Marry me, Brother

Marry me, Brother
Kencan



Bunyi jam weker yang berada di atas meja tanpa jeda, disambut alarm pada ponsel membuat pasangan suami istri yang masih tidur dengan posisi saling memeluk terpaksa membuka mata mereka, bunyi dering yang begitu kencang dan terus menerus menunjukan datangnya pagi.


Ega tersenyum mentap wajah sang istri, di kecupnya kening itu mewakili ucapan selamat pagi. Namun bukannya bangun, Indhi malah semakin mempererat pelukannya, wajahnya ia sembunyikan di dada bidang milik suaminya, aroma maskulin yang keluar dari tubuh Ega membuat wanita itu enggan menjauh, rasanya begitu berat untuk melepaskan tubuh suaminya.


"Sayang, bangun!" ucap Ega dengan suara parau khas orang bangun tidur.


"Lima menit lagi kak," Indhi masih enggan membuka matanya, wangi tubuh Ega seakan obat tidur yang membuatnya enggan bangun.


"Katamu ingin pergi kencan hari ini," Ega membelai kepala belakang istrinya, karena wanita itu tak juga bangun, akhirnya Ega membanjiri keningnya dengan kecupan selamat pagi.


Merasa terganggu, Indhi sedikit menjauhkan wajahnya dari dada sang suami, kepalanya mendongak dan menatap suaminya dengan tatapan yang sulit di artikan. "Kemana kita hari ini?" tanyanya sedikit semangat.


"Kemanapun kamu mau?"


"Kakak yakin?"


"Tentu saja."


Indhi tersenyum lebar namun senyumannya terlihat sangat misterius, wanita itu lalu menyibak selimutnya dan bangun, saking semangatnya ia sampai lupa jika ia hanya menggunakan br*a dan under wear yang menutupi kedua aset berharganya.


"Sayang aku bilang berhenti menggodaku," ujar Ega saat melihat bokong sintal milik istrinya.


Indhi berbalik dan kembali melompat ke atas tempat tidur, ia lalu menyangga wajah dengan kedua tangannya, tatapannya begitu nakal saat manik matanya menelisik wajah sang suami. "Kakak mau mencobanya? Semalam saja kita berhasil mengeluarkan benih cinta milik kakak. Yah, walapun dengan cara lain," kata Indhi tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah suaminya.


"Mandi sana!" usir Ega karena tak tahan melihat dua gundukan yang terpampang di depan matanya.


"Ya Tuhan rasanya aku ingin segera memakannya," batin Ega kesal, ia ingin sekali menyentuh istrinya, namun bayangan saat Indhi menangis di malam mereka bercinta membuat Ega mengalami disfungsi ereksi, untuk itu Ega memilih menahannya sampai ia bisa mengatasi masalah psikisnya.


Indhi mencebikkan bibirnya, wanita itu lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tak lama kemudian Indhi keluar dengan handuk yang melilit dada dan hanya sampai di tengah pahanya, entah apa yang ia pikirkan, namun ia hanya sedang berusaha membantu suaminya.


Setelah Indhi keluar dari kamar mandi, kini Ega yang bergegas masuk ke sana, pria itu menahan nafasnya saat melihat tubuh mungil istrinya yang hanya terbalut oleh handuk tipis. "Tuhanku, sembuhkan penyakit mental ini. Apa aku tutup saja kepalanya saat kami bercinta? Dengan begitu aku tidak akan melihat wajahnya. Hemm, sepertinya ide yang bagus," ucapnya bermonolog, wajah tampannya di hiasi senyuman liciknya.


***


Matahari mulai meninggi, Ega mengemudikan mobilnya menuju sebuah restoran untuk sarapan bersama istrinya. Mereka tidak sarapan di rumah karena bi Sumi libur dan tidak ada yang menyiapkan sarapan untuk mereka.


Tak ada yang spesial saat sarapan, mereka hanya menyantap makanan khas sarapan nusantara, nasi uduk dan juga lontong sayur. Setelah sarapan mereka pergi ke pusat perbelanjaan untuk sekedar jalan-jalan.


Di dalam mall yang berada di pusat kota, kedatangan Ega menyita perhatian kaula muda yang juga tengah jalan-jalan di mall, mungkin karena akhir pekan jadi banyak sekali pengunjung mall yang notabene anak-anak muda.


