
Ega kembali ke kamar dengan pakaian lengkap, sementara Indhi masih mengenakkan bathrobe dan duduk di atas tempat tidur dengan bersandar pada headboard, gadis itu tak henti-hentinya berfikir mengapa suaminya meninggalkannya saat penyatuan mereka baru saja terjadi?
Ega melirik istrinya sesaat, ia lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan memejamkan mata, tapi detik selanjutnya matanya kembali terbuka saat pria itu merasakan jika istrinya mendekat.
"Apa ada yang salah kak? Kenapa kakak pergi begitu saja?" tanya Indhi setelah lama diam, gadis itu sempat berpikir ada yang salah dengan kejan*tanan sang suami karena di tengah momen panas mereka tiba-tiba senjata milik suaminya mengecil.
"Aku ... Aku tidak ingin menyakitimu, aku melihatmu menangis dan seketika ... " Ega tak melanjutkan kalimatnya, pria itu terlalu malu saat mengakui senjatanya tiba-tiba melemah saat melihat air mata di wajah istrinya.
"Kak, itu hanya respon alami dari tubuhku. Kakak tidak mengakitiku kak. Kakak seorang dokter dan harusnya kakak tau itu kan?" Indhi menatap wajah tampan suaminya, gadis itu lalu bergeser sehingga lebih dekat dengan suaminya, setelah jarak terkikis Indhi melingkarkan tangannya di perut Ega.
"Bagaimana kita bisa punya bayi jika kakak saja tidak mau menyentuhku? Air mata yang keluar saat kita bercinta tadi adalah air mata bahagia kak. Aku sangat bahagia karena pada akhirnya aku bisa memberikan hak kakak sebagai suami." Indhi mencoba menenangkan suaminya, ia bener-benar tidak menyangka jika suaminya begitu takut untuk menyakitinya.
"Apa kita perlu ke Psikiater kak?"
Ega merubah posisinya, pria itu memiringkan tubuhnya menghadap sang istri sehingga mereka saling bertatapan. "Sayang aku baik-baik saja, aku hanya terlalu takut membuatmu menangis. Beri aku waktu, aku akan mengatasinya."
"Kakak yakin?" tanya Indhi memastikan.
"Hem. Apa tadi sangat menyakitkan?" Ega menatap wajah istrinya sendu.
"Sedikit," jawab Indhi bohong, sebenarnya ia juga masih merasakan nyeri di pangkal pahanya. "Apa kakak mau mencobanya lagi? kata orang-orang sakitnya hanya di awal saja!"
Ega diam sesaat, ia tau jika istrinya menginginkan hal itu. "Apa kamu menginginkannya?" tanya Ega setengah ragu.
Indhi mengangguk pelan, bohong jika ia tidak menginginkannya, apalagi Ega menyudahinya saat mereka baru saja menyatu, tentu saja Indhi penasaran dengan adegan selanjutnya. "Tapi kita akan melakukannya lagi setelah kakak siap," ucapnya sambil mempererat pelukannya.
"Maafin aku, aku benar-benar malu."
Indhi tak menanggapi ucapan suaminya, gadis itu memilih memejamkan matanya dan tidur di pelukan sang suami. Sungguh malam pertama yang sangat mengesankan bagi mereka, namun dengan kejadian ini Indhi semakin yakin jika Ega adalah pria yang paling tepat menjadi suaminya.
***
Di malam dan waktu yang sama, Dita duduk termenung seorang diri di sebuah caffe dengan di temani segelas coffe late kesukaannya. Gadis itu sedang berusaha menenangkan hatinya, melihat kedekatan Ega dan Indhi membuatnya merasa cemburu, bahkan beberapa hari yang lalu ia sempat menangis saat melihat tanda merah di leher sahabatnya.
Di tengah lamunan panjangnya, seorang gadis menghampirinya, gadis yang sangat ia kenal karena mimiliki rupa yang hampir sama dengan sahabatnya.
"Kak Dita kan?" tanya gadis itu dengan ramah, Dita hanya mengangguk dan sedikit mengulas senyum, saat seperti ini ia sedang tidak ingin di ganggu oleh orang lain.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya gadis itu dan lagi-lagi hanya di angguki oleh Dita. Gadis itu lalu menarik kursi yang berada di hadapan Dita dan duduk di sana. "Kakak sendirian?" tanyanya lagi.
