Marry me, Brother

Marry me, Brother
Pendarahan



Bella merasa tak terima, tangannya melayang di udara dan hendak menampar wajah Indhi, namun Indhi lebih dulu menahan tangannya dan menghempaskannya dengan kasar. "Jangan harap kamu bisa menghancurkan keluargaku lagi Bella!" Indhi menggeram dengan tatapan mata yang penuh kebencian, tak bisa di pungkiri jika gadis yang hendak menamparnya adalah saudara seayahnya, namun bukan salah Indhi jika ia sangat membencinya bukan.


Plak...


Kini sebuah tamparan mendarat sempurna di wajah Bella meninggalkan jejak merah di sana, gadis itu memegangi pipinya yang terasa panas, ia tak menyangka jika Indhi yang terkesan kalem mampu menyakitinya.


"Dan untuk kamu Dit, niat awalku datang untuk meminta maaf, seandainya kamu tetap Dita yang dulu, aku akan melepaskan kak Ega dengan ikhlas. Namun kali ini, melihatmu sepicik ini membuatku tersadar, inilah alasan mengapa kak Ega tak bisa mencintaimu dan satu hal lagi, mulai sekarang aku tidak akan pernah melepaskan suamiku karena aku sangat mencintainya. Jika kamu ingin merebutnya maka bersainglah secara sehat," pesan monohok itu Indhi sampaikan kepada sahabatnya, ia benar-benar kecewa karena Dita telah berubah dan mengingkari persahabatan mereka.


Indhi berbalik dan berniat pulang, namun saat akan pergi tangannya di cekal oleh seseorang dan di tarik dengan kasar, karena tak siap akan sebuah serangan, kaki Indhi tergelincir dan ia jatuh dengan posisi bokongnya lebih dulu mendarat di lantai.


Indhi mengerang menahan nyeri di bokong dan menjalar ke perutnya, sementara si tersangka yang tak lain adalah Bella tersenyum melihat Indhi merintih kesakitan.


Melihat Indhi kesakitan, Dita merasa khawatir dan berniat menolong Indhi, namun lagi-lagi Bella melarangnya untuk menolong Indhi.


Indhi memegangi purutnya yang terasa nyeri, detik berikutnya ia merasakan sesuatu yang dingin menjalar di sekitar pahanya, dengan tangan gemetar Indhi mengusap pahanya, air matanya tak bisa di bendung lagi saat darah menempel di telapak tangannya.


"Dit, tolong bayiku," ucapnya mengiba, wanita hamil itu menatap sahabatnya dengan tatapan memohon, sungguh ia tak ingin terjadi sesuatu pada bayinya.


"Bayi?" ulang Dita dan Bella bersamaan, kedua gadis itu tampak begitu terkejut.


"Ka-kamu hamil Ndi?" tanya Dita dengan bibir bergetar, gadis itu lalu berjongkok dan menyingkap sedikit dres lilac milik Indhi, seketika matanya membelalak saat darah segar keluar dari pangkah paha sahabatnya.


Saat itu juga Arun tiba di rumah Dita, gadis itu berlari keluar dari mobilnya dan menghampiri Indhi yang terlihat sedang duduk di lantai, Arum membekap mulutnya begitu melihat darah di kaki Indhi, gadis itu menatap Dita dan Arum bergantian menuntut sebuah penjelasan.


"Aku tidak akan memaafkan kamu kalau sampai Indhi dan bayinya kenapa-napa!" ancam Arum pada Dita, tanpa menunggu lama Arum membantu Indhi berdiri. "Kamu bisa jalan kan Ndi?" tanya Arum memastikan dan hanya di angguki oleh Indhi.


Arum memapah Indhi dengan perlahan dan membawanya masuk ke dalam mobilnya, sementara Dita yang terlihat begitu panik terlihat bingung harus melakukan apa.


"Rum, aku ikut," pinta Dita, sejenak Arum menatapnya dan setelahnya hanya mengangguk.


Arum mengemudikan mobilnya dengan cepat, sementara Dita memeluk tubuh Indhi yang semakin lemas, dalam kondisi genting seperti ini mereka benar-benar melupakan masalah mereka, pada dasarnya mereka bersahabat dengan baik, hanya saja pengaruh Bella berhasil membuat Dita melupakan masa-masa indah bersama kedua sahabatnya itu.


