
Indhi dan bu Tika sepakat untuk merahasiakan kehamilan Indhi dari Ega, mereka ingin memberikan kejutan saat Ega kembali dari luar kota. Indhi begitu semangat saat berangkat bekerja, ia ingin segera menemui Dokter Nanda saat jam istirahat nanti.
Sambil bersenandung, dokter muda itu menyusuri lorong menuju ruangannya, langkahnya yang begitu ringan terhenti saat Bella menghadang jalannya.
"Ada apa?" tanya Indhi cuek, ia tak ingin hari yang membahagiakan ini di hancurkan oleh moodnya yang memburuk gara-gara bertemu dengan adik tirinya.
"Nggak papa kak, saya cuma mau nitipin ini buat Dokter Kevin, tadi saya ke ruangannya tapi kata perawat yang ada di sana Dokter Kevin sedang seminar di luar kota," ucap Bella seraya memberikan papper bag kepada Indhi.
"Apa ini?" Indhi menatap papper bag tersebut dan penasaran apa isinya.
"Ucapan terima kasih karena Dokter Kevin sudah menyelamatkan ayah saya," ujar Bella dengan senyum manis yang tentu saja hanya sebuah kepalsuan.
"Maaf Bella, kau tau kan dokter di larang menerima apapun dari pasien maupun anggota keluarga pasien? Simpan saja niat baikmu, sudah kewajiban suamiku untuk menyelamatkan pasiennya," Indhi menolak dengan tegas, ia paham pasti Bella memiliki rencana di balik sikap baiknya. "Saya permisi," imbuh Indhi dan melewati gadis itu begitu saja.
"Ini baru awal Prilatia," desis Bella di iringi seringai di wajahnya.
***
Tengah hari telah tiba, waktu dimana seluruh petugas medis beristirahat guna mengisi kembali energi mereka yang terkuras habis untuk melayani pasien. Pada jam-jam sibuk seperti ini, dokter dan perawat memenuhi kantin Rumah Sakit, hal tersebut Indhi manfaatkan untuk menemui Dokter Nanda, setelah sebelumnya mereka bertukar pesan dan membuat janji temu.
Indhi mengetuk pintu dengan wajah yang begitu bahagia, Indhi segera masuk setelah pemilik ruangan mengizinkannya untuk masuk.
"Hai Ndi," sapa Dokter Nanda seraya memeluk temannya itu. "Langsung tiduran aja ya!" ucap Dokter Nanda dan segera di setujui oleh Indhi. Wanita itu lalu berbaring di atas ranjang periksa.
"Maaf ya," ucap dokter Nanda seraya menyingkap baju Indhi sedikit ke atas, dokter itu lalu mengoleskan clear ultrasound gel di atas perut Indhi, Dokter Nanda lalu mengarahkan alat bernama transducer ke perut Indhi. Dengan perlahan Dokter Nanda menggerakan alat USG tersebut, dokter itu lalu tersenyum saat melihat kantung kecil yang berada di dalam rahim Indhi.
"Selamat ya Ndi, usia kandunganmu sudah memasuki minggu ke lima. Masih trimester awal kamu harus ekstra hati-hati, jangan terlalu cape dan banyak pikiran," pesan Dokter Nanda pada rekannya.
"Itu bayiku Nan," Indhi menoleh ke samping dan menunjuk layar monitor yang berada di sebelahnya.
"Hem. Kamu dengar ini, denyut jantungnya sudah terdeteksi Ndi."
Indhi tak bisa menahan air matanya, wanita itu begitu bahagia sekarang, bayi mungil telah tumbuh di rahimnya dan kini ia bahkan bisa mendengar detak jantungnya.
Setelah melakukan USG, Dokter Nanda mencetak hasil USG dan memberikannya kepada Indhi, wanita itu begitu bersemangat saat menerima secarik gambar hitam putih.
