
Setelah menyelesaikan adegan panas di pagi hari itu, Ega dan Indhi bergegas mandi, saking asyiknya bercinta mereka sampai lupa jika harus bekerja. Untuk mempersingkat waktu, keduanya memutuskan untuk mandi bersama dan benar-benar sekedar mandi bersama, setelahnya keduanya bersiap-siap dan turun untuk sarapan. Di dapur mereka begitu terkejut melihat keberadaan ibu Tika, mereka tak menyadari kepulangan ibu mereka.
"Ibu kapan pulang?" tanya Indhi, wanita itu menghampiri ibunya dan memeluk wanita yang beberapa hari ini berada di luar negeri.
"Tadi pagi,"jawab bu Tika sambil tersenyum.
"Kok aku nggak tau kalau ibu pulang?" Indhi melepas pelukannya dan duduk di kursi meja makan, kini giliran Ega yang memeluk ibu yang kini menjadi mertuanya.
"Kalian sedang asyik membuatkan ibu cucu, mana mungkin kalian mendengar waktu ibu masuk ke dalam rumah," bu Tika tersenyum sambil mencubit pinggang Ega yang baru saja melepaskan pelukannya. Pasangan suami istri itu menunduk malu karena tertangkap basah saat sedang bercumbu.
"Ibu tau kalian sedang kasamaran dan ingin selalu bermesraan, tapi kalian juga harus tau tempat. Ibu menyekolahkan kalian bukan hanya agar kalian pintar, tapi juga agar kalian tau sopan santun dan tata krama. Untuk apa pintar kalau tidak memiliki attitude?" pesan bu Tika seraya menatap kedua anaknya yang kini duduk bersebelahan.
"Ibu maaf," jawab Indhi lesu.
"Maaf bu kami tidak akan mengulanginya," susul Ega meminta maaf.
"Ibu memaafkannya karena kalian sedang berusaha membuatkan ibu cucu. Sudah ayo sarapan, ibu sudah memanaskan nasi goreng rasa cinta yang kalian buat."
Ketiga orang itu lalu sarapan dengan khidmat, tak ada suara lain kecuali dentingan sendok dan piring yang saling berbenturan. Sesekali bu Tika melirik interaksi kedua anaknya, wanita itu tersenyum melihat Ega yang begitu perhatian kepada putrinya, bu Tika sangat bersyukur karena pad akhirnya Ega lah yang menjadi menantunya.
"Kami berangkat bu," pamit dua orang itu bersamaan.
Pagi ini Indhi ngotot untuk membawa mobil sendiri, karena Ega tak mengizinkannya akhirnya Ega yang mengalah untuk menumpang di mobil istrinya, pria itu duduk di kursi penumpang dan menikmati pemandangan jalan yang mulai padat.
"Hati-hati bawa mobilnya, aku masih ingin hidup," ucap Ega saat Indhi hampir menyerempet pengerdara sepeda motor.
"Jagan berisik, kalau kakak ngomong terus aku jadi nggak konsen!"
Alhirnya Ega hanya diam, pasrah dan menerima takdir apapun yang akan terjadi karena Indhi belum terlalu mahir mengendarai mobil, wanita itu lebih senang bepergian memakai sepeda motor.
"Kak," panggil Indhi tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Apa?"
"Apa kita nggak pindah rumah aja?" tanya Indhi, wanita itu melirik sekilas ke arah suaminya.
"Kenapa tiba-tiba mau pindah?" Ega menoleh dan menunggu jawaban sang istri.
"Sejak awal kan aku udah minta buat tinggal sendiri, tapi kakak nggak mau!"
"Terus sekarang kenapa minta pindah lagi?" tanya Ega penasaran.
"Aku malu sama ibu. Kalau di rumah kita sendiri kan kita bebaa ngapain aja," jawab Indhi mengutarakan isi kepalanya.
"Melakukan apa saja? Misalnya bercinta di dapur atau di ruang tamu?" jawab Ega sambil tersenyum mesyum.
"Bukan begitu. Dasar mesyumm!" elak Indhi meski sebenarnya iapun memiliki pemikiran begitu.
