
"Kami akan menikah."
Ega dan Indhi saling melempar pandang begitu mendengar penuturan Arum, belum lagi saat Arum memamerkan cincin bertahtakan berlian yang melingkar di jari manisnya. Rasanya baru kemarin kedua pasangan itu bertengkar dan kini mereka datang dengan membawa kabar bahagia.
"Kamu serius?" tanya Indhi yang masih belum sepenuhnya percaya.
"Dua rius," jawab Arum penuh penekanan.
Indhi lalu beranjak dari kursinya, wanita itu lalu menghampiri Arum, dan saat Arum berdiri Indhi segera memeluk sahabatnya dengan erat. "Selamat untukmu, akhirnya perjuanganmu selama ini terbalaskan sudah," ucap Indhi penuh haru, wanita itu bahkan menangis saking bahagianya.
Arum mengurai pelukan sang sahabat, gadis itu lalu menyeka air mata di wajah cantik Indhi. "Jangan menangis," ucapnya yang kemudian juga ikut menangis.
"Aku hanya terlalu bahagia. Ini air mata bahagia,"ujar Indhi yang juga kini tengah menyeka air mata di wajah Arum.
Keduanya lalu kembali saling memeluk, mencurahkan kebahagiaan yang sama-sama mereka rasakan. Meskipun ini baru awal, setidaknya mereka telah mendapatkan kebahagiaan yang selama ini mereka perjuangkan. Indhi berhasil melewati masa paling menyakitkan dalam hidupnya dan Arum berhasil mendapatkan pria yang sejak dulu selalu di kejarnya.
"Selamat Yon," tak mau kalah dari kedua wanita itu, Ega juga mengucapkan selamat atas keberanian Dion melawan keraguan dalam hatinya.
"Terima kasih mas, ia semua berkat bantuan kalian."
Ke empat orang itu lalu duduk kembali dan bersiap menyantap makanan pesanan mereka. Senyum tak sedikitpun pudar dari wajah Arum, gadis itu benar-benar menemukan kebahagiaannya dan hal itu membuat Indhi turut berbahagia.
"Jadi kapan kalian akan menikah?" tanya Indhi di sela-sela waktu makan mereka.
"Lusa aku akan melamar Arum secara resmi. Aku harap kamu dan mas Ega aka mendampingiku," jawab Dion.
"Tidak bisa. Indhi harus mendampingiku,"protes Arum tak terima.
"Ya sudah, aku menemani Arum dan kak Ega menemani Dion. Bagaimana sayang, kamu setuju kan?" kata Indhi memberi saran, namun justru panggilan sayang yang ia sematkan untuk Ega membuat Arum dan Dion saling melempar pandang.
"Sayang? Aku nggak salah dengar kan?" tanya Arum yang masih tak percaya dengan yang di dengarnya barusan.
"Tentu saja tidak," jawab Indhi enteng, wanita itu bahkan mencium pipi suaminya guna menghilangkan keraguan sang sahabat.
"Oh My Godnes, akhirnya cinta kak Ega terbalaskan sudah. Selamat kak."
"Selamat untukmu juga Rum, kita sama-sama berhasil mengejar cinta kita."
Ke empat orang itu tertawa bahagia, mereka lalu melanjutkan makan malam mereka dengan hening. Hanya saja ada satu hal yang mengganggu pikiran Indhi, rasanya kebahagiaannya terasa kurang lengkap, tiba-tiba ia mengingat Dita.
"Ada apa Ndi?" tanya Arum yang menyadari wajah sedih sahabatnya.
"Aku ingat Dita," jawabnya apa adanya dan berhasil membuat semua orang menatapnya.
"Tidak usah mengingat pengkhianat itu lagi," sergah Arum dengan kesal.
"Dia juga mau menikah Rum."
"Apa?kamu tau dari mana? Menikah sama siapa?" cecar Arum dengan berbagai pertanyaannya.
Indhi lalu menceritakan tentang pernikahan mendadak Dita dan Dokter Aditya. Wajah Arum yang sempat mengeras saat Indhi membahas Dita kitni berubah sendu. Tak bisa di pungkiri, persahabatan mereka terjalin sangat lama, tak mudah untuk tidak saling peduli lagi.
"Dia tinggal dimana sekarang?" Arum mulai merasa khawatir, pasalnya di antara mereka bertiga, Dita-lah yang paling lemah dan mudah di bodohi.
"Setidaknya dia berada di tempat yang aman."
