Marry me, Brother

Marry me, Brother
Penyesalan



Dion sudah kembali ke rumahnya, di dalam kamar pria itu menatap pantulan dirinya di cermin, luka memar yang memenuhi wajahnya seolah tak ia rasakan lagi. Kini ia merasa hampa saat Arum tak bereaksi sedikitpun ketika Fajar menghajarnya, padahal dulu gadis itu begitu posesif terhadapnya. Pernah suatu ketika mereka berkumpul dan makan bersama, lalu tak sengaja sebuah duri tersangkut di tenggorokannya, saat itu Arum begitu panik, gadis itu bahkan membawa Dion ke Rumah Sakit demi mengeluarkan duri yang besarnya tak lebih dari satu senti.


"Aku menyesal," gumamnya pelan.


Pria itu lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur, memorinya kembali pada masa-masa saat dia dan Arum begitu dekat, gadis kecil itu sangat menempel padanya ketika mereka bertemu. Dion meraih ponselnya, di bukanya aplikasi pengirim pesan dengan logo berwarna hijau. Tak ada satupun pesan yang masuk dari Arum sejak tiga hari lalu. Padahal setiap hari gadis itu selalu mengiriminya pesan sekedar mengucapkan selamat pagi, siang dan malam.


"Ah aku merindukannya," desisnya lagi penuh penyesalan.


Seandainya malam itu ia tidak terlalu pengecut dan tetap mengakui perasaannya, mungkin saja kini mereka tengah bahagia bersama. Ah tidak, tidak, seandainya saja sejak awal ia menerima perasaan cinta gadis itu mungkin kisah mereka akan memiliki akhir yang berbeda.


"Bolehkah aku egois dan memperjuangkanmu?"


Kini jemari Dion menggeser foto demi foto Arum yang memenuhi galeri ponselnya, foto yang kerap Arum kirim setiap gadis itu melakukan aktivitas. Foto yang akhirnya setelah tiga hari ini tak pernah ia dapatkan lagi.


Menyesal?


Sungguh, pria itu benar-benar menyesali kebodohannya, ia terlalu pengecut untuk mengungkapkan perasaannya.


***


Di tempat lain, tepatnya di hotel tempat Indhi dan Ega memesan kamar. Di balik selimut tebal, sepasang suami istri masih terlelap dalam keadaan tanpa busana, keduanya kelelahan setelah melakukan aktivitas panas. Dering ponsel yang terus berbunyi mengusik pasangan itu. Ega terpaksa membuka matanya, dengan hati-hati ia memindahkan kepala istrinya ke atas bantal, pria itu sedikit menggeser tubuhnya dan meraih ponsel istrinya yang sejak tadi berdering.


"Hallo Jar," sapa Ega dengan suara serak.


"Hallo mas, Indhinya ada?" tanya Fajar dengan suara terburu.


"Masih tidur, ada apa Jar?"


"Maaf mas, tolong bangunkan Indhi. Aku perlu bantuannya mas, si Arum kacau, aku nggak tau harus ngapain lagi," pinta Fajar dengan nada khawatir.


"Jar usahan tetap di samping Arum, kami akan segera kesana," Ega yang mengerti kondisi Arum terakhit kali ikut khawatir jika gadis itu akan melakukan hal-hal berbahaya.


Setelah panggilan telefon berakhir, Ega membangunkan istrinya yang masih terlelap.


"Sayang bangun," Ega mengguncang kaki Indhi dengan sedikit keras.


"Indhi libur kak, tidur lagi ya," sahut Indhi dengan mata tertutup.


"Tapi Arum membutuhkanmu, tadi Fajar telefon dan bilang Arum sedang kacau."


Indhi terlonjak dan segera bangun, ia tak memperdulikan buah da*danya yang terpampang karena selimutnya melorot turun, wanita itu lalu menyibak selimutnya dan berlari ke kamar mandi dengan keadaan telan*jang bulat. Ega hanya menggeleng, ia tau betul sikap ceroboh istrinya. Karena tak ingin membuang terlalu banyak waktu Ega memutuskan untuk menyusul istrinya ke kamar mandi.


"Kakak ngapain?" tanya Indhi dengan menutupi kedua bukit dan lembahnya dengan tangan.


"Mandi, biar cepat kita mandi bersama saja."


Ega bergabung dengan istrinya yang berada di bawah guyuran shower, keduanya benar-benar hanya mandi dan tak melakukan apapun yang akan menggugah hasratnya. Setelah mandi mereka segera memakai baju dan meninggalkan hotel. Ega mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Arum.


