
Pagi menyapa, mentari bersinar begitu cerah di iringi nyanyian burung yang bersahut-sahutan, bias cahaya yang menembus celah jendela kamar tak sedikitpun mengusik kenyamanan dua insan yang masih terlelap di balik selimut tebal, keduanya masih sama-sama polos dan tidur dalam keadaan saling memeluk, sungguh kenyamanan yang tak tergantikan oleh apapun.
Matahari mulai meninggi, saat Indhi mulai membuka matanya, wanita hamil itu tersenyum saat melihat wajah lelap suaminya, di kecupnya bibir milik sang suami sebelum ia bangun dengan perlahan.
"Jantungku kenapa?" gumam Indhi seraya memegangi dadanya, jantungnya yang memompa begitu cepat hingga di rasa oleh telapak tangannya, beberapa hari ini ia memang kerap mengalami hal seperti itu saat sedang memikirkan suaminya, dan pagi ini jantungnya kembali menderu setelah ia memberikan kecupan singkat itu.
Mungkinkah Indhi mulai mencintai Ega?
Perlahan Indhi turun dari ranjangnya, ia memunguti bajunya yang berantakan, senyum mengembang kembali menghiasi wajah cantiknya saat mengingat pergulatan panas mereka semalam, sungguh malam yang menakjubkan hingga mampu membuat wajah Indhi merona saat membayangkannya.
Indhi berjalan cepat menuju kamar mandi, ia ingin segera mandi sebelum perasaan aneh kembali menyerangnya, perasaan ingin di sentuh dan bermain gulat di atas ranjang bersama sang suami. "Astaga, kenapa pagi-pagi aku sudah berpikir mesyum seperti ini," batinnya dengan pipi merona, segera saja ia menghidupkan shower hingga air membasahi kepala hingga tubuhnya, benar-benar menyegarkan.
Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Indhi bersiap-siap untuk pergi menemui Dita, dia harus menyelesaikan masalahnya dengan sang sahabat, entah apa hasil akhirnya nanti, Indhi hanya ingin bertemu Dita dan meminta maaf kepadanya.
Indhi sudah berpakaian rapi, pagi ini ia memakai dres selutut berwarna lilac dan sweater rajut dengan warna senada, semenjak hamil ia memang telah meninggalkan celana jeans serta celana ketat lainnya, baginya sekarang kenyamanannya dan si jabang bayi adalah yang utama.
Indhi berjalan menuju tempat tidur, wanita itu menatap suaminya dan seketika jantungnya kembali berdebar dengan hebat, sebisa mungkin Indhi mengatur nafasnya dan kecupan lembut kembali mendarat di kening suaminya. "Maafin aku kak," ucapnya lalu keluar dari kamar.
Di lantai bawah, Indhi bertemu dengan bu Tika yang berada di ruang keluarga bersama bi Sumi. "Sudah rapi mau kemana, bukannya kamu masih cuti?" tanya bu Tika seraya mengamati penampilan putrinya.
"Mau ke rumah Arum bu,"jawab Indhi sambil tersenyum.
"Sendirian? Mana suamimu?" tanya bu Tika lagi karena tak melihat kehadiran Ega.
"Kakak masih tidur, biarkan saja dia istirahat, bukannya kata ibu kakak tidak tidur selama aku di rawat?"
"Iya juga sih, ya sudah kamu hati-hati ya.Kalau ada apa-apa langsung kabari ibu!"
Indhi hanya mengangguk pelan, setelah berpamitan kepada ibunya, ia segera keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobilnya. Di dalam mobil, Indhi menghubungi Arum karena ia sempat berbohong kepada ibunya jika ia akan menemui Arum, padahal Indhi akan ke rumah Dita dan menyelesaikan masalah mereka.
"Hallo Ndi," sapa Arum sedikit kikuk, setelah kesalah pahaman waktu itu mereka belum saling berkabar lagi.
"Rum aku mau minta tolong!" jawab Indhi langsung pada tujuannya.
"Katakan, apapun akan aku lakukan untukmu?" ujar Arum.
"Aku akan menemui Dita, kalau ibu atau kak Ega menghubungimu bilang saja aku di rumahmu," ucap Indhi mengutarakan maksudnya.
"Ke rumah Dita? Sama siapa?"
"Sendiri Rum."
"Jangan pergi sendiri, tunggu aku. Aku akan menemanimu," ucap Arum dengan suara khawatir.
"Tidak Rum, aku akan pergi sendiri dan menyelesaikan masalah ini, kalau kamu ikut denganku Dita pasti akan berpikir jika kamu memihakku, pertemanan kita akan semakin hancur nantinya," tolak Indhi dengan alasan bijaknya.
"Sekarang aku memang memihakmu, Dita bukan sahabat kita yang dulu, dia sudah berubah," jujur Arum apa adanya.
"Biar bagaimanapun kita berteman sudah lama, sebaiknya aku dengarkan dulu penjelasan darinya, kenapa dia berniat mengkhianatiku," Indhi yang sudah tau jika Dita berniat bersaing dengannya tak ingin gegabah dan mengambil keputusan sepihak, ia ingin mendengar langsung dari mulut sahabatnya, biar bagaimanapun Indhi masih sangat memepercayai Dita.
Setelah mengakhiri panggilannya, Indhi segera mengemudikan mobilnya menuju rumah Dita, untung saja akhir pekan dan jalanan tidak macet sehingga tak butuh lama Indhi sampai di rumah sederhana milik sahabatnya.