Setengah jam kemudian Arum memarkirkan mobilnya di depan UGD Rumah Sakit, gadis itu keluar dari mobilnya dan berlari masuk ke dalam UGD untuk mencari bantuan. Tak lama Arum kembali keluar dengan dua perawat yang mendorong brankar pasien.


Dita membuka pintu mobil, ia membantu Indhi untuk keluar, dengan dua bantuan perawat tersebut mereka menaikkan Indhi ke atas brankar tersebut dan bergegas memberikan pertolongan pertama kepada Indhi.


Di depan ruang tindakan, Arum dan Indhi menunggu dengan cemas. Arum semakin panik saat ponselnya berbunyi dan menampilkan nama Ega di layar ponselnya, setengah ragu Arum menjawab panggilan tersebut.


"Kak," ucaphya dengan suara terisak.


"Ka-kami di Rumah Sakit, Indhi pendarahan kak," terangnya dan kembali menangis.


"Apa? Kalian di Rumah Sakit mana?" terdengar suara Ega yang begitu panik.


"Tempat kalian bekerja," sahut Arum.


Ega langsung mengakhiri panggilannya begitu tau keberadaan Indhi, mendengar istrinya pendarahan pria itu kembali menggila, ia keluar dari kamarbya dengan berlari.


"Ada apa Ga?" tanya bu Tika yang melihat kepanikan putra menantunya itu.


"Indhi di Rumah Sakit, dia pendarahan bu," jawab Ega dengan cepat.


"Apa?" bu Tika begitu terkejut. "Ibu ikut ke Rumah Sakit," pinta bu Tika dan di setejui oleh Ega.


Perjalanan ke Rumah Sakit terasa begitu lama, padahal jalanan tak terlalu padat. Ega mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, bayang-bayang kehilangam istri dan anaknya benar-benar menghantui pikirannya.


"Mereka akan baik-baik saja," Ega berdoa di dalam hati, sungguh besar ujian pernikahan mereka, namun Ega harap ia dan Indhi mampu melewatinya.


Beberapa menit kemudian, Ega dan bu Tika tiba di Rumah Sakit, mereka berdua berlari menuju UGD setelah mendapatkan informasi dari Arum, sesampainya di sana Ega menatap tak suka pada Dita, lalu ia menghampiri Arum untuk bertanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" cecar Ega dengan panik.


"Aku juga nggak tau kak, saat aku sampai di rumah Dita, Indhi sudah duduk di lantai dan mengeluarkan banyak darah," jawab Arum dengan spontan, ia melupakan kebohongan yang di rencanakan oleh Indhi sebelumnya.


"Kenapa di rumah Dita, bukannya Indhi pergi ke rumahmu?" selidik Ega lagi, di tatapnya kedua gadis itu secara bergantian.


"Maaf kak, Indhi yang memintaku untuk berbohong. Dia pergi ke rumah Dita untuk minta maaf dan menyelesaikan masalah mereka, aku ingin ikut tapi Indhi melarangku karena khawatir Dita akan semakin salah paham," jujur Arum pada akhirnya, ia tak punya alasan lagi untuk tetap berbohong.


Ega mengusap wajahnya dengan kasar, setelah itu tatapan tajamnya tertuju pada Dita. "Puas kamu sekarang!" bentaknya dengan emosi yang menggebu. "Bahkan dia masih mengkhawatirkanmu meski tau kamu berencana mengkhianatinya. Apa kamu tidak malu, Indhi sangat menyayangimu dan ini balasan yang kamu berikan. Jika terjadi sesuatu pada istri dan bayiku, aku tidak akan pernah memaafkanmu!" ancaman Ega sepertinya tak main-main, ia tak akan membiarkan siapapun yang menyakiti istrinya hidup dengan tenang.


"Aku tidak tau kalau Indhi sedang hamil, seandainya aku tau, aku pasti akan menyerah," elak Dita membela diri.


"Tau atau tidak itu bukan alasan Dit, selama niatmu merebut kak Ega, itu tandanya kamu mengkhianati Indhi, aku sangat kecewa padamu Dit," sela Arum yang ikut serta menyalahkan Dita. "Bisa-bisanya kamu lebih mempercayai Bella dan mengkhianati persahabatan kita!"


BERSAMBUNG...