"Ini adalah potretmu yang pertama, momy akan menyimpannya dengan baik," gumam Indhi seraya memandangi hasil USG miliknya.
"Aku buatkan resep vitamin ya, sama pil penambah darahnya jangan lupa di habiskan. Pil penambah darah sangat penting, selain untuk membantu mencegah anemia, pil tersebut juga bisa mencegah terjadinya pendarahan saat melahirkan."
"Makasih Nan," ucap Indhi tulus.
Indhi kembali ke ruangannya dengan langkah yang begitu ringan, tak henti-hentinya ia mengusap perutnya yang masih rata. Setibanya di ruangan, Indhi kembali mengenakan sneli dokternya dan siap memeriksa pasien.
Tak berselang lama, seorang perawat masuk di ikuti oleh seorang wanita muda di belakangnya. Indhi mempersilahkan pasiennya untuk duduk.
"Sudah tiga hari ini saya demam dok, sudah minum obat penurun panas tapi demamnya belum juga turun," jawab wanita muda itu, sesekali wanita itu batuk.
"Saya cek suhunya sebentar ya!
"39 derajat celcius, demamnya sangat tingggi. Apakah di sertai dengan flu dan juga sakit kepala?" tanya Indhi lagi dan di angguki oleh pasien.
"Sejak tadi pagi saya tidak bisa mencium bau dan lidah saya mati rasa dok."
Deg...
Indhi melirik perawat yang membantunya sekilas, gejala terakhir yang di sampaikan pasiennya membuat Indhi sedikit merasa takut. Dengan perasaan cemas ia kembali bertanya kepada pasiennya.
"Apa anda baru saja bepergian dari luar negeri?" tanya Indhi cemas.
"Iya dok, tiga hari yang lalu saya baru saja kembali dari Eropa."
Indhi mengusap perutnya yang masih rata, semoga ini hanya sekedar ketakutannya saja, namun Indhi harus bersikap kooperarif dan menjalankan tugasnya sebagai tenaga medis. Lebih baik mencegah dari pada mengobati, begitulah yang Indhi pikirkan saat ini, gejala yang di tunjukkan oleh pasiennya merujuk pada virus yang sedang ramai di perbincangkan.
"Sus, tolong keluar dan amankan siapa saja yang berkontak langsung dengan pasien ini, umumkan pada yang lain bahwa Departemen Umum akan di tutup sementara waktu!" titah Indhi dengan tegas.
"Dok, mungkinkah..." pertanyaan perawat itu menggantung, hanya dengan kedipan mata Indhi perawat itu tau akan jawabannya. "Baik dok, saya akan mengevakuasi pasien yang lainnya," ucap perawat itu dengan wajah panik.
"Ada apa dok, kenapa harus di tutup?" tanya pasien tersebut penasaran.
"Anda baru saja kembali dari luar negeri, dan gejala yang anda tunjukan sama persis dengan virus yang sedang melanda dunia luar, bukan tidak mungkin jika anda terinfeksi virus tersebut."
"Tapi dok, saya harus pulang."
"Mohon tunggu sebentar, Rumah Sakit akan menyiapkan alat untuk mengetes apakah anda terinfeksi atau tidak. semoga saja hasilnya negatif sehingga kita semua bisa pulang ke rumah."
Indhi meraih gagang telefon dan segera menghubungi direktur Rumah Sakit.
"Hallo," sapa pak direktur.
"Siang pak, saya Dokter Indhi dari Departemen umum. Baru saja saya menerima pasien dengan gejala mirip dengan virus Covid-19, pasien juga memiliki riwayat perjalanan dari luar negeri. Saya sudah menyuruh perawat untuk menutup praktek, mohon segera siapkan tes dan pengamanan di Departemen Umum," jelas Indhi panjang lebar.
"Kita akan baik-baik saja nak," batin Indhi seraya mengusap perutnya.
"Kak, aku takut. Aku membutuhkanmu kak."
BERSAMBUNG...