Setengah jam kemudian mereka telah sampai di rumah Arum, keduanya lalu masuk dan menuju kamar Arum. Di depan kamar, Fajar sudah menunggu kedatangan mereka.


"Apa yang terjadi om?" tanya Indhi khawatir.


"Aku masuk ya om," izin Indhi kepada pria yang sudah di anggap seperti om-nya sendiri.


"Iya Ndi, tolong om ya, bujuk dia supaya mau makan!"


Indhi hanya mengangguk dan masuk ke dalam kamar sahabatnya, wanita itu lalu duduk di bibir ranjang sementara Arum terlelap di atas kasur. Kedatangan Indhi sepertinya sedikit mengusik Arum, gadis tomboy itu membuka matanya dan tersenyum meski ia paksakan.


"Sudah bangun?" tanya Indhi dengan lembut.


"Hem," Arum hanya bergumam pelan, wajahnya terlihat pucat dan dengan mata sembab.


"Sudah lama kita nggak ngumpul bareng? Mau hang out bareng nggak? Dita sebentar lagi pulang kerja?" Indhi mencoba mengajak Arum keluar, biasanya gadis itu yang paling bersemangat jika berurusan dengan hang out, namun kali ini gadis itu hanya menggeleng.


"Kalau gitu makan dikit ya? Mau aku belikan soto favorit kamu?" tawarnya Indhi lagi dan lagi-lagi Arum hanya menggeleng.


Terpaksa kini Indhi berperan sebagai dokter, ia memeriksa denyut nadi Arum yang mulai melemah, belum lagi telapak tangannya yang terlihat menguning akibat volume darah berkurang, gadis itu mengalami dehidrasi.


"Tunggu di sini sebentar ya?" pesan Indhi sebelum gadis itu keluar kamar dan menghampiri Ega dan Fajar yang tengah duduk di ruang tamu.


"Gimana Ndi?" tanya Fajar cemas.


"Masih nggak mau om." jawab Indhi lesu, ia lalu menatap suaminya. "Kak tolong belikan cairan infus dan perlengkapan lainnya, Arum tidak mau makan, dia sudah dehidrasi lebih baik kita menginfusnya." ucap Indhi panjang lebar.


"Apa lagi yang di butuhkan?"


"Itu saja kak."


Ega mengangguk mengerti, pria itu lalu segera keluar untuk menuju apotek dan membeli semua peralatan medis yang Indhi pesan.


Lima belas menit kemudian Ega sudah kembali ke rumah Arum, pria itu membawa pesanan istrinya ke dalam kamar Arum. Pria itu sedikit terkejut saat melihat gadis yang pernah menjalin kasih dengannya secara diam-diam. Ega mencoba untuk bersikap biasa saja dan memberikan kantong plastik berwarna putih kepada istringa.


"Ini sayang," ucapnya mesra.


"Makasih kak," sahut Indhi. Sementara Dita menyaksikan interaksi suami istri itu dengan mata berkaca-kaca, ia sungguh merasa cemburu dengan kelembutan yang Ega berikan kepada Indhi, sementara saat bersamanya dulu, pria itu tak pernah semanis itu.


Indhi lalu memasang selang infus di tangan sahabatnya, ia lalu menarik selimut hingga perut Arum dan membiarkan gadis itu isirahat. Mereka berkumpul di ruang tamu dan membahas tentang kondisi Arum.


"Padahal Dion juga menyukainya, tapi perlakuan Dion waktu itu sepertinya sangat menyakiti hati Arum," ucap Fajar menceritakan semuanya kepada teman-teman keponakannya.


"Kak Dion menyukai Arum?" tanya Dita tak mengerti.


"Ya. Dia tadi datang dan mengakuinya semua. Tapi sepertinya sudah terlambat, Arum terlalu kecewa dengan sikap Dion."


"Begitulah, penyesalan selalu datang saat akhir. Semoga menjadi pelajaran untuk Dion agar bocah itu lebih berani mengutarakan perasaannya."Sahut Ega dan di setujui oleh Fajar.


Mendengar ucapan suaminya, Indhi merasa tercubit. Ia lalu meraih tangan suamunya dengan erat. Ega menoleh karena kaget, Indhi ternyata tengah menatapnya.


"Semoga aku tidak memiliki penyesalan seperti kak Dion," bisiknya di telinga sang suami.


BERSAMBUNG...