"Sumpah demi apapun, sejak kapan kakak mesyumm begini?" Indhi hanya merasa heran dengan sisi lain dari kakaknya yang baru ia ketahui semenjak mereka menikah.
"Sejak menikah," jawab Ega enteng.
Obrolan panjang nan mesyum menemani perjalanan mereka sampai keduanya tiba di Rumah Sakit. Mereka keluar dari mobil dan masuk ke dalam Rumah Sakit bersamaan, rasanya Indhi tak perlu lagi menutupi pernikahan mereka, toh gosip tentang mereka memang sudah tersebar seantero Rumah Sakit, jadi kali ini Indhi membiarkan orang-orang tau jika dia memang telah menikahi kakaknya.
Kedatangan mereka tentu saja menarik perhatian beberapa perawat dan dokter yang juga baru berangkat kerja, apalagi saat Ega mengantarkan Indhi ke ruangannya, hal tersebut membuat heboh Rumah Sakit.
"Tuh kan bener mereka udah nikah, berarti bukan cuma gosip," ucap salah satu perawat yang melihat mereka datang bersamaan.
"Eh bukannya mereka itu saudara ya?" tanya perawat yang lain.
"Bukan saudara kandung."
"Setau aku Dokter Indhi kan mau nikah sama Dokter Ilham, terus kenapa malah nikah sama Dokter Kevin?"
"Kepo," sahut sebuah suara yang membuat para perawat itu mendadak bungkam dan menunduk takut.
"Dokter Aditya," sapa semua perawat yang sedang bergosip itu secara bersamaan.
"Jam kerja sebentar lagi di mulai, kenapa kalian malah sibuk ngegosip?" sindir Dokter Aditya.
"Maaf dokter, kami hanya penasaran saja sama Dotker Indhi dan Dokter Kevin," jawab salah satu perawat senior, ia begitu takut terhadap Dokter Aditya karena dokter tampan berwajah oppa-oppa korea itu merupakan anak pemilik Rumah Sakit tempat mereka bekerja.
Dokter Aditya menarik nafas panjang, pria itu menatap satu persatu perawat yang sedang menunduk itu. "Mereka bukan saudara kandung dan benar kalau mereka sudah menikah. Puas kan? Sebarkan berita ini kepada teman-teman kalian agar tidak bergosip lagi. Mengerti?"
"Mengerti dok." sahut para perawat bersamaan.
"Ya sudah, bubar dan kembali bekerja!"
Para perawat itu segera membubarkan diri dan kembali ke ruangan mereka masing-masing, sementara Dokter Aditya nampak begitu bangga karena menjadi pahlawan untuk sahabatnya, pria itu menyugar rambutnya ke belakang sambil bergumam. "Kau harus berterima kasih padaku Vin," gumamnya sambil tersenyum penuh bangga.
"Siapa yang harus berterima kasih dok?" tanya Dita yang kebetulan lewat dan melihat Dokter Aditya sedang senyum-senyum sendiri.
Dokter Aditya menoleh dan ekspresi wajahnya langsung berubah, senyumnya hilang berganti wajah kesal saat melihat Dita. "Bukan urusan anda nona perawat." jawabnya dengan nada menyebalkan.
"Dasar dokter aneh," desis Dita, namun rupanya di dengar oleh dokter tampan itu.
"Kau menyebutku apa tadi? Aku aneh?" Dokter Aditya menunjuk wajahnya sendiri. "Yang aneh itu kamu, dasar perawat abal-abal yang tidak tau cara merawat kesehatan sendiri," sindir Dokter Aditya, semenjak insiden minum es teh setelah makan dokter itu selalu mengingat Dita sebagai perawat abal-abal.
"Apa? Perawat abal-abal?" Jangan suka menilai seseorang sesuka anda ya dokter," jawab Dita tak terima di sebut perawat abal-abal. "Dasar dokter sok keren," ucap Dita lagi lalu meninggalkan Dokter Aditya yang masih di tempat.
"Aku memang keren, dasar perawat abal-abal," teriak dokter itu kesal. "Astaga, sial sekali yang akan menjadi suami perawat abal-abal itu."
BERSAMBUNG...-