
"Arum kau," pekik Dion tertahan, pria itu mencoba mengatur nafasnya yang sempat terhenti.
Arum pun menoleh saat mendengar gumaman suaminya, saat ia berbalik dan menampakkan tubuh bagian depannya, saat itu juga Dion kembali tak bernafas.
"Kak, kamu kenapa?" tanya Arum saat menyadari suaminya tak bernafas.
Huh..hah...
Dengan sekuat tenanga Dion mengembalikan kesadarannya, nafasnya memburu karena sempat menahan nafas untuk beberapa saat.
"Kenapa kamu memakai baju seperti itu?" bukannya menjawab pertanyaan istrinya, pria itu malah balik bertanya.
"Aku..." jawab Arum ragu-ragu.
"Aku tau. Tunggu di sana dan jangan bergerak," Dion lalu menutup laptopnya dan berjalan mendekati Arum.
"Kamu sangat cantik," puji Dion dengan tatapan penuh damba. Tak butuh waktu lama, pria itu segera menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke atas tempat tidur.
"Bolehkah?" tanya Dion memastikan, ia takut akan berakhir sakit kepala karena menahan hasrat.
"Hem," Arum bergumam seraya menganggukan kepalanya. Dan saat itu juga Dion segera mencium bibirnya dengan lembut. Arum mengalungkan tangannya di leher Dion, gadis itu pun membalas ciuman suaminya.
"Aku akan melakukannya dengan pelan. Tahan sebentar saja," ucap Dion setelah keduanya sama-sama polos dan dalam posisi siap menyatu.
Perlahan Dion mulai mendorong cacing alaskanya, percobaan demi percobaan ia lalui demi bisa masuk ke dalam goa merasakan nikmat dunia.
Pekikan panjang yang keluar dari mulut Arum menandakan Dion telah berhasil membobol goa milik istrinya, meski Arum sempat menangis namun nafsu yang sudah memuncak membuat Arum menahan rasa sakit yang kemudian berubah menjadi sebuah kenikmatan.
Lima belas menit berlalu, Dion mengerang di atas tubuh Arum, pria itu lalu mengecup bibir Arum berulang kali sebelum ambruk di sebelah tubuh istrinya. "Terima kasih dear," ucap Dion seraya mencium punggung tangan istrinya. "Maaf ya, pasti sakit," imbuhnya cemas, namun ia tak menyesali perbuatannya.
"Seharusnya aku yang minta maaf kak. Maaf karena semalam aku meninggalkan kakak," balas Arum penuh sesal, namun kini ia merasa tenang karena sudah memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri.
"It's okay. Aku tau semalam kamu hanya takut."
Dion lalu memeluk tubub istrinya, mereka akhirnya melanjutkan tidur mereka dalam posisi tanpa busana. Sepertinya setelah bangun nanti, Dion tidak perlu bingung mau melakukan apa karena ia sudah mempunyai aktivitas favorit.
Kembali ke Rumah Sakit tempat Indhi di rawat. Saat sedang menemani istrinya, tiba-tiba Ega mendapatkan telefon jika ada operasi darurat. Sebagai seorang dokter, tentu saja ia harus menjalankan kewajibannya membantu pasien, namun sebagai seorang suami Ega tidak tega meninggalkan Indhi sendirian.
"Aku baik-baik saja kak. Kakak harus pergi sekarang, pasien kakak membutuhkan pertolongan kakak. Kalau kakak khawatir, kakak bisa telefon ibu agar ibu ke sini," ucap Indhi bijak, ia kembali tersenyum demi meyakinkan suaminya yang sedikit keras kepala.
"Aku akan menghubungi ibu. Tapi janji, temui Dokter Nanda setelah aku operasi," jawab Ega yang terdengar seperti perintah, mereka memang berniat menemui Dokter Nanda untuk melakukan USG. Mengingat kehamilan pertama Indhi yang keguguran, Ega tidak ingin melakukan kesalahan lagi dengan membiarkan Indhi melakukan USG seorang diri.
"Iya kak. Aku akan menunggu. Sudah sana cepat," terpaksa Indhi mengusir suaminya, ia tau jika Ega tidak akan bersikap profesional jika itu menyangkut dirinya
"Semoga saja ayahmu tidak terlalu posesif kepada mama," ucap Indhi seraya mengusap perutnya yang masih datar. "Sehat-sehat di dalam sana nak."
Tak lama, bu Tika tiba di Rumah Sakit dan segera menemui Indhi di ruangannya. Wanita itu segera memeluk putrinya yang masih terbaring di atas hospital bed.
"Apa kamu masih muntah-muntah?" tanya bu Tika setelah mengurai pelukannya.
"Udah enggak bu. Indhi muntah kalau mencium bau tertentu."