Sementara di rumah mewah milik keluarga Dokter Aditya, kedua pasangan dadakkan itu masih belum bisa menjawab saat di tanya kapan mereka akan menikah. Keduanya masih ragu harus menjawab apa.
"Jadi kapan mama dan papa harus melamar Dita?"
Pertanyaan itu membuat keduanya semakin pening. Bagaimana mereka bisa melamar jika Dita saja di usir oleh kedua orang tuanya, dan jika kedua orang tua Dokter Aditya mengetahui alasan mereka menikah sudah dapat di pastikan dokter tampan itu akan terkena amukan kedua orang tuanyan
"Secepatnya mah."
Hanya kalimat itu yang bisa Dokter Aditya ucapkan. Tugasnya sekarang adalah meminta maaf kepada kedua orang tua Dita dan meyakinkan mereka untuk menerima Dita lagi, dengan begitu ia dan kedua orang tuanya bisa melamar Dita secara resmi.
Pertemuan Dita dan calon mertuanya tak berakhir sampai di sini, mereka melanjutkan pertemuan mereka di meja makan. Dita hanya bisa pasrah saat mama Mayang mengambilkan berbagai macam lauk ke dalam piringnya, namun melihat hal itu ada sebuah kehangatan di hati Dita.
"Cukup mah, terima kasih," ucap Dita sambil tersenyum.
"Makan yang banyak, jangan sungkan. Anggap rumah sendiri," ujar mama Mayang dengan wajah yang berseri.
Namun bukannya menikmati makanannya, Dita malah menangis dan membuat semua orang yang ada di meja makan merasa bingung.
"Kenapa menangis? Apa mama menakutimu?" tanya mama Mayang dengan wajah panik.
Dita menggeleng dengan cepat, gadis itu segera menghapus air matanya. "Tidak mah, Dita hanya terlalu bahagia. Dita tidak menyangka mama akan menerima kedatangan Dita, padahal pasti mama sudah tau asal usul Dita kan?"
Mama Mayang meraih tangan Dita dan menggenggamnya dengan erat, ia akhirnya tau apa yang menjadi kekhawatiran calon menantunya. "Nak, dari mana pun asal-usulmu selama Adit bahagia bersamamu maka mama akan dengan senang hati menerimamu. Dengar mama nak, di mata Tuhan semua orang itu sama. Berhenti rendah hati dan syukuri apapun yang kamu miliki, karena yang kamu miliki sekarang belum tentu di miliki oleh orang lain," ucap mama Mayang panjang lebar, Dita akhirnya tau dari mana sikap penuh tanggung jawab yang di miliki Dokter Aditya.
"Terima kasih mah."
Mereka lalu melanjutkan makan malam dengan tenang, sesekali Dokter Aditya mencuri pandang ke arah calon istrinya. Sekali lagi ia merasa menyesal karena dulu selalu memojokkan gadis itu, ia tak percaya jika calon istrinya memiliki hati yang sangat lembut, gadis itu juga begitu polos, pantas saja jika mudah di pengaruhi oleh orang lain.
Setelah makan malam bersama, Dokter Aditya mengantarkan Dita kembali ke apartemennya. Selama perjalanan pulang mereka saling diam, hingga tak terasa mereka telah tiba di depan pintu apartemen milik Dokter Aditya.
"Terima kasih dok, saya permisi," pamit Dita.
Saat Dita hendak membuka pintu, tiba-tiba saja Dokter Aditya menahannya. "Kapan kamu libur?" tanyanya canggung.
"Satu minggu lagi. Ada apa dok?"
"Kita harus bertemu dengan kedua orang tuamu dan membicarakan masalah pernikahan kita," ucap Dokter Aditya.
Ucapan Dokter Aditya membuat Dita mengingat keluarganya, gadis itu merindukan saat-saat bersama kedua orang tua serta adik-adiknya, hingga tanpa sadari gadis itu kembali menitikkan air mata.
"Kamu merindukan keluargamu ya?"
Dita hanya mengangguk pelan, gadis itu tak henti-hentinya menangis dan membuat Dokter Aditya bingung.
"Jangan menangis."
Reflek Dokter Aditya menarik tubuh Dita dan memeluknya. Bukannya menolak, Dita justru semakin terisak di dalam pelukan pria yang akan menjadi suaminya. Dan tanpa mereka sadari, inilah awal mereka memulai hubungan kilat mereka.
BERSAMBUNG...