Indhi keluar dari mobil, ia mengatur nafasnya perlahan, baru kali ini ia merasa gugup bertemu dengan sahabatnya sendiri. Setelah tenang, Indhi mengetuk pintu rumah Dita berulang kali, hingga pintu terbuka dan menampakkan gadis yang sangat di benci olehnya.
"Bella," pekik Indhi dengan suara tertahan, ia sangat terkejut melihat Bella berada di rumah Dita, padahal sejak awal Arum sudah menceritakan kepadanya jika Dita sekarang berteman dengan Bella.
"Kak Indhi," sapa Bella dengan senyum palsunya.
Dari arah dalam terdengar langkah kaki yang semakin dekat. "Siapa yang datang Bell?" tanya pemilik langkah kaki itu.
Bella menoleh dan tersenyum licik. "Kak Indhi yang datang kak," jawab Bella.
"Indhi," suara tertahan itu adalah milik Dita, gadis itu membuka pintu dengan lebar sehingga ia bisa melihat wajah sahabatnya. "Apa apa kamu kemari?" tanya Dita tak bersahabat.
"Kita harus bicara!" jawab Indhi dengan wajah sendu, sungguh kali pertama Dita bersikap cuek kepadanya.
"Apa lagi yang ingin kamu bicarakan? Kamu ingin menyombongkan diri karena telah memiliki kak Ega atau kamu mau memamerkan kepadaku jika kamu yang sudah membantuku bekerja di Rumah Sakit?"
"Apa maksudmu Dit, aku datang kemari karena ingin minta maaf padamu, kenapa sikapmu jadi seperti ini? Aku tau aku salah, seandainya aku tau kamu mencintai kak Ega, aku tidak akan pernah meminta bantuannya untuk menikahiku Dit," jelas Indhi panjang lebar.
"Sekarang kamu tau kan kalau aku mencintai kak Ega, apakah kamu akan melepaskan kak Ega untukku?" tanya Dita dengan wajah memerah.
"Aku..." Indhi tak bisa melanjutkan kalimatnya, sejak semalam ia sudah memikirkan keputusannya, dia akan minta maaf dan jika perlu akan meninggalkan Ega demi Dita, namun kini Indhi seolah berubah pikiran, ia tak rela untuk melepaskan Ega, Indhi sadar akan perasaannya kini, bukan lagi kasih sayang seorang adik kepada kakaknya, melainkan perasaan sayang istri kepada suaminya.
"Tidak bisa kan? cih, simpan saja kata maafmu karena aku tidak membutuhkannya, jika kamu tidak melepaskannya maka aku yang akan merebutnya darimu!" ucap Dita yang terdengar seperti ancaman.
"Dit, kenapa kamu berubah seperti ini? Aku menyadari kesalahanku, tapi itu semua karena aku tidak tau apapun, seandainya dari awal kamu jujur, aku pasti tidak akan menikah dengan kak Ega."
"Berubah? Aku tidak berubah, tapi inilah diriku. Sejak kita kenal, kamu selalu menjadi yang nomor satu. Kamu cantik, kamu pintar dan begitu baik, namun kadang kebaikanmu menghina harga diriku. Aku ingat saat aku kekurangan biaya untuk masuk sekolah keperawatan, diam-diam kamu membayarkannya untukku dan pihak sekolah membohongiku dengan bilang aku mendapatkan beasiswa, dan aku juga baru tau kalau kamu yang memohon kepada Dokter Aditya agar aku bisa di terima bekerja di Rumah Sakit. Semua kebaikanmu menyinggung harga diriku!" Dita tak bisa lagi menahan amarahnya, gadis itu berbicara dengan mata memerah dan menatap nanar sahabatnya.
"Aku minta maaf kalau semua yang aku lakukan menyakitimu, tapi aku melakukannya karena aku sangat peduli padamu, bagiku kamu bukan hanya seorang sahabat, kamu dan Arum adalah keluargaku," jawab Indhi dengan tenang, sebisa mungkin ia menahan emosinya apalagi saat melihat Bella menyeringai di balik punggung Dita.
"Seorang sahabat tidak akan merebut milik temannya sendiri, jangan percaya dengan kata-katanya kak," sela Bella dan semakin memanaskan keadaan.
"Merebut katamu?" Indhi menatap tajam adik tirinya. "Dengar Bella, aku tidak pernah merebut apapun dari Dita. Aku bukan ibumu!" ucap Indhi menohok hati Bella.
"Apa maksud kak Indhi, kenapa kamu membawa-bawa ibuku?" tanya Bella dengan mata melebar.
"Karena ibumu memang perebut suami orang. Kamu pikir aku tidak tau siapa kamu?" seru Indhi dengan suara mengeras.
"Apa?" Bella nampak begitu terkejut, ia melangkahkan kakinya maju sehingga lebih dekat dengan Indhi.
"Jangan pernah menyebutku perebut karena aku tidak seperti ibumu!" Indhi mengulangi ucapannya dengan tegas.
Bella merasa tak terima, tangannya melayang di udara dan hendak menampar wajah Indhi, namun Indhi lebih dulu menahan tangannya dan menghempaskannya dengan kasar. "Jangan harap kamu bisa menghancurkan keluargaku lagi Bella!"
BERSAMBUNG...