Melihat suaminya di tatap seperti itu membuat Indhi merasa risih, wanita itu lalu mengaitkan tangannya di lengan Ega hingga membuat para gadis yang menatap Ega merasa iri dengan Indhi.


"Kak aku mau ice cream," Indhi menunjuk stand penjual ice cream, tanpa menunggu lama Ega segera menghampiri stand tersebut dan membelikan ice cream cokelat dengan toping kacang kesukaan istrinya.


"Terima kasih," ucap Indhi saat menerima satu cup ice cream favoritnya. Indhi lalu menikmati ice creamnya sambil berjalan, sesekali Ega menyeka sudut bibirnya dan membuat pasangan itu terlihat begitu romantis.


"Lagi," Ega kembali membuka mulutnya dan Indhi kembali menyuapinya hingg ice cream tersebut habis tak tersisa.


"Habis,"keluh Indhi sambil menatap wadah kosong yang ada di tangannya.


"Nanti aku beliin satu ember besar," kata Ega menenangkan istrinya.


"Janji?"


"Ya."


Keduanya lalu melanjutkan perjalanan mereka menyusuri setiap sudut pusat perbelanjaan yang semakin ramai. Dari kejauhan Indhi melihat seorang gadis kecil sedang berusaha mengeluarkan sesuatu dari mulutnya, saat jarak mereka semakin dekat Indhi melihat dengan jelas jika anak itu kesulitan bernafas sehingga wajahnya memerah dan bibirnya membiru.


"Kak, sepertinya anak itu tersedak sesuatu?" tegas Indhi sambil melangkahkan kakinya mendekati gadis kecil itu.


"Adik baik-baik saja?" tanya Indhi pada gadis kecil itu, tak lama seorang wanita muda datang menghampiri gadis itu.


"Anda siapa?" tanya wanita itu seraya menatap Indhi.


"Maaf bu sepertinya anak ibu tersedak sesuatu." jelas Indhi mengabaikan pertanyaan wanita itu.


Wanita muda itu mengamati putrinya sejenak, lalu ia mulai panik saat putrinya mulai kesulitan untuk bernafas, wanita itu lalu membantu putrinya untuk mengeluarkan benda yang ada di dalam mulut gadis kecil itu.


"Kalau anda memaksa benda itu keluar dengan cara seperti itu yang ada anak ibu akan celaka karena benda tersebut akan masuk ke dalam tenggorokannya," ucap Ega seraya menarik tangan wanita itu.


Tanpa persetujuan ibunya, Ega menndekati gadis kecil itu. "Anak cantik, bisakah kamu batuk dengan keras agar lehermu tidak sakit?"


Gadis kecil itu mengangguk namun ia tak bisa mengeluarkan suaranya sama sekali. Tak ada pilihan lain Ega harus segera melakukan abdominal thrusts.


(Abdominal thrusts adalah teknik respons darurat dengan memberikan tekanan paksa pada perut untuk mengeluarkan benda asing yang berada di rongga pernapasan.)


Ega memposisikan tubuhnya di belakang badan gadis kecil itu, ia lalu melingkarkan tangannya seperti hendak memeluknya dari belakang. Ega lalu mengepalkan tangannya dan memposisikan kepalan tangannya di bagian tengah perut yakni di antara ulu hati dan pusar gadis kecil itu. Dengan hati-hati Ega menghentakkan tangan ke perut sambil menarik tubuh gadis kecil itu. Setelah lima kali percobaan, sebuah permen berukuran cukup besar keluar dari mulut gadis kecil itu, seketika gadis kecil itu bisa bernafas dengan normal.


"Mohon lebih di perhatikan lagi putrinya bu," tegur Ega pada orang tua gadis kecil yang di tolongnya.


"Adik cantik, lain kali tidak boleh makan dan minum sambil berlari ya," pesan Ega seraya mengelus kepala gadis kecil itu


"Terima kasih banyak mas," ungkap orang tua gadis itu dengan penuh syukur.


Ega hanya mengangguk lalu kembali melanjutkan jalan-jalannya.


"Kakak tidak ingin memiliki gadia kecil yang imut seperti anak yang tadi kakak tolong?"


BERSAMBUNG..