"Syukurlah. Lebih baik hindari bau yang bisa bikin kamu mual," ucap bu Tika memberi saran.
"Masalahnya aku mual saat mencium parfum kakak," lirih Indhi namun masih bisa di dengar oleh bu Tika.
"Suruh saja suamimu ganti parfum!"
Keduanya lalu tertawa bersama, bu Tika sangat bahagia mendengar berita kehamilan putrinya. Dalam hati ia terus berdoa, semoga Tuhan tidak memberikan luka pada hidup putrinya lagi. Semoga semua air mata yang keluar dari mata Indhi bisa menebus semua kebahagiaan hingga masa tuanya.
"Gini nih kalau punya suami dokter," sindir bu Tika sambil tersenyum.
"Udah kebiasaan bu," sahut Ega membela diri.
"Kamu sudah makan?" Ega beralih pada istrinya.
"Sudah. Di suapin ibu. Sudah makan obat dan vitamin juga," Indhi memberikan laporan lengkap agar suaminya tenang.
"Gadis baik," ucap Ega, ia lalu mengecup kening istrinya penuh cinta, ia bahkan tak memperdulikan kehadiran ibu mereka. "Dokter Nanda sudah menunggu, ayo kita kesana sekarang."
"Iya kak."
Ega keluar dari ruangan Indhi, tak lama setelah itu ia kembali masuk ke dalam ruangan tersebut dengan mendorong kursi roda. Sebelumnya ia juga sudah meminta izin pada dokter yang merawat Indhi.
"Jangan turun sendiri, aku akan menggendongmu!" seru Ega dengan panik saat melihat Indhi akan turun dari tempat tidur.
"Aku bisa sendiri kak," ujar Indhi.
"No. Aku akan membantumu turun!" Tidak bisa di bantah, itulah yang terjadi jika berkaitan dengan Indhi, Ega akan menjadi pria setengah gila jika berkaitan dengan istrinya. Cinta benar-benar membuat orang kehilangan kewarasan.
Tak ingin berdebat dengan suaminya, Indhi memilih mematuhi perkataan Ega. Kini Indhi sudah duduk di kursi roda, Ega lalu mendorongnya menuju ruangan Dokter Nanda. Tak lupa bu Tika juga ikut di belakang mereka.
"Hallo Ndi," sapa Dokter Nanda dengan ramah. "Langsung naik aja ya," titahnya dan segera di angguki oleh Indhi.
Lagi dan lagi, Ega menggendong tubuh istrinya dan membaringkannya di atas tempat tidur. Dokter Nanda yang menyaksikan sikap Ega hanya bisa tersenyum.
Dokter Nanda lalu menyibak baju pasien yang di kenakan Indhi, setelah mengoleskan gel, Dokter Nanda mulai menempelkan transducer di perut Indhi.
"Kapan terakhir menstruasi Ndi," tanya Dokter Nanda.
"Aku belum menstruasi Nan. Setelah Kuret aku pendarahan selama seminggu, sampai sekarang belum datang bulan lagi," jawab Indhi apa adanya.
"Oh, kemungkinan setelah pendarahan selesai kamu langsung menstruasi. Jadi saat kalian kembali berhubungan kemungkinan itu di saat masa suburmu."
"Tidak bahaya kan dok?" sela Ega dengan raut khwatri.
"Aku akan memeriksanya untuk memastikan."
Dokter Nanda lalu menggerakan transducer tersebut di atas perut Indhi. "Oh waow," ucap Dokter Nanda setelah melihat ke arah layar monitor.
"Ada apa dok?" tanya Ega dan Indhi bersamaan, wajah kedua pasutri itu sama sama menegang.
"Apa yang anda lihat di sini dok?" tanya Dokter Nanda pada Ega seraya menunjuk layar monitor.
Setelah mengamati dengan cermat, akhirnya Ega menemukan sesuatu yang membuatnya tak percaya. "Ada dua titik hitam, apa artinya Indhi hamil kembar?" tebak Ega dengan was was.
"Ya. Betul sekali. Selamat ya Ndi, bayimu kembar. Usianya sekarang empat minggu. Karena ada riwayat keguguran jadi kamu harus ekstra hati-hati, aku juga akan meresepkan penguat kandungan."
"Bu, kembar bu," Ega memeluk ibunya dengan perasaan masih tak percaya.
"Selamat nak, kamu akan menjadi seorang ayah," ucap bu Tika, wanita itu juga ikut merasakan kebahagiaan anak-anaknya.
Ega melepaskan pelukannya, pria itu lalu beralih pada Indhi dan segera memeluknya. "Terima kasih sayang. Aku janji akan menjaga kalian sebaik mungkin. Dan demi kesehatan kalian, aku mau kamu cuti sampai bayi kita lahir!"
"Apa?"
BERSAMBUNG...