sebentar. Jangan lupa masukkan garam, sedikit kecap ikan dan kecap manis, karena lidahku sudah terbiasa dengan micin jadi tambahkan micin secukupnya, aruk rata dan tunggu sampai aroma khas nasi goreng keluar."


Indhi mengamati suaminya saat pria itu dengan cekatan memasak sarapan untuk mereka, Ega mengambil seujung sendok nasi goreng tersebut, meniupnya lalu menyodorkan kepada istrinya. Sang istri mencicpi nasi goreng itu sambil manggut-manggut.


"Perfect," katanya sambil tersenyum.


Ega mengusap pucuk kepala istrinya, pria itu lalu melanjutkan aktivitasnya, kini ia akan membuat telur mata sapi kesukaan istinya.


"Mau mandi dulu atau sarapan dulu?" tanya Ega pada istrinya.


"Nanti kalau dingin nasi gorengnya tidak enak, tapi ini masih terlalu pagi untuk sarapan," sahut Indhi bimbang.


Ega mencuci tangannya, ia lalu menghadap sang istri dan memberikan kecupan singkat di pipi istrinya. "Kita lakukan hal yang lain dulu, baru setelah itu mandi dan sarapan. Nasi gorengnya bisa di panaskan lagi,"


"Hal lain?" ulang Indhi dengan polos, dia benar-benar tidak tau maksud suaminya.


Ega tiba-tiba mengangkat tubuh Indhi dan mendudukan istrinya di atas meja makan, tubuh sang istri ia kunci dengan kedua tangannya. Pria itu menatap wajah istrinya lekat.


"Kenapa menatapku begitu?" tanya Indhi karena begitu canggung di tatap oleh suaminya.


"Boleh sih, tapi nggak gini juga kan!"


"Sayang," bisik Ega dengan suara berat.


"Kenapa?"


"Jangan pernah masak dengan pakaian minim seperti ini lagi!" pesan Ega sambil menatap belahan dada Indhi yang terpampang di depan wajahnya.


"Di dapur kan panas, lagi pula cuma ada kakak dan bi Sumi."


"Apa kau ingin aku memper*kosamu di dapur?" bisik Ega lagi kali ini di barengi gigitan kecil di telinga istrinya.


"Memangnya berani?" kata Indhi menantang suaminya.


Tanpa menunggu lama Ega segera menghisap leher istrinya, pria itu seakan tengah menjadi vampire yang haus akan darah mangsanya.


"Kak geli, ahh," ucap Indhi sambil mende*sah kecil.


Ega tak mengindahkan ucapan istrinya, pria itu kini tengah menikmati bibir mungil dengan warna mirip buah persik. Ega seakan lupa jika di rumah itu juga ada makhluk lain selain mereka berdua, pria itu dengan ganasnya melu*mat bibir istrinya, suara khas ketika bibir mereka saling menyecap satu sama lain memenuhi ruang makan.


"Jangan di sini kak," cegah Indhi saat pria itu mulai meremas dua benda kenyal favoritnya.


Sementara di luar rumah, bi Sumi tengah membantu bu Tika membawa kopernya masuk ke dalam rumah, saat mereka tiba di dalam rumah, keduanya diam membeku melihat adegan panas yang tengah di lakoni dua pasang sejoli itu.


"Bi, apa selama saya pergi mereka selalu mesyum di sembarang tempat seperti ini?" tanya bu Tika tanpa mengalihkan pandangannya.


"Tidak bu," jawab bi Sumi sambil menunduk.


"Sepertinya mereka harus tinggal di rumah mereka sendiri. Ayo kita ke kamar saya bi," ajak bu Tika, kedua wanita tua itu masuk ke dalam kamar dan duduk menunggu sampai adegan panas itu selesai.


Ega menggendong Indhi di depan tubuhnya, sementara ciuman bibir mereka tak terlepas sedikitpun Saat tiba di kamar, Ega melepaskan ciumannya dan menurunkan Indhi di sisi tempat tidurnya.


"Sayang sepertinya aku tau caranya agar aku bisa melakukannya tanpa menutup mata?"


"Bagaimana caranyaa?" tanya Indhi penasaran.


Ega tak menjawab dengan kata-kata, pria itu berlutut dan melepas celana super pendek milik istrinya, tak lupa under wear berwarna hitam yang membungkus lembah berumput hitampun ia lepaskan. Ega berdiri dan memutar tubuh Indhi agar memunggunginya.


"Sayang, nung*ging!"


Indhi hanya menurut, sepertinya ia tau cara apa yang akan di lakukan Ega tanpa harus menurut mata. Setelah Indhi siap dengan posisinya, Ega segera memasukkan senjata miliknya ke dalam surga dunia milik sang istri, posisi Indhi yang membelakanginya membuat Ega semakin merasa panas.


Ega mempercepat gerakannya saat ia merasa sesuatu akan menyembur keluar, satu hentakan terakhir di barengi lenguhan panjang dari sepasang suami istri itu.


"Terima kasih sayang, aku mencintaimu."


BERSAMBUNG...