Marry me, Brother

Marry me, Brother
Melahirkan



Memaafkan, sebuah kata yang begitu singkat namun butuh waktu yang tak sedikit untuk melakukannya. Sama halnya dengan Indhi, sudah hampir 5 tahun berlalu sejak kepergian Zean, namun wanita itu masih belum bisa memaafkan orang yang telah membuat nyawa Zean melayang.


Indhi duduk termenung di balkon kamarnya, netranya menatap kosong hamparan langit berwarna merah keemasan karena senja segera tiba. Wanita yang kini tengah hamil besar itu kembali teringat saat dimana dia berjuang menyelamatkan nyawa Mariam beberapa bulan yang lalu.


"Sayang, apa yang sedang kau lakukan?"


Indhi mengakhiri lamunan panjangnya, wanita hamil itu menoleh dan mendapati Ega berdiri di sebelahnya. Kepala Indhi sedikit terangkat agar dia bisa melihat wajah sang suami.


"Aku sedang melihat sunset kak," jawab Indhi sambil tersenyum.


Ega lalu menyusul duduk di sebelah istrinya, pria itu meraih tangan Indhi yang terasa dingin dan menggenggamnya. "Kamu pasti masih memikirkan Mariam kan?" tebak Ega tepat sasaran,pasalnya Indhi kerap melamun semenjak berhasil menyelamatkan nyawa wanita yang sudah menghancurkan hidupnya dan keluarganya..


"Sayang, aku yakin Zean pasti bangga padamu. Kamu adalah dokter terhebat yang pernah aku temui, kamu mengkesampingkan perasaan pribadimu dan menyelamatkan wanita itu!"


"Aku takut kak Zean marah padaku kak," ucap Indhi sendu.


Ega mengusap surai panjang milik istrinya. "Tidak, Zean justru bangga padamu, aku yakin itu. Kau bahkan dengar sendiri kan saat mamy mengatakan jika beliau bangga padamu, begitupun dengan Zean, dia tidak akan marah padamu. Kamu melakukan hal yang sangat baik. Berhentilah memikirkan hal itu!"


"Sebentar lagi gelap, sebaiknya kita masuk ke kamar," ajak Ega dan segera di angguki Indhi, wanita hamil itu berdiri dengan bantuan Ega, langkahnya begitu pelan karena perutnya sudah sangat besar. Namun belum juga mereka sampai di kamar tiba-tiba Indhi meringis dan mengaduh kesakitan.


"Kamu kenapa?" tanya Ega panik.


"Sepertinya aku mau melahirkan kak," jawab Indhi dengan nafas terengah-engah.


"Me-melahirkan? Sekarang?"Ega tiba-tiba saja menjadi gugup, pria itu bahkan linglung sejenak. "Kamu masih kuat berjalan kan?" tanya Ega memastikan.


"Masih kak."


Ega lalu menuntun Indhi berjalan masuk ke dalam kamar sebelum akhirnya mereka turun ke lantai bawah, Ega harus segera membawa Indhi ke rumah sakit.


"Ibu, bi Sumi," teriakan Ega menggema di segala penjuru rumah. Tak berselang lama bu Tika dan bi Sumi berlari menghampiri sepasang suami istri itu.


"Sepertinya Indhi mau melahirkan bu, kita harus ke rumah sakit sekarang," ujar Ega yang semakin panik saat Indhi kembali mengerang kesakitan.


"Bi tolong siapkan perlengkapan bayinya, nanti bibi menyusul ke rumah sakit!"


Ega dan bu Tika memapah Indhi berjalan menuju mobil, sementara bi Sumi menyiapkan perlrngkapan bayi di kamar Indhi.


Perjalanan menuju rumah sakit terasa sangat panjang, Ega yang tak bisa fokus saat mendengar suara rintihan kesakitan dari bibir istrinya.


"Apa? Ba-baik bu."


Dengan tangan bergetar, Ega menambah laju kendaraannya, di saat seperti ini gelarnya sebagai seorang dokter seakan menghilang, pria itu begitu gugup dan ketakutan, padahal saat masih menjalani pendidikan profesi dan berada di stage kandungan ia sudah terbiasa membantu ptoses persalinan, namun nyatanya ilmu yang ia pelajari raib begitu menghadapi istrinya yang sedang kontraksi.


Sepuluh menit kemudian Ega memarkirkan mobilnya di depan UGD, pria itu turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah sakit untuk memanggil perawat. Tak berselang lama, beberapaperawat keluar dengan mendorong brankar.


"Hati-hati," ucap Ega saat ia berusaha membantu Indhi keluar dari dalam mobil. Karena tak kuat naik ke atas brankar, Ega akhirnya menggendong tubuh Indhi dan membaringkannya di atas brankar.


Ega dan bu Tika menunggu dengan gelisah saat Indhi sedang di periksa, tak lama kemudian seorang dokter keluar dan menghampiri Ega.


"Pembukaannya sudah lengkap dok, Dokter Indhi sudah siap untuk melahirkan. Dokter Kevin bisa masuk ke dalam dan mendampingi Dokter Indhi."


Tanpa menunggu lama, Ega segera masuk ke dalam ruang bersalin, pria itu segera menghampiri istrinya sedang berjuang membawa kehidupan baru ke dunia.


"Sayang, kau pasti bisa," bisik Ega dengan berlinang air mata,rasanya ia tak tega melihat Indhi mengerang kesakitan.


Oek...oek...


Suara tangisan bayi memenuhi ruang bersalin, suasana haru menyelimuti kedua pasangan yang kini telah resmi menjadi orang tuan.


"Selamat dok, bayi pertama anda berjenis kelamin laki-laki," ucap sang dokter lalu memberikan bayi laki-laki itu kepada perawat untuk di bersihkan.


Tak berselang lama, Indhi kembali merasa mulas dan ia kembali mengejan, dengan sisa tenaga yang ia miliki Indhi berusaha melahirkan anak keduanya.


Oek...oek...


Tangisan bayi kembali terdengar, air mata dan peluh yang bercucuran di wajah Indhi seolah menjadi bukti bahwa perjuangannya untuk menjadi seorang ibu begitu besar.


"Bayinya perempuan dok," ujar dokter yang membantu persalinan Indhi.


"Terima kasih sayang," tak ada hal lain yang bisa Ega ucapkan selain rasa terima kasih kepada istrinya yang telah berjuang dan mempertatuhkan nyawanya demi melahirkan putra dan putri mereka ke dunia ini.


Sebagai seorang dokter, Ega tentu mengatahui jika badan manusia hanya dapat menahan kesakitan hingga 45 del. Namun pada saat wanita melahirkan, mereka dapat mengalami kesakitan hingga 57 del. Rasa sakit tersebut setara denganĀ 20 tulang yang di patahkan secara bersamaan.


BERSAMBUNG...