"Ya."jawab Dita singkat.
"Kebetulan sekali, aku juga sendirian kak." ucap gadis itu meski tak ada yang bertanya.
"Kak, kita sekarang kerja di tempat yang sama loh!"
Dita lalu menatap gadis yang duduk di hadapannya, ia merasa sangat terganggu dengan kedatangan gadis itu yang di nilainya terlalu sok kenal. Dan gadis itu adalah Bella, entah sejak kapan tapi ia mulai mendekati orang-orang yang dekat dengan Indhi.
"Sejak kapan kamu kerja di Rumah Sakit?" Dita akhirnya angkat bicara, dari sorot mata Bella, Dita bisa melihat kebencian di sana, Dita yakin jika Bella sengaja datang ke Rumah Sakit tempatnya dan Indhi bekerja.
"Apoteker juga pekerjaan yang bagus," sahut Dita yang semakin yakin jika Bella memang mempunyai niat tersembunyi dengan bekerja di Rumah Sakit.
Bella hanya mengangguk, wajahnya nampak kecewa karena Dita tidak mudah di dekati, namun gadis itu tak akan menyerah sampai tujuannya tercapai, ia ingin segera melihat Indhi di tinggal orang-orang terdekatnya dan melihat kehancuran saudara tirinya itu.
"Kakak tumben sendirian, kak Indhi sama kak Arum kemana?" Bella kembali memancing Dita, berharap gadis itu bisa mendekati sahabat musuhnya itu.
"Kami baru saja bertemu," jawab Dita yang lagi-lagi terkesan cuek.
"Oh."
"Bella aku harus pergi sekarang," Dita beranjak dari duduknya, gadis itu sudah muak melihat wajah sok ramah yang di tampilkan Bella.
"Kopi kakak belum habis," cegah Bella.
"Aku ada urusan, aku duluan ya."
Dita segera meninggalkan caffe itu, ia tak mau berdekatan dengan gadis itu karena Dita merasa gadis itu memiliki niat yang tidak baik.
Dita masuk ke dalam sebuah minimarket, gadis itu memutuskan membeli kopi di sana karena kopinya belum sempat di minumnya tadi.
"Ah sial, gara-gara gadis itu pengeluaranku jadi double," gerutu Dita sambil menyesap kopi yang di belinya di minimarket, saking kesalnya gadis itu tak sadar jika ada seseorang di depannya sehingga gadis itu menubruk punggung orang itu dan kopi panasnya pun tumpah dan menyiram punggung orang yang di tabraknya.
"Auw," pekik orang tersebut yang ternyata seorang pria. Pria tersebut lalu berbalik dan mengibaskan jasnya yang terkena kopi.
"Maaf, maaf, saya tidak sengaja. Anda baik-baik saja kan?" ucap Dita sambil menundukkan kepalanya.
"Kamu," seru pria tersebut saat melihat wajah Dita.
"Dokter Aditya," kata Dita tertahan, gadis itu membulatkan matanya. "Anda baik-baik saja kan dok? Maaf ya tidak sengaja."
"Baik-baik saja? tentu saja tidak, punggungku pasti melepuh sekarang."
"Maafin saya dok, mari saya antar ke Rumah Sakit. Saya benar-benar tidak sengaja dok," Dita merasa bersalah.
"Dasar ceroboh. Bagaimana bisa seorang perawat ceroboh sepertimu?" sindir dokter itu.
"Saya kan sudah minta maaf, kenapa anda senang sekali menyangkut pautkan hidup saya dengan pekerjaan saya!"
"Karena kamu memang begitu, di kehidupan sehari-hari saja ceroboh, pasti cara kerjamu juga asal-asal."
"Dengar ya pak dokter yang terhormat. Pertama saya memang salah dan saya sudah meminta maaf. Dan yang kedua jangan pernah asal menilai hidup seseorang." Dita menjeda kalimatnya, gadis itu mengambil dompet dan mengeluarkan lima lembar pecahan seratus ribu rupiah, gadis itu meraih tangan Dokter Aditya dan memberikan uang itu di genggamannya. "Dan ini untuk biaya pengobatan punggung anda yang terbakar."
Setelah memberikan uang , Dita bergegas meninggalkan pria yang menurutnya sangat menyebalkan itu.
"Amit-amit, jangan sampai ketemu dokter gila itu lagi."
BERSAMBUNG..